Pemantik

Akademos

Sampailah di satu saat. Hidup adalah sketsa-sketsa yang terlihat di balik jendela pada pagi-pagi kita membukanya, membiarkan matahari masuk menerobos kamar. Langkah-langkah yang kita ayun sejak pintu rumah hingga melintas jalan-jalan, hutan-hutan, padang-padang, dan gunung-gunung. Lalu kita kembali lagi ke rumah pada setiap hari kita bergegas menghadap dunia. Di rumah, di rumahlah kita menemukan diri berbaring, tak pernah kemana-mana, tak pernah berkata-kata. Tapi, rumah yang mana?

Sekarang di sini aku, terkatung-katung pada kontinen makna. Laut yang keras, kata yang deras. benak yang terperas. Di sini aku bertahan terus sebagai diri, menambal retak-retak, menahan gempuran daya yang mebelah-belah, bergerak saja ke depan. Di sini aku, berkuat mengingat arti lahir di dunia, memahami lemparan nasib, menerka maksud jatuhnya Adam dan Hawa, menyingkap kepungan dunia, melompat-lompat, mengurai-urai, memaknai saja segalanya. Di sini aku menjaga kilauan api dalam diri, menjaga gelora, beriak dalam temaram, bertahan tak padam.

(Bagus Takwin dalam Akademos, halaman 368: 2003)

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: