Kontemplasi

Pengampunan

Betapa dunia ini dipenuhi oleh cerita orang yang mati, hampir mati, dan menunggu mati. Banyak kisah di kitab-kitab tentang kaum yang membangkang maka dibinasakan, dihantam bala lalu mati mengenaskan. Bertabur dongeng tentang anak yang dikutuk oleh ibunya, mati sebagai batu, monyet, ataupun babi hutan. Atau penyair yang bersabda prihal pecinta yang mati menenggak racun, mengiris nadi, atau menjadi gila lalu menceburkan diri ke sungai karena kehilangan kekasih.

Mati adalah wacana yang sama sekali tidak indah. Tidak bisa dipungkiri, manusia menjadi terobsesi untuk terus hidup di dunia ini. Percaya pada premis yang beresiko: keabadian adalah kemungkinan.

Para ilmuwan diam-diam mencipta teknologi kloning agar tubuh manusia tetap paripurna. Dokter bedah kulit dan sejenisnya memperkenalkan serum anti penuaan dini yang dilirik oleh agen kapital demi propaganda awet muda yang merupakan anak kandung kampanye standar kecantikan. Politisi dan pengusaha ramai-ramai membuat biografi dengan menyewa penulis hantu agar orang-orang mengenang hidupnya (Hei, seseorang akan terus hidup selama ada yang mengenangnyakan?) dan mengingat sepak terjangnya selama ini.

Sementara manusia terjebak dengan konsekuesi kematian tadi, ada beberapa manusia yang acuh saja, nihil obsesi yang mengebu-gebu.

Insinyur statistik melihat kematian sebagai deret-deret angka yang bertambah ketika bencana alam, kecelakaan ataupun saat lebaran tiba. Dokter forensik melihat kematian sebagai mayat siapa lagi yang harus dipilah-pilah potongan tubuhnya, menduga-duga kapan dan sebab kematiaannya, korban kecelakaan, korban pembunuhan. Tukang gali kubur melihat kematian sebagai tanah yang terjungkal dari cangkul, keringat yang menetes serta upah yang cukup untuk mengganjal perut.

Dan entah dengan pria ini. Pria yang sedang membayangkan, mereka-reka kematiannya. Ia menulis:

****

Saat saya menulis tulisan ini, dengan bantuan headphones, di telinga saya mengalir lembut simfoni-simfoni yang diaransemen dengan gesekan violin yang mengiris hati. Satu jam lebih saya memilih-milahnya untuk mendapatkan suasana hati sendu, sedih, melankolis dan lara. Saya sepakat bahwa musik dapat membantu membangkitkan kenangan-kenangan tertentu yang bisa menstimulus suasana hati tertentu. Dalam konteks ini sendu dan karib-karibnya.

Hidup saya bahagia di umur yang sebagian sejawat saya mengeluhkan hidupnya yang terasa menjemukan di dunia maya sana. Saya bahagia atas ketidakbahagiaan orang lain[1] dan paling penting saya bahagia dengan ketidakbahagiaan saya sendiri. Saya bahagia atas emosi-emosi yang kini terasa stabil. Saya merasa beginilah cara saya bergerak mendekati kemanusiaan saya yang meredup dihantam realitas yang saya terima secara ambivalen.

Kesepakatan yang tak lengkap. Saya sepakat bahwa dunia bukanlah tempat yang menjanjikan kebahagiaan. Tapi saya tak sepakat jika hidup ini harus diisi dengan ketidakbahagiaan. Saya sepakat bahwa manusia tidak pernah bisa memilih untuk dilahirkan dan hidup di dunia ini. Tapi saya tidak sepakat jika membunuh diri sendiri adalah pilihan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Mati adalah konsekuensi. Tidak bisa ditolak namun tidak bisa dipercepat. Dan moral hidup saya entah menjejak dimana.

Saya membayangkan kematian saya sendiri:

Kanker paru-paru. Ini kemungkinan yang saya dapatkan bila tiap pagi, sore, ataupun malam hari setelah hujan reda tetangga sebelah membakar sampah. Asap hasil pembakaran tidak sempurna itu menerobos melalui ventilasi kamar dan menyelinap masuk melalui sistem pernafasan lalu mengendap dalam paru-paru. Di lain pihak sebagai makhluk marjinal di negeri pemuja rokok, apa hadiah yang pantas untuk saya selain julukan yang penuh olok-olok: perokok pasif.

Ditabrak sepeda motor atau mobil. Saya bisa menjamin lagi-lagi menjadi minoritas di sini. Pejalan kaki. Saya menjadi pejalan kaki dari sederet pria-pria tak bisa diandalkan sebab tidak bisa mengendarai sepeda motor ataupun mobil, dan tidak punya cukup uang untuk membeli sepeda. Pejalan kaki adalah makhluk yang nyawanya selalu terancam ketika menyeberang di jalan raya yang bahkan menyediakan zebra cross. Diserempet mobil sedot tinja memang jarang terjadi, namun ditabrak mobil ataupun dihantam pengendara sepeda motor itu lumrah bagi pejalan kaki. Dan nyawa manusia begitu murahnya.

Tenggelam. Ini bukanlah lelucon yang baik. Laiknya semut yang mati di gundukan gula. Beginilah saya. Anak manusia yang dilahirkan dekat dengan pesisir pantai tapi tidak bisa berenang. Tak perlu ditertawakan. Saya mohon.

Dihakimi massa. Saya menggangap wajah saya tipikal penyanyi dangdut yang selalu meradang, tidak pernah saya menduga orang lain menganggap bentuk wajah saya ini kriminal. Saya selalu berusaha ramah kepada setiap orang yang menyapa saya walau saya bukan pribadi yang ramah. Berkali-kali ketika lewat di gang sempit di malam hari dekat indekost, saya diintegosi oleh beberapa warga sekitar apa niatan saya lewat. Berkali-kali jua saya ditanya yang macam-macam oleh satpam kampus ketika malam hari mengambil uang di ATM. Dan berkali-kali pula penjaga toko berakhiran mart melirik penuh curiga seakan-akan saya akan mengutil ketika saya terpaku hampa di deretan rak celana dalam. Sedih sekali.

Kanker usus, otak, mulut, lambung. Mie instan adalah makanan yang mudah didapati di warung-warung dan jadi konsumsi tetap anak kos berkantong tipis. Mie instan juga jadi simbol bantuan makanan yang disumbangkan ke korban bencana. Mengapa harus mie instan? Jangan tanya saya. Yang jelas, memakan mie instan seolah-olah mengisyaratkan bahwa saya adalah salah seorang korban bencana. Bencana yang diam-diam mengintai usus, otak, mulut dan lambung saya.

Gangguan jiwa. Pernahkah suatu pagi kau terbangun dengan tergagap dan merenung panjang prihal mimpi yang terasa begitu nyata? Saya pernah. Di mimpi itu saya dikondisikan pada sebuah pilihan sulit. Saya bingung ketika seorang pria yang saya kenal dengan senyum mengembang menunjuk tiga orang perempuan yang terikat. Mereka siap untuk dibuang ke lumpur hisap. Perempuan itu yang pertama adalah ibu saya. Yang kedua adalah istri saya. Yang ketiga anak perempuan saya. Dalam suasana hening dan gerak lambat saya membaca getaran di bibir pria itu, “Hanya ada satu yang boleh selamat, kau memilih yang mana?”

Durjana sekali, ketika bangun saya lupa pilihan apa yang saya buat dan mengapa. Seminggu saya merasa depresi memikirkan ini. Pikiran saya tidak bisa dikendalikan. Dan minggu-minggu selanjutnya kembali mimpi yang lain bermunculan dengan tema yang hampir sama tentang pilihan. Dan saya memikirkannya hampir-hampir gila.

Pernakan kau mendengar suara-suara asing yang sangat mengganggu? Saya pernah. Suara ini datang tiba-tiba ketika sedang sendiri menatap pagi, ia berpuisi panjang bernada romantik. Saat makan, ia mengoceh prihal hal-hal yang tidak bisa saya anggap penting. Saat menjelang tidur, ia menjelma menjadi seorang narator film dengan sudut pandang aku yang mengisahkan biopik dirinya.

Lalu, pernahkah kau berbicara dengan tembok dan tembok berbicara balik denganmu? Saya tak pernah.

Maka jika di suatu pagi engkau mendapat pesan singkat di layar telepon genggam bahwa saya telah mati dengan sebab musabab di atas atau dengan sebab yang lain, saya harap tak ada yang menangisi kematian saya karena hanya membuang-buang energi sahaja. Yang saya harapkan di umur saya yang makin bertambah ini, maafkanlah atas kesusahan-kesusahan hidup yang telah saya timbulkan. Lepaskanlah saya dengan pengampunan. Terima kasih.


[1] Jika ada yang orang yang mengeluhkan hidupnya tidak bahagia tentu saja kita akan membandingkan ketidakbahagiaannya dengan ketidakbahagiaan kita. Dan kemungkinannya adalah kita akan bergumam, “Ternyata ada yang lebih merana hidupnya, mengapa saya harus tidak bahagia?”

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: