Kontemplasi

Pengakuan

Sebagian besar dari populasi manusia di bumi punya perkara yang menggelayut di kepalanya, selalu ia bawa kemana-mana. Sebagian menyebutnya tantangan tetapi lebih banyak yang menyebutnya masalah. Perspektif. Mungkin hanya Lenka yang menganggap masalah sebagai temannya. Yang lain mudah saja: ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan saat itulah masalah berkelindan.

Ada orang-orang yang melenggang di atas bumi dengan kalem seolah-olah tak ada yang salah dengan hidupnya. Ada orang-orang yang berjalan dengan tertunduk-tunduk seolah-olah ia sedang menandu masalah hidup yang tak tertangguhkan. Saya masih ragu ada di kelompok mana.

Anda boleh mengganggap diri anda itu unik tetapi jangan terburu-buru mengganggap diri anda spesial. Ini perlu agar tidak dianggap dungu oleh statistik yang menjadi fondasi dunia yang dibangun dari rasionalitas kuantitatif.

Maka izinkanlah saya menyebut diri ini unik dan merasa tiada yang spesial. Sama dengan manusia-menusia yang lain. Sama-sama punya masalah.

Saya sudah menatap semut yang berjejer masuk ke kamar. Berjam-jam. Nihil. Tak ada apa-apa. Karena kesal, saya injak mati semut-semut malang itu.

Saya sudah mengejar kucing bengal yang menyemprotkan urinenya kemana-mana. Saya hamtam dengan sandal jepit. Meleset. Gagal berkali-kali. Dan ia tetap datang menjalankan ritual sucinya.

Saya sudah menadahkan tangan pada tetesan-tetesan hujan yang menyelundup melalui asbes kamar. Semakin lama saya menampungnya, semakin deras ia berjatuhan. Tiap hari. Tiap menjelang sore.

Saya sudah menatap pagi yang selalu dilalui tetangga dengan pergi bekerja, matanya yang lelah, jalan tak tegap, tangis bayi, teriakan ibu-ibu yang menyuruh anaknya mandi, sampai alarm yang berdenging tak berkesudahan.

Saya sudah mencobanya.

Tapi tak ada kenyaman yang saya dapat. Saya hanya berlari dan berlari dari masalah. Dan masalah itu juga berlari dan berlari dari saya. Kami saling menjauh. Aneh sekali, rasa itu, ya rasa yang semakin meletup-letup.

Akhirnya saya tahu. Bahwa tak ada gunanya berlari dari masalah. Masalah sudah rindu dengan saya agaknya dan tentu ia sudah menunggu saya di tempat yang menawarkan kenyamanan untuk berjongkok berpuluh menit, berulang-ulang, berbincang dengan perut yang tak hentinya bergejolak: Toilet.

Tertanda

Saya yang sedang diare

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

2 thoughts on “Pengakuan

  1. 😀

    Hampir terbawa melankolis, hingga membaca kalimat terakhir
    Kadang tulisan seperti ini mendatangkan “harapan tidak sesuai dengan kenyataan saat itulah masalah berkelindan.”😦

    Posted by Krisna Puji Rahmayanti | 5 Desember 2012, 2:06 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: