Cengengesan Banalisme

Figuran

Kadang-kadang saya merasa perlu merana ketika melihat figuran di film yang saya tonton. Suatu waktu saya menonton film pembunuhan berantai, ada satu scene di awal film dimana seorang bapak-bapak yang sedang berjalan dan dor, ia ditembak. Tewas seketika. Bapak-bapak ini ada hanya untuk ditembak dan tentunya orang akan melupakan ia seiring berjalannya film. Di film lain dengan genre romantisme masa muda, diperlihatkan dengan serius dan dramatis dalam gerak lambat scene seekor kucing lari tertungging-tungging menyelamatkan diri karena dikejar anjing. Benar-benar anjing tak tahu diri. Lalu tiba-tiba saja fokus kamera beralih pada wajah sendu aktor pria yang sedang rusuh hatinya. Selanjutnya tak diperlihatkan lagi bagaimana nasib si kucing itu. Saya khawatir dengan nasib si kucing tersebut. Kucing tadi adalah figuran di film besutan sutradara tak tahu adat itu.

Saya sering menonton konser Haji Rhoma Irama di channel televisi yang dulunya bernama televisi pendidikan, kalau anda cermat di pojok kanan ada 3 sampai 4 orang (entah gadis, entah ibu-ibu, entah waria, entah abang-abang. Salahkan camera person-nya karena ia tak pernah menyorot secara close up!) yang menggerakkan tangannya kompak. Ke kanan dan ke kiri. Ke depan dan ke belakang. Sesekali berseru Ohhhh, kadang huuuuu, kadang pula aaaaaaaaa. Dan mereka adalah figuran dalam setiap konser bang Haji. Jika perannya dihilangkan tak akan mengurangi megahnya konser Raja Dangdut ini. Prihatin.

Apapun, saya tak bermaksud mengolok-olok karena saya juga adalah figuran. Begini, dahulu ketika masih sekolah di SMA terbaik di kabupaten yang dulu saya ceritakan di sini. Saya ikut dalam klub sepak bola-nya, kenapa? Kerena santer terdengar kabar angin, orang-orang yang ikut klub sepak bola akan diganjar nilai 9 di mata pelajaran olahraga. Santer terdengar kabar angin juga, ini dilakukan semata-mata agar siswa tertarik masuk klub sepak bola, terancam gulung tikar karena kalah pamor dengan basket, atletik, pramuka, OSIS, volly, Palang Merah Remaja atuapun senam poco-poco.

Singkat cerita, saya pun diterima dan mengikuti latihan fisik yang berat setiap senin, rabu dan jum’at. Keliling lapangan bola 10 s.d 15 kali, push-up, sit-up, squat jump dan lain-lain entah apa namanya. Kami hanya boleh menyentuh bola ketika hari jum’at tiba itupun untuk latihan skill: menggiring, mengoper, mengumpan lambung, menyundul, dll. Bermain bola yang bersifat bertanding hanya diizinkan pak pelatih (yang kebetulan guru olahraga juga di sekolah terbaik ini, semoga beliau terus diberi kelimpahan rahmat oleh Allah SWT. Amin) minimal sekali sebulan. Beliau pernah bersabda,

“Pemain bola itu harus dijauhkan dari bola beberapa saat agar ia merasakan rindu. Ketika bertemu dengan bola di pertandingan, ia tak akan menyia-nyiakan peluang yang ada…”

Benar-benar latihan yang serius, walau kadang-kadang saya absen karena malas ataupun ketika encok pinggang menyerang.

Setelah beberapa bulan ikut latihan, saya baru mafhum bahwa klub ini adalah klub sepak bola terbaik di seluruh sekolah di kabupaten (tentunya ini juga klaim sepihak). Pun, kabar angin yang mengatakan klub ini gulung tikar adalah fitnah, dan yang ikut klub bola akan ganjar nilai 9 itu hanya isapan jempol belaka. Buktinya saya hanya diberi nilai 8. Orang-orang beriman tentunya percaya yang menyebarkan kabar angin ini akan dicatat dengan cantik di buku amal buruknya oleh Atib.

Dan ini yang paling amat sangat penting: Mayoritas orang-orang di klub ini adalah orang-orang yang juga berlatih di klub sepakbola di luar sekolah, sehingga memiliki skill yang mumpuni menggocek si kulit bundar. Maka tak bisa diragukan lagi, jadilah saya seorang figuran di klub ini, yang selalu duduk bengong di bangku cadangan ketika klub ini ikut kompetisi ataupun ditantang sekolah lain untuk bertanding. Miris mengoyak dada.

Itu di bidang olah raga, di bidang pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia lain lagi. Tersebutlah sebelum ujian kenaikan kelas, guru Bahasa Indonesia merasa perlu memecah kelas menjadi beberapa kelompok guna diberi tugas menampilkan drama di depan kelas. Lumrah seketika siswa merapat ke kelompknya masing-masing, berseru-seru, berdebat hebat cerita apa yang akan ditampilkan. Tak terkecuali kelompak saya ini. Seorang rekan berseru biar ia saja yang membuat naskahnya, dan seorang rekan yang lain berbunyi biar ia yang akan jadi penata gerak dan mimik. Semua manggut-manggut.

Esok harinya kami berkumpul lagi guna membaca naskah dan mempelajari peran masing-masing di naskah itu. Saya baca naskahnya, sungguh sangat jenaka dan saya mengaku suka. Judulnya kira-kira: Abu Nawas melawan raja yang zolim. Maka sayapun bertanya siapa yang menjadi Abu Nawas. Rekan saya yang membuat naskah angkat tangan. Ia berargumen bahwa hanya ia yang sangat mengerti dengan ceritanya maka pantaslah ia diganjar dengan peran Abu Nawas. Saya bertanya lagi, siapa yang akan menjadi raja. Rekan saya yang jadi penata gerak angkat tangan. Ia berfatwa gerak dan mimik seorang raja sangat susah, karena ia sangat lihat dalam hal ini maka ia memang pantas mendapat peran ini. Abu Nawas dan raja adalah peran utama di drama ini. Dan dua orang ini punya pengaruh di kelompok saya: Pembuat naskah dan penata gerak. Kebijakan bisa ditentukan bagi yang punya kuasa.

Saya lihat wajah teman-teman perempuan di kelompok ini, mereka pasrah waktu tahu mereka jadi dayang-dayang, bertugas mulia mengipas-ngipasi Sang Raja. Saya mencium bau persekongkolan jahat.

Dan tahulah saya persekongkolan jahat itu, drama ini bersifat jenaka maka perlu rumus umum membuat orang tertawa: kontradiktif, aneh, dan ganjil. Maka saya dilantik jadi algojo, biar lucu katanya. Umumnya algojo itu kekar, garang dan tidak kriting. Maka saya adalah algojo bertubuh pendek, berwajah melayu, berkumis palsu meliuk hasil olahan spidol hitam diatas bibir yang di sepanjang cerita selalu diam di sebelah sang raja. Teman-teman yang menonton drama kami selain melihat tingkah Abu Nawas atupun sang raja, terlihat tertawa dengan sangat bahagia melihat saya di sepanjang drama: Algojo bertubuh pendek, berwajah melayu, kriting pula yang lebih cocok jadi penyanyi dangdut di kampung-kampung.

Algojo bertubuh pendek, berwajah melayu, kriting pula yang lebih cocok jadi penyanyi dangdut di kampung-kampung di drama Abu Nawas melawan raja yang zolim adalah figuran. Nasib.

Oleh sebab itu, kata orang-orang, untuk menyambut tahun baru perlu membuat resolusi, maka dengan bangga saya mengatakan resolusi hidup tahun 2012 saya adalah:

PUNYA DAFTAR RESOLUSI dan di daftar itu akan sudah pasti tercantum besar-besar:

1. …..

2. …..

3. BERHENTI JADI FIGURAN.

4. …..

5. …..

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

13 thoughts on “Figuran

  1. Apa anda masih ingat EYD atau hanya sekenanknya?
    Apa anda suka menulis yang tidak sesuai dengan EYD?
    Apa anda tahu pola kalimat dalam bahsa Indonesia dengan baik?
    Atau anda sudah idak peduli dengan hal yang demikian sahingga menulis hanya sebagai pengganti lisan anda, bukan menulis?

    Posted by Joana Manurung | 30 Desember 2011, 11:39 AM
  2. HAHAHA

    Posted by rinaldi camil | 3 Januari 2012, 11:17 PM
  3. hihihi….lucu bang upik!

    Posted by erni | 12 Januari 2012, 3:36 PM
  4. Kode etik organisasi ini aku belum tahu dengan jelas, masih meraba raba dan berusaha menerima hal yang asing dalam keseharianku.

    Posted by Jacob Andrews vogan | 27 Januari 2012, 4:59 AM
  5. Sebuah tulisan yang inspiratif ………….

    Kunjungi dan ditunggu kontribusinya di :

    http://www.pantonanews.com/beranda

    Posted by Aa Hidayat | 31 Januari 2012, 8:13 AM
  6. gue ketawa ya pik..!!

    Posted by yani | 31 Januari 2012, 8:37 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: