Kontemplasi

Kesadaran palsu

Saya bernyanyi dan menyadari bebunyian yang keluar bak dengungan lebah walau kadang-kadang nada yang dihasilkan meleset jauh dari harapan. Saya bercermin dan melihat kebotakan dini hingga jidat semakin lebar, terbayang landasan pesawat terbang untuk mendarat. Saya membaca lowongan pekerjaan pembaca berita televisi dan pura-pura alpa tubuh yang berdiri tegak tidak cukup mumpuni mencapai hingga 170 cm.

Saya senang tertawa dan diam seketika ada yang mengingatkan prihal cabai yang terselip di sela geligi. Saya suka meninggi walau tahu begitulah cara terkini menambah percaya diri karena tubuh tak mau bertambah tinggi. Saya mulai ragu melanjutkan tulisan ini. Oh ya. Oh tidak. Oalah.

Saya pernah bercermin dengan penuh ketelanjangan, ingin melihat tubuh saya seutuhnya, berkontemplasi, merenungi diri sendiri dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan saya baru sadar cermin di kamar hanya berukuranan telapak tangan saja maka saya memutuskan menggenakan pakaian saya lagi dengan segera.

Minum teh hangat racikan sendiri di kala pagi adalah kebiasaan, dengan komposisi air panas, empat sendok gula lalu satu kemasan celup teh intiharummelati: sungguh terpuji. Sayang hasil jadinya di lidah selalu terasa pedih. Kadang terlalu manis, kadang terlalu hambar. Kadang terlalu panas, kadang berbuih-buih. Kualitas jauh tiarap jika dibandingkan dengan teh manis hangat warung sebelah yang sering saya beli.

Berenang, mengemudi sepeda motor, mobil hingga pesawat antariksa saya tak mampu. Ini semacam siksaan tersendiri. Untuk itu saya lebih memilih jalan kaki di darat, laut dan udara jikalau ada yang sudi.

Wajah kita tak pernah benar-benar simetris. Bulu mata tak pernah benar-benar sama lentiknya di kiri dengan di kanan. Daun telinga kiri tak selebar daun telinga kanan. Lubang hidung sebelah kanan selalu lebih kecil dibanding lubang sebelah kiri. Mata kiri dan kanan tak persis kekuatan sorotnya. Kumis, jambang hingga jenggot bagian kanan entah mengapa selalu terasa tumbuh lebih lebat.

Sampai suatu saat seorang seniman membandingkan foto wajah manusia tampak depan, samping kanan, samping kiri hingga belakang. Setiap tampilan mencitrakan rona yang berbeda-beda dari ekspresi yang sama. Tampilan dari depan wajah terlihat tak simetris. Tampilan dari samping kanan terlihat lembut, tenang, dan rupawan. Tampilan dari samping kiri terlihat angkuh, sedih, dan minta dikasihani. Tampilan belakang terlihat rambut.

Dari wajah kita saja membuktikan ini keunikan dan keunggulan dari setiap segala sesuatu yang dianggap kekurangan yang sering kali dikeluhkan oleh manusia.

Saya tak pandai bernyanyi maka saya bisa tertawa mendengar suara sendiri. Saya tak perlu diam lalu malu prihal cabai yang terselip di sela geligi karena negeri ini begitu suburnya hingga tak perlu menanam bibit cabai di tanah cukup di sela gigi.

Teh manis hangat racikan sendiri boleh jadi celaka rasanya untuk mengawali hari di setiap pagi. Namun bukankah pagi sudah begitu indahnya dan paling penting, astaga, warung sebelah belum gulung tikar dan masih berjualan teh manis hangat terpujinya.

Badan boleh tak tinggi-tinggi asal masih ada kesempatan lebar-lebar menikahi perempuan berbudi elok, berwajah teduh, dan bertubuh tinggi. Oh, madu!

*****

Hidup begitu lucu, penuh lawakan di sana dan di sini, terutama manusianya, termasuk saya tentunya. Berharap pada kesempurnaan walau tahu ia masih manusia, hidup di dunia pula, dunia yang dianggap tempat yang harus sempurna untuk ditinggali. Manusia sempurna pada ketidaksempurnaannya. Dan dunia tak pernah sempurna karena terus ditinggali manusia. Manusia dan dunia ini benar-benar ironi.

Untuk itu kiranya Tuhan tak sedang main-main menciptakan kata syukur, ikhlas, dan sabar. Boleh jadi semacam pemecahan misteri masih bertahannya 3 kata ini di Kamus Besar Bahasa Indonesia sampai sekarang: tiga serangkai yang mampu menenangkan manusia-manusia yang menuntut serta terobsesi pada kesempurnaan dirinya dan dunia yang ditinggalinya. Salam takzim untuk syukur, ikhlas dan sabar. Salam kenal dari kami, manusia penghuni bumi.

Dan, dan, dan saya merasa sampai akhir tulisan ini tak terasa istimewa. Entah dimana kurangnya. Entah dimana salahnya. Saya menyerah. Untuk itu saya sudahi saja. Wassalam.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

2 thoughts on “Kesadaran palsu

  1. Teringat perkataan abang lu suatu hari di suatu tempat, walau dia juga mengutip—entah siapa, mungkin salah satu yang pernah sekali waktu mengutuk ketidaksempurnaan dirinya juga, sama seperti yang lain—bahwa, “yang membuat manusia unik adalah ketidaksempurnaannya. Karna kalau dia sempurna, dia telah menyamakan Tuhan dalam kontinum keberadaan-Nya” saya lupa redaksionalnya, hehehe, tapi kiranya demikian.

    Posted by bengkelbudaya | 29 Oktober 2011, 8:06 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: