Pemantik

Pengasingan

Saya sedang tersesat di planet bumi. Bumi yang begitu asing dengan manusianya yang begitu asing pula. Dan sungguh celaka, manusia menamai saya alien. Alien yang berkepala besar, bertubuh ramping kecil dan berjari tiga. Sungguh imajinasi yang luar biasa.

Potret tubuh saya tidak seperti itu, secara teknis tubuh saya seperti kebanyakan manusia-manusia yang lain. Berkepala satu, bertangan dua, berjari 5 pasang, berjalan tegak. Hanya saja imajinasi itu tercipta disebabkan saya enggan menampakkan diri karena saya membenci manusia. Saya menjauhi manusia. Tak ingin berhubungan dengan manusia. Tidak. Sama sekali tidak.

Manusia adalah makhluk yang mengerikan.

Pada level individual manusia hanya mementingkan dirinya sendiri. Segala urusan dikangkangi asal itu berfaedah, ya tentu saja untuk dirinya sendiri.

Pada level keluarga manusia senang sekali memperlakukan orang lain seperti apa yang dikehendakinya. Ayah mengganggap Ibu sebagai babu profesional yang bekerja tanpa bayaran 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu. Ibu mengganggap ayah adalah mesin uang yang pergi pagi pulang malam. Anak mengganggap ayah dan ibu mereka adalah inang yang bisa diparasiti, dihisab habis sari pati hidupnya. Ayah Ibu mengasetkan anak, alat untuk mengangkat status sosialnya.

Pada level masyarakat:

Lembaga pendidikan. Guru adalah agen cuci otak yang menguras habis kapasitas intelenjensia muridnya lalu mengisinya dengan jika A benar maka A adalah benar, jika B salah maka B adalah salah. Mengapa A benar dan mengapa B salah? Tak ada yang tahu karena menteri pendidikan memfatwakan seperti itu. Dan siswa lebih senang membolos, menonton film senggama, menenggak tembakau di toilet ataupun kantin, baku hantam dengan siswa sekolah lain lalu memperolok kelakuan guru-guru mereka.

Rukun tetangga. Tetangga satu tak pernah tahu siapa tetangga di sebelahnya. Tetangga satunya lagi mengutuk kelakukan tetangganya. Bergunjing sepanjang waktu. Saya hanya menunggu waktu ada pertumbahan darah dalam relasi seperti ini. Dan koran kuning nanti akan memasang berita besar-besar dengan judul yang provokatif:

A MENGHABISI NYAWA TETANGGANYA Z,

KARENA KESAL SERING DIGOSIPI PUNYA KEMALUAN YANG KECIL.

Pada level negara:

Kepala negara setiap hari mengucapkan pidato kepresidenan prihal bencana sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Ia berkeringat dingin, matanya celingak-celinguk melihat teks pidato, tak tahu benar apa yang ia sedang baca. Rakyat tertawa terbahak-bahak menatap layar televisi. Dungu. Ujar mereka.

Anggota dewan tidur saat rapat, membuang-buang anggaran negara saat plesir, berdebat panjang tentang omong kosong, membela diri: kita sedang memperbaiki kinerja karena itu anggaran untuk perawatan otak ditambah agar kami tetap waras. Pandir. Teriak kesal rakyat.

Hakim pun tak kalah menggilanya. Ada duit habis semua perkara. Rakyat tak pernah tahu maka mereka cuma mendengkur saja.

Rakyat. Apa yang mereka lakukan? Membunuh saudaranya yang berbeda keyakinan. Saling memaki di tengah jalanan yang macet. Membuang sampah di sungai, membabat hutan, lalu mengutuk saat hujan datang. Berebut sembako. Saling injak. Saling desak-desakan. Di kereta. Di Bis. Di jalan. Di bursa kerja. Di liang lahat. Kepala negara, anggota dewan, dan hakim dengan kompak lagi serasi berujar dengan simpatik, “Saya prihatin.”

Pada level dunia:

Perang! Perang! Perang!

Perang ekonomi. Perang budaya. Perang senjata.

Jeda! Jeda! Jeda!

Genjatan ekonomi. Gencatan budaya. Gencatan senjata.

Nuklir! Nuklir! Nuklir!

Di adu nuklir. Dunia pun berakhir.

(Saya kira ini jadi lirik yang asik jika dinyanyikan H. Rhoma Irama)

Lihatkan. Tak sudi saya bergaul dengan jenis makhluk seperti ini. Itulah manusia.

Untuk itu saya menulis catatan kecil ini agar manusia-manusia durjana itu mengerti nama saya bukan alien. Nama saya sebetulnya adalah nasi. Saya sedang tersesat di planet bumi. Bumi yang begitu asing dengan manusianya yang begitu asing pula. Dan sungguh jahaman, manusia menamai saya alien. Walau sebenarnya nama saya nasi. Alienasi.

*****

Tulisan ini pada hakikatnya dibuat untuk dikirim di majalah Langit Sastra namun sepertinya ditolak. Ya sudah, ditaruh di sini saja.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: