Cengengesan Banalisme

Banalisme SMA

Kadang saya merasa cemburu dengan lulusan SMK. Lulusan SMK setidaknya memiliki kemampuan yang mempuni dalam mengotak-atik mesin, listrik ataupun urusan jahit menjahit, mengolah makanan serta perhotelan. Sedang saya yang lulusan SMA jurusan IPA ini minim kemampuan, pemahaman matematika jongkok, kimia jeblok, fisika tiarap, biologi melarat. Contoh ideal untuk lulusan SMA yang masuk golongan lulusan tidak terpuji.

Saya mengenyam SMAN di ibukota salah satu kabupaten di Sumatera Utara, sekolah terbaik di kota itu. Ya terbaik karena hanya ada 2 SMAN di kota itu, dan kata terbaik adalah klaim sepihak dari sekolah saya. Dan sekolah satunya lagi juga mengklaim mereka adalah SMAN terbaik di kota itu. Agar adil saya ulangi sekali lagi:

Saya sekolah di SMAN ibukota salah satu kabupaten di Sumatera Utara, salah satu sekolah terbaik di kota itu. Sekolah ini menganut falsafah keseragaman adalah mutlak diperlukan. Senin selasa, rabu, kamis wajib menggunakan seragam bercorak putih abu-abu. Jum’at, sabtu memakai stelan pramuka dengan gancu merah putih. Jenis sepatu setiap siswa harus sama dengan spesifikasi bentuk dan warna yang harus sama pula.

Setiap hari senin, rabu, dan jum’at diadakan apel pagi guna mendengar petuah bijak dan bestari dari guru ataupun kepala sekolah. Setelah apel, semua siswa mengular, berjajar dengan melewati barisan guru bagian ketertiban untuk memeriksa kelengkapan atribut di pakaian, mulai dari nama, simbol OSIS, nama sekolah sampai urusan kaus kaki dan karapian siswa.

Razia atribut yang ada di seragam bukan masalah berat bagi para siswa berjenis kelamin pria, paling-paling hukuman yang diberikan adalah diperingatkan, sepatu yang beda warna diamankan atau paling muram kerja bakti mencabuti rumput yang mulai meninggi.

Namun, hukuman paling berat dan naas adalah rambut digunting di tempat dengan seporadis oleh guru bagian ketertiban karena dianggap sudah gondrong. Ini adalah derita paling nyata bagi para siswa berjenis kelamin pria ketika melihat poni lemparnya hilang sebelah ataupun kepala terlihat pitak setengah. Maka tindakan yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi adalah tidak ikut apel pagi dan bersembunyi di toilet sekolah, dan jika ketahuan akibatnya bisa runyam. Ini perjudian hidup bagi kami, pria yang sekolah di SMAN. Karena penampilan adalah segala-galanya.

Penampilan adalah segala-galanya, tidak juga sepertinya. Saya sewaktu SMA berpenampilan boleh dibilang rapi. Baju tak pernah luput dimasukkan ke dalam celana, tali pinggang ayahanda selalu terlihat menawan saat saya kenakan di celana abu-abu itu, kaus kaki ayahanda juga terasa pas di sepatu. Rambut selalu saya semir dengan minyak rambut pilihan ibunda, di sisir belah samping tapi tetap saja terlihat kriting, selalu tersenyum sumringah kepada rumput sekolah –saya punya kebiasaan berjalan sambil menundukkan kepala ketika itu, biar ada sesuatu yg jatuh dari tubuh tak luput dari pengawasan- ketika melangkahkan kaki menuju kelas setiap pagi. Saya selalu membayangkan ketika berangkat sekolah saya adalah seorang penyanyi dangdut yang bersiap masuk panggung untuk bernyanyi walau tahu saat itu tak ada yang akan mendengarkan dendangan saya.

Saya membagun citra diri sebagai siswa SMA baik-baik yang tak pernah berulah, tidak merokok, tidak main wanita dan bukan pengguna narkoba. Alasannya karena karena karena saya memang anak SMA yang baik-baik.

*****

Saya ingin sekali berprestasi kala SMA seperti sulung yang selalu juara umum di sekolah. Tapi rasa-rasanya ini seperti minum air raksa, susah untuk saya minum. Minum air raksa adalah tindakan yang konyol bukan? Sejauh yang saya perhatikan saya sulit menangkap pelajaran setiap harinya kecuali pelajaran bahasa Indonesia lalu bukannya rajin mengulang pelajaran saya malah sering melamun, berenung panjang dan konsekuensinya saya selalu menempati rangking ketiga dari bawah. Ha ha ha

Prestasi, seingat saya prestasi terbesar selama SMA adalah memenangkan hati seorang hawa. Halah.

Lainnya, bersama sejawat memenangkan kontes nasyid dan folksong sekabupaten yang diadakan sekolah saya, juara harapan dua dari 6 kontestan yang hadir ketika hari H. Coba tebak siapa yang meraih juara harapan 3, kalau saya tidak salah ingat anak Sekolah Dasar sebelah. Saya curiga dengan panitia yang mengadakan acara yang kebetulan dari sekolah saya juga, di daftar mata rantai acara hanya ada pengumuman juara satu, dua dan tiga tak pernah ada juara harapan satu, dua, dan tiga. Ehmm…

Di kelompok nasyid ataupun folksong ini kami menamainya dengan titel Shiro Saki, awan putih dalam jepang. Namun saya selalu menyebutnya dengan Shiro Sakau. Sebab teringat awan kinton-nya Son Goku dalam film kartun Dragon Ball yang kadang-kadang sakau tak bisa dinaikkan sembarang orang.

Aduh, ini siapa sih fotografernya. Atraksi (wajah) gagah saya saat memukul tamborin tak tertangkap kamera, itu-itu di sebelah sejawat yg sedang main kendang. Sekadar info, dua gitaris itu sedang berdebat karena chord lagu-nya salah. Astaga, vokalis yang satunya lagi wajahnya goib 3/4. ha ha ha

Sejawat saya yang tergabung disini adalah kumpulan orang-orang berbakat, dan entah mengapa saya jadi ikutan terlihat berbakat walau diposisikan memegang tamborin, itu loh kincir-kincir yang sering dipukul waria. Atau biar terlihat keren, itu loh yang sering di pukul-pukul Ariel Peter Pan waktu bernyanyi.

Setelah menyabet juara harapan dua, kami dapat tawaran untuk tampil di acara sunatan, kawinan, dan hari–hari besar keagamaan. Belakangan kami tahu guru agama kamilah yang mempromosikan kami pada teman-temannya, hingga kami mendapat honor yang lumayan untuk ditabung guna membeli pesawat antariksa. Terima kasih pak.🙂

Pada acara perpisahan kami berniat menampilkan sesuatu yang tak jamak. Karena acara perpisahan selalu menampilkan band sekolah dan band sekolah. Lagu yang sedang tren kala dimainkan saat itu adalah mimpi yang sempurna-nya Peter Pan, terdengar familiar ya. Yang paling memukau mungkin adalah drama ataupun lawakan. Maka kami memikirkan akan menampilkan apa, dan akhirnya kita sepakat untuk menampilkan acapella dengan gerakan serasi berjamaah ala boyband yang sedang tren sekarang.

Lagu yang kami pilih adalah lagu AbeGe-nya Justice Voice. Saya mendapatkan jatah untuk bersuara kencet-kencet-kencet sepanjang lagu. Dan percayalah tugas saya tidak mudah dan cukup menguras suara bahkan terus terang membuat rahang saya ini bergeser sekian milimeter. Tak percaya? Silakan dengar lagu itu, klik link berikut: linkberikut

Demi Tuhan, ketika tampil di acara perpisahan itu, seumur-umur jagat raya baru kali ini saya merasa sangat ganteng dan begitu bersinarnya. Sampai-sampai cahaya lilin kala  mati lampu terpaksa harus sujud di bawah telapak kaki saya. Ho ho ho

*****

Masa SMA, masa yang paling indah kata orang dan tidak bagi saya. Karena masa yang paling indah bukan masa lalu ataupun masa yang akan datang akan tetapi masa sekarang, hari ini, detik ini, ketika anda membaca tulisan ini sampai kalimat ini. Sekian dan terima kasih. Wassalam.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

9 thoughts on “Banalisme SMA

  1. Jadi ingin pinjam mesin waktu Doraemon dan melihat penampilan ente saat SMA. Jaman-jaman SMA gw baru dapet hidayah jadi lumayan seneng dengerin lagu2 nasyid (sekarang kembali ke Arashi).

    Ahhhh jadi pengen ke Medan. Pengen duren. Pengen jalan-jalan.

    Posted by nanien | 9 November 2011, 6:07 AM
  2. Wah, bagi saya, masa paling indah ya masa kuliah.😀

    Posted by Asop | 10 November 2011, 1:39 PM
  3. “Prestasi, seingat saya prestasi terbesar selama SMA adalah memenangkan hati seorang hawa. Halah.” aseeeeeekkk :p

    Posted by ayu sartika | 14 November 2011, 5:34 PM
  4. siapakah perempuan malang itu yg kau menangkan hatinya boi?? makcik romlah kah? ehehe :p

    Posted by achmadjefpri | 11 Mei 2012, 3:52 PM

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Figuran « buruk rupa cermin dibelah - 30 Desember 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: