Pemantik

Angka tercecer kisah

Hari ketiga puluh satu, minggu ke empat, luna kelima[1], Pukul 11.11 WIB.

Di hadapan saya terpancang sepucuk nisan. Nisan yang masih basah oleh kesedihan yang dihasilkan kelenjer air mata. Dalam ingatan yang tak pernah benar-benar ada, beberapa hari yang lalu segalanya tumpah ruah: wajah muram, bunga kembang rupa, do’a-do’a sendu, sendal-sendal yang penuh lumpur lalu orang-orang mulai senyap, pergi berlahan meningalkan tapak-tapak. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah. Entah apa yang sedang dikerjakan tumbuh ringkih itu di bawah sana. Adakah ia mendengar, adakah yang ingin ia katakan, adakah ia menyerah, adakah ia marah pada saya sebelum saya pergi jua dari sini.

Betapa hari sebelumnya Dayang meminta saya untuk pulang, ia katakan ayah sedang bersiap melunasi umurnya, sakitnya kian parah dan seluruh keluarga sudah berkumpul akur mengikhlaskannya. Saya diam tak berkomentar banyak, dayang memohon-mohon meminta saya pulang. Saya bergeming hingga ia katakan bahwa ayah ingin berjumpa. Nama saya selalu disebut-sebut.

 

71 % keluarga di Indonesia memiliki 1 orang anggota keluarga yang perokok[2]

Sewaktu kecil, saya selalu mengulang-ngulang pertanyaan yang sama,

“Yah, mengapa senang mengisap benda aneh itu dan  mengeluarkan asap dari mulut?”

Ia pun akan menjawab dengan pertanyaan yang selalu sama,

“Mengisap benda ini membuat ayah merasa tenang dan bisa berpikir lebih baik.”

Tiap subuh ia akan duduk di teras rumah menyerumput secangkir kopi sambil menyalakan benda aneh itu, mengisapnya dalam-dalam dan mengembuskan asapnya pelan-pelan. Wajahnya menggambarkan nikmat yang tiada dua. Bisanya ibu akan datang  setelah pekerjaannya di dapur selesai dan mereka mengobrol entah tentang apa.

Pun sehabis makan malam, menonton televisi, selesai beribadah, saat buang air besar, sehabis mandi, benda beberapa sentimeter itu yang selalu bersamanya. Selalu. Tak ada pengecualian.

 

66 % perokok pasif di Indonesia adalah kaum hawa.[3]

Ibu saya seorang ibu rumah tangga, mengurus keperluan anaknya mengurus keperluan suaminya. Perhatiannya bak embun di tengah gersangnya gurun sahara, tatapan matanya riuh rendah dendang paling indah, ucapannya ibarat madu yang paling manis. Begitulah saya memandang ibu. Seorang hawa yang sangat saya cintai tiada banding di dunia. Sampai-sampai ketika saya menikah nanti istri saya harus seperti ibu, minimal mendekati ibu.

Saat kenaikan kelas 6 SD adalah pembuktian pada Ibu  bahwa rangking satu adalah hadiah yang ingin saya beri. Namun saat itu ibu dirawat di rumah sakit. Pingsan setelah muntah darah. Esok harinya ibu tiada. Kehilangan paling besar dan membekas paling dalam.

Tak ada yang pernah bercerita mengapa ibu bisa tiba-tiba meninggal. Ayah hanya bungkam saat saya tanya,

“Ayah, ibu sakit apa?”

Satu tahun berselang. Tanpa  meminta pendapat saya, ayah menikah lagi dan lahirlah Dayang. Saya menjadi pendiam. Saya menjadi pemarah. Merasa kerdil tak dianggap, tak mengerti, apakah ayah begitu cepat melupakan ibu. Saya berteriak di depannya bahwa Ibu tak akan bisa digantikan. Saya bertekad tak akan mengajaknya bercakap-cakap lagi. Berbicara hanya seperlunya saja antara kata iya dan diksi tidak.

Kelas 1 SMA saya tahu ibu menderita kanker paru-paru dan ia menyembunyikannya dari saya.

 

Satu  orang meregang jawa setiap 5,8 detik karena rokok.[4]

Ayah, di depan nisan ini aku ingin mengatakan bahwa aku menyerah. Akhirnya aku datang juga setelah berhari-hari didera rasa tak nyaman. Aku tahu tatapan mata orang-orang ketika aku ke sini: Anak durjana, anak durhaka, anak tak tahu adat. Tapi sayang sekali mereka tak benar-benar mengerti bagaimana perasaanku saat engkau merenggut ibu dariku dengan kebiasaanmu itu.

Aku marah ayah. Terlampau marah untuk meminta pertanggungjawaban darimu. Di benakku hanya ada  kesangsian apakah engkau mencintai aku dan ibu. Apakah orang yang mencintai begitu tega merengkuh jiwa yang dicintainya. Apakah orang yang mencintai tak sedikitpun mau mengubah kebiasaan durjananya dengan benda jahanam itu.

Ayah aku tak pernah mengerti bagaimana perasaanmu dan mengapa tak kau tak pernah menceritakan perasaanmu? Sungguh, apakah aku sekerdil itu.

Ayah, sebelum aku pergi sebaiknya kita berdamai saja. Ku pikir tak perlu mengungkit kemarahan yang lalu-lalu. Kita lunasi sampai disini. Kaupun kini boleh mengisap benda itu di bawah sana. Aku tak akan menggangu. Aku punya kehidupan yang harus kujalani kini. Terima kasih telah melahirkanku dan memberikan contah ayah yang takkan kutiru.

Dan sebagai penghormatan terakhir, kupersembahkan sebungkus rokok keluaran terbaru rasa kopi kesukaanmu. Semoga kau menyukainya.


Nb: Naskah ini saya buat untuk dimuat di Majalah Katajiwa, namun belum laik masuk seleksi editor karena, ya tidak bagus.😆

[1] Hari tanpa tembakau sedunia

[2] Majalah Tempo edisi 28 mei -3 juni 2012

[3] ibid

[4] ibid

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

2 thoughts on “Angka tercecer kisah

  1. Satu kata: keren…

    Posted by Asto Hadiyoso | 12 Juni 2012, 12:53 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: