Kontemplasi

I. Efek terpapar film

Saya selalu menikmati pengalaman menonton film baik sendiri diantara pasangan yang melakukan tindakan-tindakan provokatif dalam keremangan bioskop ataupun beramai bersama karib di bioskop. Menonton film dalam persepsi saya sekarang adalah pencarian, ya semacam pencarian pencerahan laiknya mendengar guru bijak bestari memberikan petuah, membaca karya sastera yang ditulis sastrawan terpuji, sampai merenung panjang di kamar mandi. Pengalaman mencari dan mendapatkan pencerahan adalah harga mati ketika menonton di bioskop.

Konsekuensi logisnya, film yang saya  tonton di bioskop adalah film yang sudah saya baca resensinya di surat-surat kabar jauh-jauh hari. Sehingga tiada keraguan film apa yang pantas untuk saya nanti.

Nah, Problematikanya adalah menonton di bioskop perlu lembar-lembar rupiah, dan seperti kebanyakan warga negara Indonesia, saya adalah kelas sosial yang bisa dibilang tidak berkantong tebal untuk menyediakan anggaran untuk membeli karcis di setiap akhir pekan. Maklum pengangguran berkedok mahasiswa.

Maka dengan segala hormat dan kerendahan hati, dengan sukarela saya kiranya perlu mengunduh film sesuka-suka saya di internet, dan ampuni saya jika ini dinilai sebagai tindakan kriminal oleh sebagian kalangan dan dinilai sebagai hak kebebasan memperoleh informasi oleh sebagian kalangan yang lain.

Baik, berikut adalah film-film yang bisa dibilang memberikan tonjokkan-tonjokkan tersendiri dengan apa-apa yang saya anggap benar atau salah selama ini. Atau memberikan diskursus baru tentang apa-apa yang saya tidak ketahui sehingga saya berlagak sok tahu. Selamat menikmati dan selamat mencari link-nya untuk diunduh jika, tertarik dan ada.

*****

Bermula dari A (Indonesia, 2008)

Beberapa belas bulan yang lalu saya pernah mengikuti seminar tentang Difabel di kampus. Oia, kata ini merupakan eufeminisme dari kata disabelitas, cacat, yang dinilai kurang sopan. Difabel merupakan singkatan dari Different Ability People, yang maknanya kira-kira orang yang memiliki kemampuan yang berbeda dan mempunyai hak yang sama dengan orang-orang kebanyakan untuk terlibat dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam seminar tersebut saya belajar tentang ketimpangan yang saudara-saudara kita dapati di kehidupan masyarakat, yang dianggap tidak normal-lah, the others bagi yang lain-lah dan dianggap aib oleh keluarga sendiri-lah. Ya, mungkin bisa dibilang salah satu kelompok masyarakat yang marjinal dan terpinggirkan. Sungguh ironi yang selama ini tidak saya sadari.

Ada sesi yang paling saya ingat dari seminar ini, dimana para peserta mendapat peran sebagai Difabel. Hal ini dilakukan guna merasakan langsung bagaimana rasanya menjadi seorang Difabel untuk menilik rasa empati kita sebagai sesama manusia. Saya kebagian tidak bisa bicara, yang lain kebagian tidak bisa melihat, tidak bisa berjalan, dll.

Syaratnya selama kurang lebih beberapa jam saya dan lainnya dibiarkan berkeliaran di ruang seminar. Salah seorang perserta di sebelah saya berteriak histeris karena matanya tertutup beberapa jam, meminta tolong diajak bicara karena bosan setengah mati. Sungguh sesuatu yang depresif, bagaimana caranya saya yang notabene tidak bisa bicara berdialog dengan sesorang yang tidak bisa melihat. Jenis komunikasi seperti apa yang harus saya lakukan?

Tidak berhenti sampai disitu, ketika waktu sholat tiba. Saya keluar dari ruang seminar menuju mushollah kampus dan saya masih harus menjalan peran saya. Di sepanjang jalan beberapa rekan menyapa, saya hanya membalas senyum. Beberapa teman mengajak ngobrol, saya lagi-lagi tersenyum hampa. Runyam, setelah wudhu’ beberapa orang di mushollah meminta saya menjadi imam sholat, saya bungkam dan pening. Bukankah syarat menjadi iman harus bisa melafalkan bacaan-bacaan sholat? Iman saya sedang diuji bulat-bulat.

Beberapa pertanyaan penting tadi disajikan oleh film berdurasi 20 menit ini. Ya, ini salah satu film tercerdas yang dihasilkan tangan dingin sineas anak negeri. Film yang tak hendak mengkritik dengan mengacungkan celurit, bogem mentah namun menelisik, mengganggu dengan cara yang sangat sopan, simbolik dan bertanggung-jawab.

Sungguh saya ingin bercerita banyak namun saya menyangka pasti akan mengikis sensasi menonton film ini, percayalah.

Ini film pendek yang saya tonton dalam acara nonton bareng film pendek di Institut Francais Indonesia. Perlu dicatat, film ini menyabet film pendek terbaik FFI tahun 2011. Jadi jangan harap bisa dicari unduhannya.🙂

A Separation (Iran, 2011)

Film ini diawali dengan konflik yang fundamental dalam kehidupan rumah tangga. Seorang istri meminta cerai pada suaminya di hadapan seorang hakim. Si istri, Simin (Leila Hatami) beralasan Iran bukan kondisi yang kondusif untuk mengasuh dan membesarkan anak mereka, Termeh (Sarina Farhadi). Pindah negara adalah pilihan yang diajukan oleh Simin kepada si suami, Nader (Peyman Moadi).

Nader menolak, tidak sefaham dengan Simin sebab musababnya jelas, Nader tak hendak meninggalkan ayahnya yang terkena Alzheimer. Ia adalah tipikal anak berbakti yang ingin merawat ayahandanya hingga maut memisahkan mereka. Ah, Nader.

Simin sudah memberikan jalan tengah agar mertuanya diasuh oleh keluarganya Simin. Nader tetap pada pendirian. Mulailah pasangan ini menjalani pisah ranjang, Simin minggat ke rumah orang tuanya. Harap diingat kawan di Iran sana harus ada persetujuan suami untuk menceraikan istrinya. Ditinggal pergi oleh istrinya, Nader gamang ketika dihadapkan pada prihal mengurus rumah tangga, mengantar jemput anaknya, mengurus ayahandanya. Maka ia perlu menyewa pembantu rumah tangga. Hingga dimintalah Razieh (Sareh Bayat), seorang pembantu rumah tangga yang selalu membawa anak perempuannya kemana-mana.

Apa mau dikata ketika menjalankan tugasnya Razieh merasa tak cocok, berniat berhenti, menawarkan suaminya sebagai penggantinya, ia merasa kurang elok jika harus mengganti pakaian ayahnya Nader. Bukan muhrim. Begitu kira-kira. Jauh panggang dari api, suami Razieh tak kunjung datang menggantikan peran Razieh karena dipenjara, maka mau tak mau Razieh menjalankan tugasnya lagi.

Di satu momen ketika pulang ke rumah setelah menjemput Termeh, Nader mendapati ayahnya terikat ditempat tidur dengan dalam kondisi terjatuh. Apa yang terjadi dengan ayahnya Nader? Entahlah, mungkin shock, mungkin gagal jantung, mungkin Stroke. Yang ada Nader kalut dan mencoba memberikan nafas buatan.

Nader muntab ketika Razieh dan anaknya kembali, terjadilah adu mulut. Nader yang dilanda kemarahan mendorong Razieh hingga terjatuh di lantai. Bum! Pintu penjara sudah menunggu Nader.

*****

Film ini tergolong bukan film kasak-kusuk dengan tempo yang membuat kepala berputar, ini jenis film yang menggunakan kamera begitu kalem dalam menyoroti gerak-gerik tokohnya. Sengaja dibuat sederhana tanpa efek cahaya yang bombastis. Seperti hidup yang tampil sederhana, namun dibalik kesederhanaannya tersembul masalah-masalah yang bisa menyandung siapa saja. Dimana saja. Termasuk kita. Ini mungkin alasan mengapa film ini bisa menyabet  piala Oscar dalam kategori film asing terbaik di tahun ini.

Tengok saja Nader, pria konvensional yang gamang, belum siap menghadapi era kesetaraan gender. Simbol peran gender lelaki dalam kehidupan rumah tangga yang tiba-tiba terjepit, tak tahu hendak berbuat apa saat istri punya posisi tawar yang signifikan untuk minta cerai darinya.

Simin, adalah anak generasi emas kesetaraan gender, dimana ia mengecat rambutnya sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi lelaki, peduli terhadap kehidupan pendidikan anaknya (karena dia dosen), menyupir mobil sendiri (Sekali lagi, harap diingat kawan, di Iran ada semacam larangan atau tabu  perempuan yang menyetir mobil) dan memiliki kondisi keuangan yang mantap. Hingga perceraian adalah diksi yang tidak akan mempengaruhi eksistensinya sebagai wanita modern.

Lain halnya dengan Razieh, ia adalah cerminan terbalik Simin. Razieh perempuan tradisional yang taat pada suami walau ia diperlakukan dengan kasar. Terlebih ia terbelit persoalan klasik: keuangan. Memiliki suami yang pengganguran, dipenjara pula, dan mau tak mau ia harus keluar dari zona amannya sebagai ibu rumah tangga walau dilarang oleh suaminya. Dan astaga tak sampai disitu, ia juga didorong hingga jatuh ke tangga. Pendarahan.

Malang nian.

Korban?

Setiap tokoh punya potensi untuk diklasifikasikan sebagai korban di film ini karena adanya persinggungan dua keluarga yang secara latar ekonomi sosial berbeda. Nader sebagai pria malang yang ditinggalkan istrinya atau Simin karena kelakuan suami yang seenaknya mendorong istri orang hingga terjungkal di tangga.

Atau jangan-jangan Razieh yang terbelit masalah ekonomi dilapisi tidak fungsionalnya peran suami. Ah, mungkinkah Suami Razieh yang jadi korban keberingasan kehidupan sosial yang menutup jalan orang-orang sepertinya untuk mendapatkan pekerjaan yang laik?

Tapi, dalam pandangan saya setelah selesai menonton film ini, khususnya adegan di akhir film. Tokoh yang sebenar-benarnya bertitel korban yang perlu diselamatkan adalah . . .

The Ides of March (Amerika Serikat, 2011)

Saya beberapa tahun yang lalu senang sekali menonton drama Jepang yang berjudul CHANGE (2007) hingga saya tonton belasan kali karena kisahnya yang inspiratif: Seorang guru SD yang masih belia (untuk standar karir politik) yang maju pemilu untuk duduk di parlemen. Ia awan politik namun memiliki sikap yang jelas dan tegas dalam menghadapi isu-isu kenegaraan ketika ia diajukan dan menang dalam pemilihan perdana menteri. Film ini menambah keyakinan saya yang bercita-cita terjun ke dunia politik, ya tentunya menjadi seorang politisi.

Kira-kira siapa yang bisa membenahi sistem politik yang carut marut, jika Soe Hok Gie masih hidup mungkin ia akan berteriak lantang tentu saja anak muda. Karena anak muda punya idealisme. Golongan tua baiknya dijejerkan saja di lapangan banteng sana, ditembak satu-satu.

Ini kira-kira tesis yang ditawarkan film ini, apa yang terjadi jika ada muda yang punya semangat, punya idealisme terjun ke dunia politik. Tesis yang sama pula yang diajukan drama Jepang yang sudah saya singgung di atas. Namun tesis yang sama menghasilkan kesimpulan yang saling memunggungi, berdiri di jalannya masing-masing.

Film ini memiliki tempo yang pelan, tiada desing peluru, tak ada darah yang bercecer, konflik hanya diejawantahkan melalui ekspresi wajah yang muram. Memiliki dialog yang tak berbelit tetapi menjajikan konflik yang berliku dan tentu saja seni peran aktor-aktornya yang terpuji. Benar-benar gambaran politik di belakang layar yang tidak disadari oleh orang-orang awam.

Stephen Meyers (Ryan Gosling) adalah orang yang bertanggung jawab meracik kampanye gubernur negara bagian Pennsylvania yang akan maju sebagai kandidat presiden Amerika Serikat dari partai Demokrat, Mike Morris (George Clooney).

Meyers masih muda, punya semangat, pintar, bersih, tidak neko-neko, punya idealisme. Hingga ia terjebak pada kemelut yang membuatnya meradang dan terbengong menghadapi kenyataan yang diluar ekspektasinya.

Bagaimana ceritanya ia bisa tergoda untuk  memenuhi undangan bertemu tim kampanye lawan sebelah. Sampai-sampai ia harus ditendang keluar dari tim karena, “When you make a mistake, you lose the right to play.”

Lain lagi ketika ia mendapati kenyataan yang menyakitkan kandidat yang sedang dibelanya, kenyataan yang membuat kepalanya berdenyut sedemikian rupa untuk benar-benar mencerna anekdot garing: politik adalah medan yang berasal dari podium turun ke ranjang.

Puncaknya ia harus bertindak mengembalikan karirnya yang terancam luluh lantak berantakan walau ia berpotensi menambah daftar panjang anak muda yang kalah dan kehilangan idealismenya. Kehidupan politik yang muram hingga membuat saya merenung panjang, jikalau terjun ke dunia politik apakah saya akan bernasib sama seperti Meyers?

Le Grand Voyage (Prancis, 2004)

Anakmu bukan anakmu.

 Anakmu adalah putra putri kerinduan Kehidupan terhadap dirinya sendiri.

Mereka terlahir lewat dirimu tetapi tidak berasal dari dirimu.

Dan meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu.

Puisi diatas adalah terjemahan Oom Sapardi Djoko Damono dari buku Kahlil Gibran yang berjudul The Prophet.

Seperti puisi diatas film Le Grand Voyage yang dirahkan oleh Ismaël Ferroukhi mengetengahkan begitu membentangnya jarak antara orang tua dan anaknya. Entah ini rahmat, entah ini celaka.

Alkisah seorang bapak lebih separuh baya berencana naik haji tetapi dengan cara yang unik yaitu naik mobil dari Prancis ke Mekkah. Jika kita iseng melihat di peta tentunya perjalanan ini melintasi 10 negara. Si bapak tak mau sendirian ia meminta anaknya Reda untuk menemaninya mengendarai mobil.

Reda adalah pemuda yang gagap terhadap asal-usulnya, tidak bisa berbahasa arab, hanya mengerti ketika mendengarnya, sudah meninggalkan ajaran agama dan menjalin hubungan dengan wanita yang tak seiman dengannya bertolak belakang bapaknya yang berbahasa arab, masih memegang teguh ajaran agama Islam. Tentu saja, hubungannya dengan kekasih hatinya ditentang karena melanggar ajaran Islam.

Akhirnya Reda dengan terpaksa ikut ayahnya ke mekkah dengan mobil, ia sebagai juru kemudi. Sepanjang perjalanan tak banyak komunikasi yang terjadi antara ayah dan anak ini. Mereka memiliki bahasa yang berbeda. Hanya diam yang agaknya bahasa yang bisa dimengerti oleh masing-masing pihak. Anakmu bukan anakmuDan meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu.

Film ini digarap dengan miris sekaligus cantik.  Itu saja. Saya tak bisa berkata-kata untuk mengomentari film ini kecuali dengan diam, karena menurut Ismaël Ferroukhi diam adalah bahasa paling intim. Lalu, apa hendak dikata lebih baik saya diam saja . . . . . . . . . . .

Sebagian besar Foto diambil dari imdb.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

11 thoughts on “I. Efek terpapar film

  1. aaaaakkk pengen nonton tapi banyak yang ga bisa diunduh ya😦

    Posted by nanien | 17 Mei 2012, 12:06 PM
  2. bagus2 yah filmnya

    Posted by videoyangunik | 25 Mei 2012, 5:30 PM
  3. adakah punya link download ‘berawal dari A’?

    untuk film yg lain sudah saya tonton, dan rata2 emang di atas rata2 :hammer
    dan ya, tentu kualitas drama film iran sudah sangat di akui.

    apa sudah menonton turtles can fly?

    Posted by R_batagar (@enJolaja) | 13 Januari 2014, 12:11 PM
  4. bang upik, aku sudah liat filem yg lainnya. cuma ‘bermula dari A’ itu aja yg belum😦 masa iya gaada link unduh nya? sudah 2 tahun lewat ini😦

    Posted by R_batagar (@enJolaja) | 16 April 2014, 11:03 AM
  5. di kalimantan gaada pemutaran pilem pendek, susah jauhdari sinyal ibukota

    Posted by R_batagar (@enJolaja) | 8 Maret 2016, 2:22 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: