Marwah Bangsa Melayu

(C/D)erita ayam

Ayam adalah unggas yang sering menjadi bintang iklan di televisi, walau kadang-kadang ayam hanya ditunjukkan sebagai korban mutilasi. Ini bukti nyata manusia itu menyeramkan.

Tentu anda ingat iklan ayam yang digembor-gemborkan di media sosial dan diplesetkan dengan gadis imut bintang iklan diputar, dijilat, dicelupin itu: Seorang anak yang baru pulang sekolah berteriak histeris, “Ayam, ayamku mana?!”

Dengan logat Indonesia timur yang kental ibu-ibu menjawab dengan kalem, “Sudah makan dulu sana, ada yang spesial tuh.”

Saya percaya tak semua mengerti betul ensensi dari teriakan si anak yang baru pulang sekolah itu. Saya mengerti dan menaruh simpati padanya. Untuk itulah saya akan berbagi pengalaman:

***

Belasan tahun yang lalu. Waktu itu saya masih ingusan. Senang memegang-megang binatang. Kodok. Ikan. Kumbang. Siput. Cacing. Kucing. Dan kawan-kawan.

Di suatu malam yang tenang, saya terbangun karena suara gaduh yang timbul dari depan rumah. Selidik punya selidik ternyata ayam betina yang sedang tidur dengan 10 anaknya di kardus depan rumah raib ditelan anjing jalang.

Tinggallah anak-anak ayam yang baru beberapa hari umurnya mengencit-ngencit tak karuan. Malang benar nasibnya. Belum beberapa hari hidup di dunia sudah menjadi yatim piatu. Ayah tidak jelas juntrungannya, Ibu mati ditelan anjing jalang.

Saat itu saya bertekad untuk mengasuh anak-anak ayam ini dan mulai membenci yang namanya anjing. Anjing membuat saya meradang. Titik.

Seperti yang telah disebut di atas. Saya senang memegang-megang binatang. Maka setiap pagi saya biasanya akan memegang-megang ayam-ayam ini lalu memberinya makan di dalam kotak. Malam hari ayam-ayam ini diberi lampu di kotaknya agar hangat. Mereka tidur tenang biasanya, saling berdesakan, menyandarkan tubuh ke tubuh yang lain. Berbagi kehangatan mungkin.

Sebulan berlalu. Tinggal 7 ekor yang bertahan hidup, Ayam-ayam ini sudah besar dan tidak tinggal di kotak kecilnya lagi. Kini mereka tidur di atas ranting-ranting pohon mati yang masih kokoh di depan rumah.

Subuh-subuh mereka bebas berkeliaran ke sana ke mari. Patuk kanan, patuk kiri. Kais kiri. Kais kanan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, saya biasanya memanggil “Kurr, kurrr, kurrr” Mereka datang dan tentunya saya kembali memegang-megang mereka setelahnya memberi makan.

Tiga bulan berlalu, saya meradang ketika bapak mau menjual ayam-ayam ini. Saya mogok makan, mogok bicara dan meraung sejadi-jadinya. Protes pertama yang pernah saya lakukan dalam hidup dengan serius. Sukses. Bapak mengurungkan niatnya.

Di suatu subuh, mata saya terbelalak ketika bangun mendapati pohon mati di depan rumah kosong melompong. Saya memanggil mereka, “Kurrr, kurrr, kurrr”. Nihil. Badan saya lemas, hati saya remuk redam sadar ayam-ayam saya digondol maling. Maling itu benar-benar durjana.

Esoknya harinya tak kuasa menahan perihnya kehilangan ayam-ayam, saya demam selama seminggu. Salahkan maling-maling celaka itu. Hah!

****

Cerita tambahan:

Ada satu hal yang luput saya perhatikan ketika ayam-ayam raib digondol maling-maling celaka itu karena terlalu histeris kehilangan: seonggok tahi manusia yang masih segar tergeletak dengan menakjubkan di bawah pohon mati tempat tidur ayam-ayam itu.

Kuat dugaan bahwa yang bertanggung jawab penuh atas tahi itu adalah maling yang mengondol ayam saya. Begini, di kampung saya saat itu sedang tren ilmu hitam. Ilmu hitam ini biasanya digunakan oleh para maling untuk membuat korbannya tidak sadar, tidur dengan nyenyak.

Biasanya ilmu hitam yang digunakan oleh maling yaitu melempar atap rumah si korban dengan pasir yg telah dimantrai dan hap si korban jadi tertidur lelap. Cara yang lain, menanam semacam kertas yang ditulis mantra-mantra di depan rumah korban. Cara yang lain adalah buang hajat di depan rumah si korban. Cara terakhir ini yang digunakan maling-maling durjana yg mengondol ayam saya itu.

Dan reaksi yang dilakukan oleh mamak saya melihat tahi teronggok itu adalah masuk ke dapur mengambil beberapa cabe, korek api dan minyak tanah. Selanjutnya ya, dibantu dengan minyak tanah, tahi itu dibakar dengan cabe.

Saya penasaran lalu bertanya, “Kenapa pulak itu dibakar mak?”

Mamak saya menjawab dengan kalem, “Biar panas pantat mereka…”

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

2 thoughts on “(C/D)erita ayam

  1. sabar ya. pasti iklan mie itu membuat lo panas dingin terus…🙂

    Posted by danuardik | 27 Maret 2012, 4:03 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: