Raun-raun

#1 Napak Tilas: Gerogi Pulang

Sudah lama saya tidak merasakan gerogi berat seperti ini, terakhir terjadi ketika mengucapkan kata-kata picisan (yang sekarang terdengar banal) sebagai ungkapan cinta pertama kepada anak gadis orang. Gerogi ini mungkin disebabkan karena saya akhirnya bisa pulang  jua, setelah 4 tahun lebih merantau ke negeri orang.

Gerogi ini dimulai ketika saya membeli tiket pesawat via internet dengan pertimbangan yang tidak nasionalis, memilih kapal terbang dengan logo kepala singa itu. Dalam website-nya, kepala singa menyediakan pemesanan pesawat dengan proses mengklik yang cukup melelahkan dilunasi dengan pembayaran melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Gerogi itu membuncah ketika proses pemesanan tiket terganggu saat koneksi internet menjadi durjana, mati tiba-tiba. Saya harus mengulang prosesnya dari awal lagi. Kode pertama. Gerogi awal.

Setelah mengulangnya berkali-kali akhirnya selesai juga. Saya melangkah menuju proses penutup dengan membayar melalui ATM. Dan ketika membayar, ATM tidak dapat memproses transaksi. Berkali-kali saya coba. Nihil. Kode kedua. Makin gerogi.

Saya gerogi. Saya mulai berpikir khas orang yang sedang dilanda gerogi, membaca kode-kode alam dan menyimpulkan kode itu dengan gilang-gemilang: Semesta sedang bersekongkol, tersenyum jahat, berusaha menggagalkan rencana kepulangan saya.

Untung saja saya meminta bantuan seorang karib, sebut saja Zona Indera. Ialah yang menjadi indera keenam saya (kelima indera saya tidak menjalankan tugasnya dengan baik karena gerogi, luar biasa), membantu membeli tiket secara online dengan sukses, membantu membayar di ATM dengan sukses juga. Alasannya jelas karena dia tidak sedang gerogi. Percaya kawan, jika sedang gerogi hal paling bijak adalah mencari teman yang tidak sedang gerogi. Ini pelajaran penting dalam hidup.

*****

Di kapal terbang

Mungkin terdengar norak, tapi saya jujur mengatakan sebelum kapal terbang lepas landas hati saya kembali dilanda gerogi teringat pesawat yang jatuh beberapa bulan lalu, digembar-gemborkan oleh televisi yang tidak terpuji itu. Pramugari bertubuh semampai tersenyum ramah kepada saya,

“Ada yang bisa saya bantu pak?”

Saya diam, masih gemetaran gerogi.

Pramugari yang bertubuh semampai kembali mengulangi,

“Ada yang bisa saya bantu pak?”

Saya baru buka suara,

“Tidak mbak. Saya hanya gerogi…”

Pramugari tersenyum dan saya tahu pasti ia berkata dalam hati,

“Norak lu!”

Pandangan saya kosong, entah mengapa tiba-tiba saja teringat kata-kata guru ngaji saya, “Gerogi atau ragu adalah tipu daya setan.” Baiklah, setan seingat saya bisa diusir dengan membaca ayat kursi. Dan saya sejauh ini belum hapal ayat kursi maka saya membaca al- fatiha.

Ada hal yang saya dapat dari gerogi ini.

1. Orang yang gerogi sebelum kapal terbang lepas landas akan terlihat seperti bapak-bapak. Maka sudah pasti dipanggil dengan panggilan, ‘pak’ oleh pramugari yang bertubuh semampai itu.

2. Ada pertanyaan penting mengapa semua pramugari harus bertubuh semampai? Kenapa bukan pramugaranya saja yang bertubuh semampai? Apakah pilot juga bertubuh semampai?

3. Saat gerogi, pramugari yang berjejer mempraktekkan cara menggunakan sabuk pengaman dan pelampung sangat kompak gerakan tangannya dan terlihat memesona. Ini mau tak mau di mata saya, pramugari-pramugari itu seperti sedang menari ala girlsband dilengkapi musik dangdut terajana. Benar-benar wow.

4. Kompilasi gerogi dengan mendapatkan tempat duduk di sebelah kaca jendela itu adalah neraka dunia.

5. Majalah internal pesawat berkepala singa itu -yang diletakkan dengan cantik di belakang kursi- isinya dikemas dengan baik, artikelnya pun sungguh terpuji.

6. Jika gerogi berat, jangan naik kapal terbang. Jalan kaki saja. Sudah jangan banyak cakap.

*****

Di Bandara (Internasional) Polonia Medan

Jika anda adalah penikmat film drama picisan, bolehlah saya menebak pasti anda-anda semua membayangkan ketika saya sampai di Polonia, saya akan sujud dan mencium tanah sesudah itu berteriak sambil menghamburkan air mata, “IBU, SAYA PULANG!!!”.

Tapi dengan segala hormat, itu tak saya lakukan karena:

1. Rumah saya masih berjarak perjalanan 3 jam lebih dari sini.

2. Di Medan saya akan menginap beberapa hari di rumah abangnya ibu saya yang dalam melayu disebut uwak.

3. Dari info yang saya dengar, saya akan dijemput anaknya uwak saya, lazim disebut sepupu. (Terus terang saya sudah lupa dimana posisi rumah uwak saya)

Sudah jelas hal pertama yang harus saya lakukan adalah menghidupkan telepon genggam. Sinyal penuh, pulsa penuh. Sudah jelas hal kedua yang harus saya lakukan menelpon, ya menelpon sepupu saya ia sudah ada dimana. Namun apa hendak dikata, sim card saya adalah produk bakrie yang bisa digunakan di luar kota apabila sudah menyalakan layanan gogo. Permasalahan terbesar terletak pada: saya lupa bagaimana cara mengaktifkan layanan gogo. Sudah jelas hal ketiga yang harus saya lakukan adalah gerogi. Gerogi pun berubah menjadi panik. Panik berevolusi menjadi kalut. Dan saya membaca al-fatiha lagi.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

5 thoughts on “#1 Napak Tilas: Gerogi Pulang

  1. Assalamu’alaikum Fik
    jumpa la kita ya di kampung…
    sms kan no. ente yang baru la…no awak masih yang lama

    Posted by Asto Hadiyoso | 10 Februari 2012, 9:27 PM
  2. piiik upiiik, dari dulu2 kalau gue baca tulisan lu tuh menebak2 melulu. Ini kayak siapa yah gaya nulisnya. baru sadar: Andrea Hirata!!!

    Posted by alfisyahriyani | 15 Februari 2012, 12:13 PM
  3. hakhak..ciyeh yang baru pulang ke Medan kota yang tercintah😀 Selalu suka main di blog ini..tulisannya lucu2😀

    Posted by septi wulandari | 3 Maret 2012, 2:35 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: