Kontemplasi

Manipulatif

Selama tinggal di pinggiran sebelah Jakarta, saya mengingat sudah kurang dari sepuluh kali dimanipulasi oleh manusia-manusia perayu rasa iba itu. Saya sudah belajar cara bicara seorang bapak yang mengaku duda, anaknya terkena kanker, dan butuh uang segera untuk biaya operasi. Reaksi paling masuk akal kala itu adalah saya terenyuh teringat orang tua di kampung. Sedih sekali, selanjutnya saya merogoh dompet mencoba membantu sebisanya. Perasaan saya waktu itu senang sekali bisa berbagi.

Jelang satu bulan kemudian seorang teman bercerita ia bertemu dengan bapak yang mengaku seorang tukang beca, becanya diamankan Satpol PP, istrinya koma karena syok dan anaknya terserang kanker ganas, butuh biaya berobat. Lalu teman saya (lagi-lagi) terenyuh dan tentunya merogoh kocek karena iba. Ia bercerita dengan gembira karena sudah bisa membantu si bapak yang mengaku seorang tukang beca, becanya diamankan satpol PP, istrinya koma karena syok dan anaknya terserang kanker ganas, butuh biaya berobat. Saya menganga. Harusnya si bapak bertemu teman saya dulu baru saya agar logika ceritanya berurutan.

Di lain waktu, saya belajar pada seorang gadis bagaimana cara menumpahkan air mata guna memperpendek jarak sosial. Sore itu di danau sebelah masjid di universitas tempat saya belajar, seorang gadis terduduk lalu berdiri dan menangis sejadi-jadinya di sudut danau yang sedang sepi-sepinya. Saya yang lewat penasaran dan mengingat beberapa adegan sinetron di televisi, tokoh utama putus cinta, patah hati lalu berniat bunuh diri.

Aih mati, saya langsung deg-degan membayangkan jika si gadis ini melompat ke danau lalu tenggelam dan keesokan harinya mengapung, tak lagi bernyawa. Saya sudah bersiap menyelamatkannya jika ia melompat. Di lain pihak saya seolah-olah lupa tak bisa berenang, seolah-olah lupa saya yang akan megap-megap, seolah-oleh lupa saya yang akan mati tenggelam nantinya.

Namun semua ekspektasi runtuh dengan cuma-cuma ketika ia menghambur di hadapan saya. Ia terisak dan bertanya pada saya apakah saya mahasiswa, saya jawab iya. Lalu saya berpikir mungkin ini sebab musabab kenapa kawan saya yang satu itu selalu membawa tisu di dalam tasnya: Jika ada yang menghambur, menangis di depanmu, kau bisa menawarinya tisu.

Gadis ini bercerita ia bernama Anu (nama disamarkan) seorang mahasiswa FE, jurusan manajemen angkatan 2007, anak rantau pula. Ia putus asa karena baru saja kecopetan dan seluruh uang untuk bayar kosannya yang harus dibayar hari itu raib. Sedihlah ia, menangislah ia di depan keheningan danau sebelah masjid universitas tempat saya belajar. Maka atas nama mahasiswa ia memohon kepada saya untuk meminjamkankan uang padanya guna membayar kosan. Saat itu juga di kepala saya berdenging sebuah lagu dangdut terkenal Gali Lobang Tutup Lobang-nya Haji Rhoma Irama. Maka saya terburu-terburu ke ATM terdekat untuk memberikan piutang. Ia memberi nomer hapenya dan ia meminta nomer rekening saya, guna melunasi hutang 3 hari berikut. Kita sepakat. Ia berterima kasih. Saya bilang bukan masalah karena kita mahasiswa, harus bahu membahu melawan penguasa yang lalim lagi zolim.

Esok harinya saya telepon nomer yang ia berikan, mencoba menanyakan situasi apakah semuanya berjalan lancar dan mau mengatakan uang yang ia pinjam tak usah terburu-buru diganti. Di ujung sana pun mengangkat telpon, lama sekali saya sadar bahwa yang saya hubungi adalah tukang sedot tinja WC yang mampet.

Saya telepon kawan yang kuliah di FE, jurusan manajeman angkatan 2007, ia mengatakan dengan telak tidak pernah ada nama Anu (nama disamarkan) di FE, jurusan manajemen angkatan 2007. Saya diam lalu satu jam kemudian dengan ekstrem tertawa terbahak membayangkan terpaksa harus puasa sunnah senin dan kamis ditambah selasa, rabu, sabtu dan minggu. Karena saya tidak cukup beriman, saya berpikir untuk berhutang saja pada seorang karib. Tiba-tiba lagu Gali Lobang Tutup Lobang-nya Haji Rhoma Irama berdenging lagi di kepala.

***

Sebuah kejahatan melahirkan kejahatan-kejahatan lainnya, mengelindan menggerogoti sistem nilai yang sudah mapan pada level individu. Dari sinilah mulai tumbuh defenisi akan diri saya yang lain: Saya yang tak peduli dengan orang lain yang benar-benar butuh bantuan, saya yang individualistis, saya yang memiliki jiwa sosial yang tiarap dan saya-saya yang lainnya. Dan entah mengapa saya merasa durja dan berpikir untuk segera pulang ke rumah…

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

9 thoughts on “Manipulatif

  1. Alhamdulillah…sedekah memang tak pandang bulu…
    thanks ya brother

    Posted by Asto Hadiyoso | 25 Desember 2011, 10:10 PM
  2. nice written pik! btw, gue sering hampir kena tipu. But well, semoga jadi pelajaran yah biar lebih hati2!

    Posted by alfisyahriyani | 27 Desember 2011, 7:27 AM
  3. Definitely, I am curious about how is manipulative these days

    Thank you,..😉

    P.S: Aku pikir mereka lagi bantu kamu buat inget sedekah kak. Baik kan maksud mereka, meski terkesan manipulatif di sisi kak upikid, hehe..

    Posted by Krisna Puji Rahmayanti | 29 Desember 2011, 8:43 PM
    • ha ha ha. Level Individu mungkin benar mereka sedang membantu saya bersedekah. Tapi dalam gambaran besar: model-model manipulasi gini membuat orang menjadi apatis terhadap yg butuh bantuan, karena berpikir ia sedang dimanipulasi.

      Inilah maksud kejahatan akan melahirkan kejahatan-kejahatan yang lain. Orang makin paranoid, manipulasi jadi model dan ditiru untuk dapat duit, yang betul-betul butuh bantuan tak dipedulikan karena orang-orang terlalu paranoid untuk percaya. Contohnya ya saya ini.:mrgreen:

      Posted by upik | 29 Desember 2011, 9:01 PM
      • Kalau dari cerita kak upik, manipulasi berarti bisa jadi bukan karena ketidaksengajaan. Karena emang udah bertujuan memanipulasi kebaikan😦

        Tp ada lho manipulasi krn informasi yg ga simetris. Jd ga sengaja tindakanny bersifat manipulasi. Misal: Aku minta tolong… eh kak bantuin dong, temenin dong dst. Kebaikan itu membuatku lebih mudah. ternyata bersifat manipulatif krn ternyata ga mudah buat yg dimintain tolong. Dan sedihnya ga bilang😦 Manipulatif. Ga sengaja manipualtif😀

        Posted by Krisna Puji Rahmayanti | 30 Desember 2011, 11:32 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: