Marwah Bangsa Melayu

Drama hari raya

Setelah saya baca lagi, saya berpikir untuk memasukkan tulisan ini di blog. Sebelumnya tulisan ini terkungkung beberapa bulan yang silam dalam tumblr yang saya buat untuk lawakan sambil lewat. Saya baca berulang-ulang, entah mengapa ada nuansa satir disini. Hari raya. Hari raya yang selalu kita rayakan itu banyak sekali muatan paradosknya. Lucu, haru, miris, sedih, gembira, tawa. Maka selamat membaca, selamat menikmati, semoga kita kembali ke fitrah:

Menunda-nunda pengumuman hari raya adalah tindakan tercela. Ibarat orang yang ingin sekali buang air besar namun terikat di kursi dikelilingi ular berbisa pula.

Pemerintah kita memang tak pernah sensitif ya, dengan anak-anak kecil yang sudah tak sabaran memakai baju lebaran sambil terlena dengan ketupat yang dimamah. Kasihannya.

Lagipula pemerintah kita memang mencintai drama, dengan mengulur-ngulur pengumuman hari raya agar rakyat menunggu dengan resah dan gelisah.

Tenang saja jika unsur dalam pemerintah berdebat kapan hari raya, rakyat berdebat tentang ketupat di rumah siapa yang paling juara.

Bisa kau bayangkan kawan saat menteri agama mengumumkan hari raya, suasana hening, rakyat akan diam menyimak dengan mantap lalu bersuka ria.

Ah indahnya hidup di negeri penuh drama. Tak perlulah kiranya bemuram durja. Aku, Kau, Kita semua bukanlah durjana melainkan saudara. Alhamdulillah ya.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: