Cengengesan Banalisme

Mandi: dimulai dari keengganan diakhiri dengan kesegaran

Mandi senantiasa dimulai dari keengganan berakhir dengan kesegaran. Mandi menjadi tradisi manusia-manusia terpuji. Tak bisa disangkal. Tak bisa ditolak. Selagi bumi pertiwi memberikan air tanah dengan cuma-cuma. Selagi tubuh memancarkan bau-bau durjana. Selagi daki-daki menempel dengan mapan, ketat, lagi mantap. Selagi masih ada ibu-ibu yang cemas tumbuh kembang anaknya. Mandi adalah mutlak dan niscaya.

Kita mundur dengan buru-buru pada masa kegelapan. Para petinggi kerajaan, pemuka agama di Eropa sana percaya bahwa mandi adalah tindakan bunuh diri. Roh-roh jahat akan menyerang orang-orang yang mandi. Mandi menjadi sangat terkutuk kala itu. Napoleon Bonaparte adalah fakta sejarah. Ia tak pernah mandi bertahun-tahun. Dan jangan kau bayangkan kawan, seperti apa bau badannya. Tak usah dibayangkan. Tak perlu.

Kita mundur lebih jauh. Pada masa zaman nabi Nuh. Umatnya memang keras kepala: selain tak mau beriman, melakukan hal-hal tercela, tak mau mandi pula. Maka Tuhan yang Maha Kuasa menumpahkan air bah di pemukiman mereka. Mau tak mau, mandilah mereka semua sambil meregang nyawa.

Kembali. Banyak keputusan-keputusan penting yang lahir saat mandi. Karir. Keuangan. Percintaan. Berapa banyak manusia yang mengeksplorasi, memilah, menentukan tawaran pekerjaan mana yang harus dieksekusi. Berapa banyak manusia yang menimbang-nimbang kepada siapa lagi harus berhutang. Berapa banyak manusia yang bersiasat menyusun langkah untuk berselingkuh ketika air kran berlompatan jatuh dari kulit kepala: Banyak.

Mandi melahirkan inspirasi. Kita tentu tak asing dengan idiom ‘Eureka!’. Ya. Archimedes yang lari terlanjang dengan girangnya itu, setelah mendapatkan inspirasi perkara menentukan bobot emas murni di mahkota raja. Saat ia berendam di bak mandi kesayangangnya, air meluap keluar setara dengan berat tubuhnya. Dengan potensi megalomanianya, hukum archimedes pun terbit. Publik terperangah dua kali lipat: hukum Archimedes yang cemerlang dan Archimedes yang maraton bugil ke seluruh kota sambil berseru, “Eureka!”

Maka, jika ada orang yang begitu lama mandinya. Jangan marah. Jangan risau. Jangan gundah. Karena mungkin saja peradaban menanjak hebat serta signifikan ketika ia keluar kamar mandi.

Sebab itu, mandi adalah anugerah yang tak bisa dilewatkan begitu saja. Selamat mandi. Selamat menyiasati hidup.

Untuk saya yang malas mandi.:mrgreen:

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: