Raun-raun

#2 Napak Tilas: Ini Medan Bung!

Saya akhirnya mencium udara Medan yang panas, setelah dilanda gerogi berat di kapal terbang. Di sudut jalan, wajah-wajah petinggi partai politik tersenyum bahagia memamerkan giginya yang putih laiknya iklan pasta gigi. Di sudut jalan yang lain, wajah petinggi partai ini dinodai oleh lumpur yang mungkin dilempar oleh anak-anak muda yang sedang badung-badungnya. Tapi mereka adalah politisi tangguh yang tetap tersenyum sumringah walau lumpur menodai wajahnya. Luar biasa.

Saya menatap wajah politis yang bernoda itu, ia memandang saya masih tetap dengan senyumnya yang lebar dan saya teringat, meragukan sesuatu:

Medan adalah kota multikultural. Tidak terpuji kiranya selalu diidentikkan dengan etnis tertetu sebab banyak sekali entis yang mendiami kota ini. Namun banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengetahuinya. Saya salah satu korban atas kesalafahaman ini. Contoh nyata adalah,

Saya: Salam kenal saya Taufik, ya biar gampang sebut saja dari medan.

X, lahir dan besar di Jakarta: Medan? Marga apa?

Saya: Saya Melayu, tidak punya marga?

X: Hah? Suku pendatang?

Saya: ehmm… wes, wos, wus. Nanana, syalalala, babibubaba… (Panjang lebar menceritakan Multikulturalnya medan. Sejarah Melayu, bahwa melayu adalah penduduk asli Medan dengan bukti peninggalan kerajaan Melayu: Istana Maimoon)

Medan didiami sekitar 2 juta jiwa yang secara garis besar dihuni oleh beberapa suku dan ras seperti Melayu, Batak, Jawa, Tionghoa, India, dll. Maka (sekali lagi) adalah fatal jika seseorang yang berasal dari Medan selalu dikaitkan-kaitkan dengan suku tertentu, ini streotif yang sesat dan tidak bertanggung jawab. Maka mari kita semua berobat dan bertobat.

Ada hal unik yang perlu saya tulis disini. Jika anda berkunjung ke medan sudah seharusnya menredefenisikan beberapa istilah seperti kereta, motor, pajak, dan pasar. Di medan kereta adalah kata yang digunakan untuk menyebut sepeda motor, sedang motor adalah kata yang digunakan untuk penyebutan mobil. Pajak digunakan untuk menyebut pasar sedangkan pasar digunakan untuk menyebut jalan. Catat.

Selain multikulturnya medan, jangan heran ketika berada di pusat kota anda akan melihat pesawat terbang bolak-balik tiap menit, meraung-raung di atas kota ini. Dan rasa-rasanya jarak kepala kita dan perut pesawat terbang hanya sejengkal saya. Sebabnya jelas: Bandar Udara Polonia dan pusat kota berdampingan. Hal yang mungkin terjadi jika pesawat oleng  bukan hal yang ganjil jika badan pesawat akan melintang di jalan, menindih angkot serta tukang beca yang sedang lewat dan kepala pesawat menyeruduk perumahan warga (sila cek di gugel, kecelakaan pesawat tahun 2006 yang menyeruduk perumahaan warga di kawasan jalan Jamin Ginting, Medan).

Mengapa bisa begitu? Jangan tanya saya. Saya juga tak terlalu mafhum. Dan jika anda tanyakan pada pemerintah daerah kota ini, beliau mungkin akan berfatwa,

“Mengingat potensi bahaya yang besar berdekatannya pusat kota medan dengan bandara Polonia maka tahun 2013 Polonia akan dipindahkan ke Kuala Namu yang berjarak kira-kira 40 km dari kota Medan. Tinggal menunggu waktu sahaja. Saya rasa itu dulu ya…”

Anekdot yang saya dengar, 3 hal yang dibanggakan warga Medan sebagai buah tangan: Sirup Marquisa, Bika Ambon, dan Teri Medan. Sila dicoba jikalau bertandang.

Jika berkunjung ke Medan tak perlu bingung karena Ini Medan Bung!

***

Saya masih memandang wajah politis yang bernoda itu. Dia masih menatap saya dan tak letih untuk tersenyum sumringah.

Dan saya ragu-ragu menyentuh noda di wajahnya. Dia masih menatap saya dan ya tuhan ia masih tersenyum sahaja.

Lalu saya mendekatkan noda itu di bawah lubang hidung mencoba membauinya dan benar dugaan saya itu bukan lumpur tapi tahi burung.

Politisi itu, dia masih menatap saya namun kini ia berhenti tersenyum.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

2 thoughts on “#2 Napak Tilas: Ini Medan Bung!

  1. Whoohoooo Medan! Horas bah!😆

    Motor itu mobil? Pasar itu jalan? Sepertinya otak saya mengalami gegar di sini…😆

    Posted by Asop | 18 Februari 2012, 11:19 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: