Pemantik

Sepeda motor

Kalau dipikir-pikir saya ini banyak tak bisanya daripada bisanya. Iya, betul. Banyak tak bisanya ini kadang-kadanga tak saya ambil pusing. Yang pusing malah orang-orang di sekitar saya. Mereka pusing karena itu saya ikut-ikutan pusing. Ais, pusing saya lama-lama jadinya.

Pada awalnya saya tak pernah ambil pusing tak bisa mengendarai sepeda motor secara baik. Namun lingkungan sosial kemasyarakatan berkehendak lain. Seorang lelaki sejati harus bisa mengendarai sepeda motor. Mengapa begitu, tanya saya. Karena lelaki harus bisa diandalkan ketika di situasi genting seperti ketika istri mau melahirkan, kondisi jalanan macet maka naik sepeda motor adalah pilihan, jawabnya. Berlebihan memang, saya belum punya istri ini.

Tapi sebentar dulu, bukankah ini secara tak langsung sebuah pembenaran fungsi seorang lelaki sudah selaiknya memboncengi kaum hawa. Lebih dalam lagi sebuah pembenaran bahwa seorang pria adalah pelindung kaum hawa, lebih lebih dalam lagi sebuah kesadaran palsu bahwa pria harus superior dibanding kaum hawa, lebih lebih lebih dalam lagi sebuah pengakuan bahwa pria adalah ojek bagi kaum hawa. Oh, iya.

Baik, sebetulnya fungsi seorang lelaki sudah selaiknya memboncengi kaum hawa itu menambah beban lelaki saja. Kenapa fungsinya tak diubah saja, perempuan yang memboncengi lelaki atau naik sepeda motor sendiri atau ya ampun Tuhan menciptakan tukang ojek itu ada gunanyakan ya.

Begini, sebetulnya saya sering diboncengi seorang karib berjenis kelamin wanita (info trivial, karib dari golongan hawa saya itu bisa dihitung jari). Dia sering mengeluh saat satu organisasi dulu, mengapa kami harus jalan kaki untuk membeli keperluan tertentu sedang dia punya sepeda motor. Saya bilang, saya tak bisa mengendarai sepeda motor, maka jalan kaki saja atau kalau mau naik sepeda motor maka saya yang diboncengi. Hening. Akhirnya kita naik sepeda motor dan saya yang diboncengi. Dia selalu menggumam bahwa saya lelaki yang tak bisa diandalkan, saya hanya tertawa.

Di dunia patriaki semuanya berpusat pada lelaki. Kondisi ini menjadi hal menekan, mau tidak mau memaksa pembentukan diri lelaki bagaimana harus memandang dunia. Semua harus lelaki. Dunia seolah-olah berpusat pada kelamin jantan. Lelaki oh lelaki.

Di satu sisi kesetaraan gender itu menyenangkan, sangat menyenangkan malah. Isu kesetaraan gender punya kelenturan tersendiri. Lelaki bisa jadi penumpang tambahan untuk memperjuangkan haknya guna melempar jauh-jauh beban yang tak seharusnya ia pikul:

Pertama, lelaki harus menjaga perempuan. Duh, (dengan segala hormat yang mendalam) mengapa perempuan tidak harus menjaga dirinya sendiri saja. Bukankah setiap individu punya kewajiban untuk bisa berdiri tegak di kakinya sendiri. Relasi gender adalah kesepakatan. Bukan kepastian apalagi ketetapan. Lebih-lebih relasi paling mutlak bukan relasi gender tapi relasi dalam tataran paling esensial: manusia. Saling melindungi, saling melengkapi, saling menasehati, hingga saling-saling lainnya. Respirok. Timbal-balik. Jadi mengapa harus lelaki?

Kedua, dalam kehidupan rumah tangga. Siapa itu yang pertama kali merasa punya kuasa menetapkan pembagian kerja bahwa ayah harus bekerja di luar rumah sedang ibu harus di rumah mengasuh anak dan mengurus prihal rumah tangga. Perlu dicatat, bekerja di ruang publik ataupun mengurus prihal rumah tangga itu sama-sama mulia, hanya saja sebuah ketetapan mutlak ayah harus di luar rumah dan ibu harus di dalam rumah ini yang saya gugat.

Mungkin sebagian kalangan menganggap ada ketimpangan dan pengekangan kebebasan memilih dari kaum hawa dalam pembagian tugas di rumah tangga dalam sistem sosial masyarakat kita. Pernyataan ini sebagian tepat dan sebagian lagi egois. Pembagian tugas di rumah tangga yang harus dan jadi pakem tadi, bukan hanya mengekang kaum hawa tapi juga kaum adam. Mari kita lihat:

Sistem patriarki, ayah hanya dianggap mesin penghasil uang. Ketika sesampainya di rumah seperti dungu prihal anak-anaknya, apalagi urusan dapur. Minim kuasa. Lebih ekstrem, ayah dianggap anak hanya suami ibunya yang pergi pagi pulang malam dan sabtu minggu duduk di teras rumah menyerumput kopi, membaca koran, memandang kosong jauh ke depan. Hampa. Mungkin hebat di luar, dungu ketika pulang kandang. Menyedihkan. Kita tak pernah benar-benar tahu jangan-jangan ia ingin mengasuh anak ataupun mengurus keperluan rumah tangga. Enggan berkarir di luar rumah. Siapa yang pernah bertanya?

Bukankah dalam tataran kehidupan rumah tangga, fungsi dan deskripsi kerja antara ayah dan ibu dibicarakan secara matang menurut keahliannya masing-masing dan berdasarkan kemauannya masing-masing. Contoh ekstrem lagi, ibu berkarir di luar rumah, ayah yang mengasuh anak dan mengurus keperluan rumah tangga. Masalah? Tidak, selama sudah sepakat untuk menghormati dan menghargai fungsinya masing-masing. Selanjutnya pertanyaan rumit yang perlu dijawab kiranya adalah bagaimana menjinakkan pandangan masyarakat, anak, orang tua, mertua, pak RT, ibu-ibu darmawanita, komunitas suami siap antar jaga, ojek, cendikiawan, alim ulama hingga presiden EsBeYe nantinya melihat situasi ini?

Ah, kehidupan rumah tangga memang pelik.

Kembali ke sepeda motor. Mengendarai sepeda motor pada hakikatnya adalah sebuah narasi besar bagaimana… Astaga! Orang di belakang saya sudah berteriak-teriak mau mengajari saya naik motor lagi hari ini. Ya, sudahalah. Cao.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

7 thoughts on “Sepeda motor

  1. Entah apapun itu..
    Menulis untuk menghibur lebih banyak atau setidaknya sama dengan jadwal umum untuk makan tiap hari adalah kewajiban kamu kak..πŸ™‚

    Ga usah belajar naik motor, belajar kendarain mobil aja, atau belajar naik mobil. Tinggal ke ujung gang, banyak angkot lewat kokπŸ˜€

    As always, thank you

    Posted by Krisna Puji Rahmayanti | 14 November 2011, 9:56 PM
  2. hahahaha, duh, gue jadi bingung mau komentar apa ama tulisan lu yang satu ini. Kompleks #azek

    Posted by bengkelbudayalfi | 15 November 2011, 10:31 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: