Raun-raun

Di boncengan

Prolog.

Ada suasana yang haru saat kaki tak lagi menjejak di bumi, ketika ia didudukkan di atas tempat duduk di bagian belakang: sebuah boncengan sepeda. Kaki-kaki yang kuyuh mulai mengayuh, melaju pelan penuh kepastian. Ia memeluk pinggangnya, memastikkan tidak terlempar pada momentum percepatan ini. Pergesekan besi-besi tua menimbulkan bunyi klasik, berderit laiknya burung bijak yang berkisah tentang pagi yang datang kembali.

“Kita mau kemana?”

Yang ditanya menoleh sebentar dengan segaris senyum yang telah dikalahkan wajah sedihnya lalu berlalu, kembali mengayuh.

****

Dialog.

“Saya pikir engkau keliru menganggap saya lelaki yang baik.”

“Sekiranya aku tak keliru. Bagaimana bisa?”

“Lelaki yang baik adalah lelaki yang sayang keluarga, punya penghasilan tetap, rajin beribadah, begitu?”

“Ya begitu.”

“Sinetron.”

“Itu simbol. Terlebih sekadar di permukaan.”

“Pada hakikatnya saya adalah lelaki yang egois. Saya sayang keluarga karena mereka menyayangi saya. Sebuah reaksi yang wajar. Dan saya merasa nyaman dengan hubungan seperti ini. Saya merasa aman.”

“Saya punya penghasilan tetap tentu saja saya tak mau susah. Saya tak mau menderita dengan hidup luntang lantung.”

“Saya beribadah untuk menentramkan hati. Karena saya takut masuk neraka.”

“Salah kalau menganggap saya lelaki yang baik, karena saya hidup untuk diri saya sendiri. Walau saya pun tak tahu kalau ditanya lelaki yang baik itu seperti apa.”

“Oh menarik sekali. Bagaimana kalau seandainya jika kita punya ukuran yang berbeda dengan kata baik.”

“Sayang keluarga itu penting. Aku percaya bahwa keluarga adalah hal paling esensial dalam pembentukan watak manusia. Jika keluarga saling menyayangi, anak-anak yang dihasilkan akan tidak berbuat kemungkaran di muka bumi ini. Dunia ini aman.”

“Bukankah punya penghasilan mengurangi beban negara mensukseskan program penumpasan kemiskinan dan pengangguran?”

“Apa salahnya beribadah karena takut neraka dan mendapatkan kedamaian hati?”

“Lihat, kau itu lelaki yang baik, mungkin kau merasa egois tapi menurutku kau egois karena kau tak mau menyusahkan orang lain.”

“Kata-kata yang manis sekali. Sayang saya mengidap diabetes melitus.”

****

Monolog.

Aku telah kehilangan sebelah penglihatan. Beberapa tahun yang lalu. Luas cangkupan pandanganku kini menyempit. Aku merasa lebih baik, bisa lebih fokus pada satu hal, satu kepercayaan, satu kesepakatan dan satu tujuan. Banyak hal penting yang tidak menjadi penting kini, dan banyak hal yang remeh menjadi sangat-sangat remeh, banalisme yang berbau tengik.

Sebagian dari kita beranggapan, ia dilahirkan untuk mencari kebahagiaan tanpa terlalu mengerti kebahagiaan itu apa. Jenis kebahagiaan yang didapat ketika menemukan selembar lima ribu rupiah di kantong ketika kehabisan uang jajan-kah? Kebahagiaan yang dirasa ketika menyeberang di jalanan lalu seseoraang yang mengekor di belakang kita ditabrak pengendara motor? Atau kebahagiaan ketika meminum teh hangat kala musim hujan?

Bagaimana seandainya kebahagiaan adalah reaksi kimia di dalam otak atas prilaku dari individu itu sendiri. Posisi kebahagiaan adalah efek samping. Ini mungkin bonus yang tidak bisa terlalu diharapkan. Kadang-kadang ia menjelma menjadi ilusi. Jika begitu adanya, maka kebahagiaan bagiku tidak lagi menjadi penting.

Benarlah kiranya, jika lahir, hidup di dunia tak ada sangkut pautnya dengan mencari kebahagiaan karena dunia tak pernah menjanjikan hal demikian. Kini yang menjadi penting adalah keyakinan sepenuh hati bahwa aku hidup, aku berfikir, aku merasa dan aku mengucapkan dengan mantap,

“Aku sedang berada di jalan yang tepat. Entah itu menderita. Entah itu bahagia.”

****

Epilog.

Krikil-krikil kecil menjauhi ban sepeda yang berputar, takut tergilas pecah dan melukai pengayuh sepeda itu. Debu berterbangan, terik hari rasa-rasanya membakar ubun-ubun kepala. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan yang dibonceng masih tetap di peraduan. Ia menarik tangan yang dibonceng menaruh di pinggangnya, sebagai isyarat agar peluklah erat, jangan lepaskan, karena jalanan tak lagi nyaman.

“Kita mau kemana?”

Ia menoleh sebentar dengan segaris senyum yang telah dikalahkan wajah sedihnya, lalu berkata, hampir berbisik,

“Tenanglah di boncengan.”

Ia kembali mengayuh. Terus mengayuh.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: