Pemantik

Dara penyayang

Dia selalu tahu, ada yang diam-diam memperhatikan langkah kecilnya di setiap pagi saat udara begitu perawannya. Dia tidak dungu, jika ada sepasang mata yang mengawasinya saat ia mengeser-geser segala macam gangguan yang menghalangi jalannya. Dia pun pura-pura tak acuh ketika mata itu mengerucut seolah-olah berisyarat, “Kau jangan jauh-jauh dariku.”

Mata itu tak lepas-lepas menatapnya, lekat, namun ia terlalu malas untuk memeluknya. Pagi hari bukan waktu yang pas untuk berburu. Pagi hari adalah waktu bermalas-malasan, menunggu mentari memaparkan sinarnya yang menghangatkan tubuh. Tentu sambil bergulingan, jika beruntung mendapat bonus elusan hangat di kepala. Pagi yang indah, “Aku takkan bisa jauh-jauh darimu.”

Dia mencintai mata itu. Bukan, dia mencintai tatapan mata itu. Bukan, dia mencintai cara mata itu menatapnya. Tatapan yang punya hasrat kuat untuk selalu mencintai segala geriknya. Hingga pada akhirnya dia mencintai empunya sepasang mata yang mencintainya.

Tak perlu, dia tak pernah perlu benar-benar tahu, cintanya bertambah-tambah ketika dia mengelus-elus kepala yang menempel mata yang tak henti-henti menatapnya. Tanpa kalimat yang melodrama, hanya tatapan penuh makna. Mereka sepakat bahwa, “Kita takkan jauh-juah. Kita takkan kemana-mana.”

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

2 thoughts on “Dara penyayang

  1. cieee upin..kejar terus ya daranya

    Posted by djawahe | 19 Juli 2012, 5:30 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: