Raun-raun

#3 Napak Tilas: Kemenakan

Empat tahun lebih sudah saya tidak menengok rumah ini. Rumah yang dulu saya tinggali setahun, guna menapak asa yang sempat menguap. Setahun itu masa-masa yang menyebalkan, karena harus diperdaya soal-soal SPMB belasan tahun ke belakang yang sering kali mengecoh otak saya yang aus ini.

Rumah ini adalah rumah uwak saya, dengan segala keakrabannya. Segala macam pernak-pernik kenangan itu membahana: Kucing betina yang mengeong-ngeong sepanjang malam mencari anaknya yang raib, ayam yang bertelur di atas lemari pakaian, pertengkaran sepupu dengan pacarnya (yang kini jadi suaminya) di teras rumah, direpeti prihal handuk yang malas saya cuci sampai terbahak berbagi cerita konyol teman kerja sepupu.

Setiap hal memang harus berubah dan tak bisa ditangguh-tangguhkan, rumah ini kini juga berbeda semenjak meninggalnya suami sepupu empat tahun lalu dan meninggalnya uwak saya dua tahun lalu. Dan dengan tidak terpujinya saya tidak bisa pulang.

Masih ada titik-titik kesedihan di sudut-sudut dapur, terutama saat tengah malam tiba, ketika benar-benar hening. Saya mafhum sekarang mengapa saat-saat ini paling nyaman untuk berdo’a.

Tetapi tenanglah saya tidak akan bercerita tentang kesedihan sebab hidup harus terus berlanjut bukan, begitu pula tulisan ini. Nah begitu, generasi yang meninggal akan diganti dengan generasi selanjutnya. Di rumah ini generasi baru itu lahir, tiga ekor jumlahnya maksud saya tiga orang jumlahnya. Pusinglah kepala saya menghadapi tingkah-tingkah kemenakan saya ini. Suasana yang sempat fakum, kalem beberapa tahun kembali ramai. Mari saya deskripsikan kemenakan saya ini satu-satu dimulai dari yang paling muda.

***

Kita sebut ia si Kecil, alasannya logis karena ia yang paling bontot. Umurnya masih tiga tahun, tidak banyak tingkah dalam perspektif melayu. Perspektif banyak tingkah itu bisa diasosiasikan dengan rewel, sepak kiri, sepak kanan, tendang kanan, tendang kiri, kencing kanan, kencing kiri, meraung menjadi-jadi tanpa alasan yang jelas dll.

Tingkah si Kecil ini hanya dua macam, pertama ia akan mencolek-colek siapapun yang didekatnya bertanya ini apa-itu apa ketika ia mulai bosan.

Si Kecil: (mencolek)

Saya: (merasa ada yang mencolek-colek)

Si Kecil: Om…

Saya: panggil pakcik. PE-A-CE-I-KA. Pakcik.

Si Kecil: Om…

Saya: (-_-), Apa?

Si Kecil: Itu apa?

Saya: burung.

Si Kecil: ini?

Saya: tangan.

Si Kecil: itu?

Saya: tahi lalat.

15 menit kemudian.

Si Kecil: itu apa? ini apa???

Saya: (Pura-pura tidur)

Tingkah si Kecil kedua adalah ia punya obsesi dengan tata cara menanam tumbuhan, saat-saat tertentu ia akan menyiram apa saja di hadapannya dengan segelas air. Ia akan berujar, “Air” lalu ditutup dengan kata, “Basah.”

Jika dialog diatas dilanjutkan, tentunya adegan yang terjadi: Saya yang pura-pura tidur kaget mendapati wajah yang basah karena disiram segelas air. Si Kecil akan berfatwa,

Si Kecil: Air. Basah.

***

Sebut saja namanya Bujang, lima tahun. Penyendiri, di lingkungan rumah uwak saya ini temannya sepermainannya hanya si dayang. Siapa itu Dayang? Nanti saya paparkan. Bujang bicaranya tidak jelas, seperti bergumam. Satu-satunya yang faham apa yang sedang ia racaukan hanya si Dayang. Siapa itu Dayang? Nanti saya paparkan. Selain teman sepermainan, baginya Dayang ini juga teman seperkelahian, tampar-tamparan, jambak-jambakan. Biasanya Bujang akan meraung-raung, menangis menjadi-jadi setelah dipecundangi dengan telak oleh si Dayang. Biasanya setelah sukses mempecundangi si Bujang, Dayang hanya diam saja, memasang wajah datar. Sebentar, siapa itu Dayang? Ya Tuhan, nanti saya paparkan.

Matanya tidak bisa dibilang sipit, karena hanya sebelah saja yang sipit. Setengah sipit? Istilah itu tidak dikenal sepertinya. Tahu vokalis Radiohead, Tom Yorke? Ya, seperti itulah mata si bujang. Kelopak mata sebelah kirinya turun, sindrom mata mengantuk begitu kira-kira ilmuwan menyebutnya. Ibunya berkata matanya seperti itu karena sewaktu kecil bujang kerjanya hanya tidur saja, sering menguap tak karuan, malas membuka mata, jarang bangun. Saya percaya? Jangan harap, sebab saya yakin ibunya pasti sedang melucu.

Bujang senang menggambar, mewarnai buku gambar. Saya melihat ia punya bakat menjadi seorang pelukis  abstrak. Ya, kualitas lukisannya kurang lebih mirip dengan pelukis kondang Pablo Picasso. Ini mamak (Ibu dalam melayu), katanya suatu waktu menyodorkan gambar yang dibuatnya (tentu saja setelah diterjemahkan oleh si Dayang. Siapa itu da… diam!) Saya bingung kok mata dalam gambar si Bujang ini diletakkan di dada, hidung di jidat dan tangan di atas kepala sedang kaki di badan. Ini kualitas seni abstrak mungkin. Saya tak faham maka saya tak boleh berkomentar.

Dan ini yang paling menggetarkan dari seorang bujang: ia punya selera musik yang bagus. Matanya akan berbinar-binar lalu berlari ke dapur mengambil sapu dan memperlakukannya seolah-olah itu adalah gitar ketika ia menyaksikan seorang maestro dalam jagat musik Indonesia di televisi pendidikan itu: H. Rhoma Irama.

***

Dayang, siapa dia? Mengapa ia sering disebut-sebut di bagian deskripsi Bujang. Baik, perhatikan baik-baik.

Dayang, 5 tahun, adalah sepupu Bujang. Ibunya Dayang dan ibunya Bujang kakak beradik. Ayahnya Dayang meninggal sebelum ia dilahirkan. Itulah sebab musabab ketika ibunya pergi bekerja, ibunya Bujang (ibunya Bujang adalah tukang jahit, maka untuk jangka waktu yang belum ditentukan berhenti menjahit di luar rumah, beralih menjahit di rumah saja.) yang merawat Dayang. Ini alasan mengapa dayang faham betul perkataan si bujang, lagipula mereka seumuran, serumah pula. Masuk akal ya.

Kebisaan dayang benar-benar membuat saya murka (selain bertanya mengapa saya pendek, keriting, juga jelek) setiap hari dari pukul 8 sampai 11 malam ia akan melototi televisi tercela itu guna menonton sinetron, saya ulangi: menonton SINETRON. SI.NET.RON. Benar-benar durjana ini pengelola setasiun televisi. Komisi Penyiaran Indonesia  harus bertindak. Segera.

Saya belum pernah membaca efek terpaan sinetron pada anak-anak di bangku kuliah selain kekerasan (verbal maupun non-verbal), tapi setidaknya ijinkan saya mengeneralisasikan efek terpaan sinetron pada anak setelah mengamati laku sampel yaitu si Dayang ini.

1. Hidup harus berdrama.

Dayang senang memegang-megang telepon genggam ibunya, dan sering pula pura-pura menjawab panggilan masuk. Ia akan memasang wajah kaget dan berujar setengah berteriak,

“Ya dengan siapa disana? Apaaaaaaaa?!!! Aku tak bisa terima. Pokoknya kalau papa tidak mengusir pembantu itu, kita CERAI!”

Darimana ia mempelajari kalimat ini, ya dari sinetron.

2. Sering melotot

Saya tak terlalu faham mengapa di sineteron selalu saja peran antagonis mendapat jatah adegan melotot. Apakah ini semacam ciri khas agar penonton faham siapa, jagoan siapa banditnya di sebuah sinetron. Jadi jika sebuah sinetron tertentu di pembukaan adegan pada episode pertamanya ada tokoh yang melotot maka penoton akan berseru, “Ah, ini  pasti banditnya nih.”

Begitu pula Dayang, jika saya ingin menonton lawakan politisi di acara bincang-bincang politis.  Kami akan ribut dan si Dayang akan melotot.

Darimana ia belajar melotot, ya dari sinetron.

3. Sinetron adalah realitas.

Anak-anak mengganggap sinetron adalah nyata. Ia dianggap makhluk ajaib ciptaan tuhan setelah adam tanpa tahu bahwa itu hanya sebuah cerita rekaan yang dibuat-buat seenak perut oleh anak adam. Ketika menonton sinetron ia menggangap itu adalah nyata, dekat dan perlu terlibat di dalamnya. Ketika tokoh utama merana, dayang perlu merasa menangis. Ketika tokoh utama dikejar-kejar bandit, perlu kiranya harus menunjuk-nunjuk televisi sambil berteriak, “Cepat lari!”

Yang paling menakutkan adalah ketika anak-anak belajar bersikap, bertingkah laku dan menjadikan sinetron sebagai role model bagaiman ia memandang hidup, bagimana ia melihat dunia sekitarnya. Dan ini sedikit banyak saya temui dari Dayang.

Bagimana bisa? ya dari sinetron.

4.  Tari perut

Dayang ketika mendengar lagu dangdut ataupun musik-musik rancak akan bergoyang ala girlband dari negeri korea itu, kadang menari perut, kadang menari india. Darimana ia belajar menari, dari sinetron? Oh tentu tidak, ini saya yang mengajari.

Untuk itu mari kita menjaga kemenakan-kemenakan kita yang belia, adik-adik kita yang sedang lucu-lucunya, saudari-saudari kita yang sedang mekar-mekarnya, ibu-ibu kita yang sedang senggang waktunya dari godaan tayangan sinetron yang tercela. Amin.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

2 thoughts on “#3 Napak Tilas: Kemenakan

  1. hahahaha…
    ketawa aja…=,D

    Posted by mentaridicelahsabit | 15 Maret 2012, 10:45 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: