Marwah Bangsa Melayu

Penting

Bagi kami bangsa Melayu setidaknya ada tiga hal penting dan dipublikasikan ke khalayak dalam bentuk kenduri: menikah, melahirkan lalu menginggal dunia. Mengapa hari jadi tidak termasuk? Ini mudah karena hari jadi bukan hal yang penting karena selalu berulang tiap tahun. Tak terlalu signifikan jua untuk dirayakan, tiup lilin, potong kue, cipika-cepiki lalu bernyanyi. Ah, jenuh sekali rasanya itu harus diadakan tiap tahun. Hari jadi signifikan untuk momen kontemplasi, merenung-renung, bentuk yang sangat personal bukan (sekali lagi) untuk dirayakan. Begitu kira-kira adanya.

Saya pribadi ingin melentur sedikit dengan menambahkan hal penting lainnya sebelum jenjang pernikahan, melahirkan lalu meninggal dunia. Apa itu. Simak baik-baik kawan.

 

Semua memiliki musabab

Cerita ini berawal ketika saya dahulu lulus SD sebelum hari H dimana seorang sejawat begitu bangganya mempertontonkan kemaluannya. Ia berujar sambil memegang itunya, “Ini punyaku sudah sunat. Besarkan. Punya kau mana?” Sampai saat ini saya tak habis pikir kok bisa sejawat saya itu dengan entengnya mempertontonkan kemaluannya. Apakah ini cikal bakal eksibisionis yang sudah terpatri sejak kanak-kanak. Menakutkan.

Sejawat saya ini senang bercerita dengan pongah prosesi sunatnya. Ia pasti memulainya dengan deskripsi dengan agak berlebihan bahwa ketika sunat ia memakai sarung, si mantri akan menyingkap sarungnya lalu itunya dipegang-pegang mantri, bolak balik sampai matang, lalu disuntik mengeliling sampai kebas, setelah itu baru dipotong, crot. Darah bercucuran, kapas dan  bau alkohol berhamburan, lalu sang mantri menjahit kamaluannya hingga rapi jali. Setelah selesai kemaluannya ditiriskan. Disini ada kerusakan cara berpikir saya setelah mendengar ia bercerita:

Pertama, saya tertawa membayangkan berapa kemaluan yang sudah dipegang-pegang oleh mantri bersangkutan. Pekerjaan yang agak mengharukan ya memegang-megang kemaluan anak orang. Dan, astaga keperjakan kita kandas di tangan mantri sunat.

Kedua, setelah besar nanti si bocah tak bisa macam-macam dengan si mantri karena kartu terpenting sudah dipegang, bentuk dan spesifikasi anu si bocah. Jika berulah tinggal disebarluaskan dan akan jadi pergunjingan sejagat raya. Tapi ini hanya berlaku untuk yang berukuran mini saja.

Ketiga, mengapa momen sunatnya selalu dia ceritakan. Agaknya ada alasan-alasan yang filosofis. Saya tak mengerti saat itu karena belum menjalan prosesi sunat.

Selesai dengan sejawat yang satu ini, sejawat yang lain bercerita bahwa ia dahulu sunat harus dijahit ulang. Karena saat bekas jahitanya belum kering benar, suatu saat temannya bercerita yang mengandung unsur-unsur birahi sehingga ia ereksi. Saking kuatnya ereksi sejawat saya ini, simpul jahitannya terburai. Ngeri bercampur komedi. Ha ha ha

Sejawat yang lain tak mau kalah. Ia bercerita dahulu era buyutnya masih muda, disunat bukan dengan gunting ataupun pisau tapi dengan bambu. Bambu dengan kualitas terbaik dibelah lalu diasah hingga tajam. Anu bersangkutan yang akan dieksekusi direndam dengan air dingin sehari semalam biar lebih lunak dan mati rasa. Setelah mati rasa anu dijepit dengan bambu sedemikian rupa, si empunya anu dipegang agar tak melarikan diri. Disinilah fungsi bambu, memotong kulit anu dengan cermat dan menakjubkan. Ces.

Setelah beres, anu yang telah dieksekusi akan dibalut dengan sarang laba-laba bukan dengan kapas, karena kapas belum dikenal masa itu. Esok harinya si empunya anu sudah bisa lari-lari keliling kecamatan. Menakjubkan.

**

Ketika hari itu tiba

Dan hari H ketika saya sunat tiba. Saat itu libur panjang kenaikan kelas 6 SD. Sunat begitu semarak diadakan, saya diarak bak pengantin keliling rumah dengan mengenakan baju adat melayu terbaik. Selaiknya raja, di pelaminan saya dikipasi dayang-dayang. Ah surga. Meminta ini itu, semua terpenuhi dengan segera.

Seratus persen tak ada hal-hal yang menyeramkan dalam citra sunat di kepala saya saat itu sampai mantri menyuruh saya telentang dan mulai memegang anu saya. Malapetaka itu di mulai:

“Ya, jangan tegang ananda. Coba rileks…” Nasehat pak mantri sambil mengamati fisiologi dan tektur kulit sesuatu yang sedang dipegangnya.

“Persetan, jangan pegang anu saya sembarangan!” Jerit hati seorang lajang.

Tuhan, ini jelas perkosaan paling nyata yang pernah saya alami. Saya ingin kabur, saya ingin berteriak namun malu membuat saya diam membisu. Saya pandangan wajah pak mantri, marah. Ia tersenyum ramah. Saya pandangi wajah ayahanda, minta tolong. Ia tersenyum tenang. Saya pandangi wajah uak saya, memelas. ia hanya diam. Saya pandangi wajah ibunda, ibunda oh ibunda dimanakah kau berada? dan ibunda tak ada disekitar saya. Absen, karena ia takut darah. Hingga saya hanya bisa memandang anu saya dengan belas kasihan yang sangat nyata.

Akhirnya saya pasrah memperhatikan pak mantri mempreteli, membius, memotong lalu menjahit hingga membungkusnya dengan perban satu jam kurang lebih.

**

Perenungan panjang

Kau tahu kawan sunat itu perih pada bius pertama, ketika jarum suntik menusuk kulit kemaluanmu, tusukan kedua, ketiga, keempat hingga kelima tak lagi berasa. Dan perih itu setara dengan gabungan patah hari pertama, kedua, ketiga, keempat hingga kelima dengan sempurna. Saya harus katakan melihat jarum suntik membuat anu saya tiba-tiba terasa sangat perih. Karena teringat perihnya suntikan pertama sewaktu sunat belasan tahun silam.

Derita sunat tidak berakhir di situ, setelah efek bius lenyap. Maka rasa sakit akan datang menyeruak di sela selangkangan dan para tetua akan sibuk mengipas-ngipasi selangkangan kita walau tahu itu tak mengubah apa-apa. Dari sini kaum pria akan belajar memahami, menghargai, menghormati kaum hawa. Karena saat proses melahirkan deritanya berpuluh-puluh kali lipat rasanya.

Saat tidur kaki akan diikat pada bambu yang berjarak sejengkal di sela tulang kering agar posisi tubuh tetap telentang, stabil.  Karena posisi tengkurap saat tidur bukan posisi yang terpuji saya kira untuk anu yang sedang terluka. Saya melihat dengan mata yang mengaga dan merenungi begitu banyak manusia yang terjebak dengan euforia kebebasan sebebas-bebasasya sampai akhirnya kebebasan ini merusak diri sendiri, orang-orang di sekelilinginya, bangsa, negara hingga dunia. Persis anu yang baru disunat, rapuh, sensitif dan mudah terluka. Maka bambu adalah perangkat aturan untuk mengatur kebebasan yang dikehendaki terlebih menjaga keseimbangan dunia yang semakin ringkih ini.

Perhatikan saudara-saudara, saat buang air kecil pertama, air seni yang keluar akan bercabang tiga. Kadang bercabang empat, utara, selatan, timur, barat daya takkan tentu arah. Ini mungkin perjalanan hidup manusia yang bercabang-cabang hingga akhirnya akan berakhir jua seperti air seni yang turun ke bumi terkubur di dalamnya. Mengendap. Mati.

Maka sunat bukan bentuk seremonial belaka karena ini menyangkut proses mendewasakan diri: mengenal dan berdamai dengan rasa sakit yang terpatri, mengenal dunia melalui rupa diri, mengenal tingkah laku kelamin sendiri dan mengenal sensasi yang timbul dari tangan-tangan durjana bapak mantri.

 

Riak air karena perahu.

Perahu bercorak tak lagi bersih.

Dari saya ini dahulu.

Mohon maaf dan terima kasih.

 

Catatan: Dalam pernikahan biasanya dibuat kenduri yang mengundang kerabat, handai taulan serta tetangga. Makanan disajikan dalam 5- 7 porsi orang di dalam nampan. Jadilah terbentuk belasan sampai puluhan lingkaran kecil, dimana setiap lingkaran berjumlah 5 -7 orang dalam menikmati hidangan dalam kenduri ini. 

Sedang ketika seorang anak lahir setelah ditimbang-timbang, dikira-kira nama apa yang pantas untuk ditasbihkan pada si bayi setaleh itu akan diadakan kenduri dengan penyembelihan kambing (bagi yang mampu) sebagai bentuk rasa syukur berlanjutnya keturunan.  Dalam islam ini disebut aqiqah.

Jangan bayangkan kenduri kematian ini sebagai bentuk kesenangan, tidak. Kenduri ini berbentuk datangnya sanak ataupun tetangga sebagai wujud belasungkawa, menabah-nabahkan yang ditinggalkan almarhum. Hal unik adalah setiap yang meninggal akan diumumkan di pengeras suara di langgar ataupun masjid terdekat sampai pelosok-pelosok kampung tahu.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

2 thoughts on “Penting

  1. Gw baca ini antara ketawa dan tergidik geli. Najooong filosofi lu ampe pake itu apa anu apa ya ampun itu #teeeet waktu abis!
    Stidaknya gw belajar ntar anak gw gimana dsunat. Gitu ya #kalemdanlugu

    Posted by Alfi | 7 November 2011, 6:10 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: