Kontemplasi

Bersitegang jarak

Tidak mudah kiranya menuangkan apa yang berdesakan di kepala ke dalam bita-bita microsoft word. Saya menginsyafi hal ini sebagai kerenggangan dunia makna yang ada di awang-awang dengan dunia kata-kata. Gagasan yang ada di kepala perlu dikonversi, dikungkung, dijinakkan dalam huruf yang berjejer. Ini mengandung resiko.

Masalah nyata ketika apa yang ingin saya tuliskan berkebalikan 180 derajat dengan hasil jadinya. Saya ingin menulis tentang betapa sulitnya memahami seseorang tiba-tiba saja cerita yang tertulis menjadi betapa hidup ini seperti komedi. Ketika saya ingin melucu, bercanda dengan pengalaman-pengalaman sehari-hari, hasilnya bisa ditebak: tulisan jadi terlihat begitu datar, garing di sana sini dan saya tak pernah mengerti benar apa yang sudah saya tulis. Mengambang.

Menyitir Goenawan Mohammad yang juga mengutip seseorang yang saya lupa namanya, “Menulis adalah ketegangan antara menemui bahasa dan menemukan bahasa.” Bahwa benar ada konsekuensi logis menuangkan gagasan ke dalam tulisan: menemui bahasa.  Penulis (setidaknya) mempunyai 2 dosa beruntun: memaksa makna mengendap dalam kata, hingga makna kehilangan hakikatnya karena kata selalu saja menyingkap sebagian makna sekaligus mengaburkan sebagian makna yang lainnya. Dosa kedua, inilah jebakan konsensus dalam masyarakat yang mengenal makna kata berdasarkan tafsiran nenek moyang. Konsensus ini kadang cair, terkadang ketat, bergelantungan pada kesepakatan bersama dan itulah defenisi konsesus. Penulis nyaris minim kuasa dan menyerah tak berdaya.

Penyair boleh bernafas lega karena ia mempunyai hak istimewa, licentia poetica, hak membuat kata baru, mengenyampingkan tata bahasa, menampik ejaan yang disempurnakan, tentu saja guna menonjolkan ataupun menghidupkan arti kata dalam ciptaannya. Ini yang mungkin disebut menemukan bahasa. Sayang sekali saya bukan seorang penyair. Saya khawatir dan terus menerus merasa ada yang ganjil dengan tulisan saya. Nyaris tidak saya fahami, dan sama sekali berbeda dengan apa yang saya inginkan. Ini menyebalkan.

Sekali lagi saya harus katakan, empat paragraf sebelumnya tidak seperti yang ada di kepala saya. Sekali lagi juga harus saya katakan, saya gagal faham dengan apa yang saya tulis barusan.

Untuk prihal ini, kepada siapa saya harus mengadu?

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: