Kontemplasi

Membela Melayu

Melayu adalah korban keangkuhan manusia-manusia yang malas menginsafi: Memandang sesuatu pada titik pandang searah. Tanpa mau menyebur, menyelam, bersalaman, mengenal dengan dekat. Begitulah, hingga timbul salah kaprah budaya, semacam stereotip negatif yang berkembang di kepala masyarakat bahwa Melayu adalah bangsa yang malas, lamban, cepat puas, dan tidak punya ekspektasi akan masa depan[1].

Kornblum jauh-jauh hari menjelaskan stereotip merupakan citra yang kaku mengenai suatu kelompok ras atau budaya yang dianut tanpa memperhatikan kebenaran citra tersebut (1988:303). Dilain pihak Banton (1967: 299-303) menekankan bahwa stereotip mengacu pada kecendrungan bahwa sesuatu yang dipercaya orang bersifat terlalu menyederhanakan dan tidak peka terhadap fakta objektif.

Secara mudah: Melihat dengan jarak -> Mencuil hal-hal yang ada di permukaan -> Muncul prasangka -> Enggan mengklarifikasi -> Jadilah stereotip -> Dianggap sebagai sebuah kebenaran -> Saya meradang

Pedihnya, jika orang-orang Melayu sendiri terpengaruh dengan stereotip yang kadung menempel dijidat, pasrah mengaminin bahwa bangsanya adalah benar bangsa yang pemalas. Gejala lanjutannya anak-anak Melayu akan merasa nestapa mengingat diri adalah bangsa pemalas. Untuk itulah, seorang Melayu, perlu kiranya membebaskan bangsanya dari belenggu kesalahfahaman ini. Andera Hirata sudah mencoba melakukannya:

“Jika definisi rajin bekerja adalah selalu bekerja, selalu memegang sebuah alat untuk mengerjakan sesuatu, selalu sibuk mondar-mandir macam cecak mau kawin, atau tak pernah diam, selalu kreatif mencari peluang ke sana kemari, maka malanglah nasib orang Melayu. Tenggelamlah mereka dalam streotip yang telah tercap di kening mereka bahwa orang melayu adalah kaum pemalas. Streotip macam ini tidak adil, berat sebelah. Sering kudengar pendapat semacam ini dimana-mana. Orang melayu di kampung kami, sejak nenak moyang dulu, hidup sebagai penambang. Mentalitas penambang amat berbeda dengan petani atau pedagang.”

“Petani, harus menyiangi lahan, menabur benih, dan dengan telaten memelihara tanaman sampai panen, setiap waktu. Karena itu, mereka selalu tampak memegang dan mengerjakan sesuatu. Pacul dan sabit seperti perpanjangan tangan mereka. Perangai tanaman yang menuntut perhatian membentuk mereka menjadi tekun. Kebijakan mereka adalah tak menabur-tak memelihara-tak memanen. Falsafah bertani membuat para petani menjadi pribadi-pribadi yang penuh dengan perencanaan, penyabar, dan gemar menabung.”

“Pedagang, lebih sibuk lagi. Sepanjang waktu mereka berkelahi dengan waktu sebab harus menjual dengan cepat. Dalam perkelahian itu, adakalanya polisi-polisi praja naik ke atas ring.”

“Penambang, hanya perlu menggali apa yang telah ditanam-lebih tepatnya disembunyikan- oleh Tuhan di bawah tanah. Maka, hidup kami seoerti main petak umpet dengan Tuhan. Kami tidak menabur sehingga benda itu ada disitu, dan kami tak perlu merawatnya sehingga ia beranak-pinak.”

“Karena benda itu bersembunyi, perlu waktu lama untuk merenungkan di mana gerangan ia berada, sedalam apa ia sembunyi, kemana ia mengalir, dan di mana mata ayamnya. Mata ayam adalah sebutan untuk sumber mata air timah. Semua direnungkan orang Melayu di warung kopi. Maka, mohonlah maklum bahwa perlamunan di warung-warung kopi merupakan bagian dari pekerjaan mereka.”

“Namun, ketika aliran timah itu ditemukan, kami bekerja lima kali lipat lebih keras dari petani dan tujuh kali lebih keras dari pedagang. Kawan, jangan kaupusingkan matematika itu. Kami bahkan bekerja lebih dari yang sesungguhnya kami sanggup. Para penambang berendam di dalam air setinggi dada dengan resiko ditelan mentah-mentah oleh buaya, berjemur seharian di bawah terik matahari sampai mencapai empat puluh derajat Celcius. Mereka mencangkul sekuat tulang sambil menduga-duga ke mana timah mengalir. Jika beruntung, mereka mendapat segenggam timah, setengah kilogram, dan dijual pada penampung seharga tujuh ribu rupiah. Adakalanya berhari-hari bekerja dengan cara mengerikan seperti itu, tak mendapat segenggam pula.

“Lalu, kembalilah mereka ke warung-warung kopi untuk melamun, untuk mengadukan nasib sesama penambang, dan melarutkan kepedihan hidup di dalam segelas kopi. Mereka tak selalu bekerja atau memegang alat untuk bekerja, namun tengoklah itu, sungguh tak adil mengatai mereka pemalas.”[2]

 

Pakcik itu sudah, saya?


[1] Jurusan Antroplogi, 1981.Usaha Pengrajin Tikar di Desa Pantai Cermin, FKIS IKIP Medan. Hal 32

[2] Hirata, Andrea. 2010. Cinta di Dalam Gelas, Penerbit Bentang ,Yogyakarta. Hal 55 s.d 57

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

4 thoughts on “Membela Melayu

  1. hehehe, gue baca bukunya. Dan mendapatkan suatu pengetahuan baru tentang orang Melayu. Btw, skripsi pik jangan malas ya, ahaha😀 *ditoyor*

    Posted by alfisyahriyani | 15 Mei 2012, 8:42 AM
  2. Kalau lu malas kenapa, pik? Iya sih, lu orang melayu, tapikan lu bukan penambang, lu mahasiswa.

    Posted by Yani | 25 Desember 2012, 2:57 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: