Pemantik

Dihantam harga diri

Konstelasi sebuah hubungan itu unik, kadang-kadang gaib. Si Anu dengan Si Inu ongkang-ongkang kaki saja saat berpelukan sedang Si Anu dengan Si Onu agak-agak kikuk jika kondisi menyebabkan mereka harus berpelukan. Banyak hal menyebabkan hal ini kiranya, bisa jadi begini:

Si Anu adalah pria lajang, belum kawin, kesepian, hidup sendiri dan menamai gulingnya dengan nama Inu, maka ketika Si Anu memeluk Si Inu tidak akan menyebabkan hura-hura yang perlu diliput media dan mendapat sorotan serius pemerintah. Tidak. Lain halnya ketika Si Anu berpelukan dengan Si Onu, dunia akan gonjang-ganjing, setiap orang akan membicarakanya, menganalisis menggunakan berbagai macam teori lalu menjadikannya sebuah buku. Mengapa bisa? Ah mudah, Anu dan Onu adalah lawan politik dan masing-masing punya harga diri yang besar untuk saling mengeliminasi. Jika Anu ada Onu raib, jika Onu tampil Anu menyingkir.

Harga diri. Terdengar gagah, kuat, dan teguh. Namun punya konsekuensi yang serius dalam jalinan sebuah hubungan kekerabatan.

Dosen saya pernah bercerita, ia pernah dibentak oleh seorang nenek yang dibantunya di sebuah kereta. Nenek ini punya harga diri yang tinggi dan pertolongan dari dosen saya ini adalah bentuk penghinaan yang tidak bisa ditoleransi.

Masalah ini sebetulnya menghantam saya ketika masih kecil dulu. Ini sangat membingungkan dan mengganggu hidup saya sampai sekarang.

Begini.

Tersebutlah kedatangan tamu tetangga di kampung saya sana, kita sebut Nek Ropi’ah. Nek Ropi’ah ini ibu dari  pihak perempuan tetangga saya. Ia mengunjungi anaknya, menginap kira-kira sebulan lamanya. Orangnya supel, senang membual, dan suka tertawa. Ia sering bertandang ke rumah saya.

Saya perhatikan sepertinya ibu saya dan Nek Ropi’ah ini cocok. Obrolannya nyambung. Bisa bercakap-cakap berjam-jam. Kalau malam-malam ia bertandang, tontonan mereka pun cocok dan serasi: Jangan Rebut Suamiku, sebuah sinetron tahun 90-an yang dibintangi Meriam Bellina.

Ibu saya mungkin melihat sosok ibunya dalam diri Nek Ropi’ah. Bisa pula representasi melankolis seorang anak yang merindu ibunya yang sudah berpulang ketika melihat perempuan uzur. Entah.

Dan perpisahan itu pun tiba. Harus. Mungkin lupa karena simpul ingatannya digasak umur, Nek Ropi’ah pulang tanpa pamit kepada ibu saya. Dan momen yang membingungkan itu pun terjadi.

Saya, dari bilik jendela melihat di kejauhan Nek Ropi’ah menenteng tasnya, lantas berteriak, “Mak, Nek Ropi’ah Balik!” Ibu saya yang sedang masak kaget melihat hal ini. Ia buru-buru ke kamar mengambil uang di dompet lalu menghambur mengejar Nek Ropi’ah.

Dari kejauhan saya liat mereka bercakap-cakap, berpelukan lalu ibu saya menyelipkan uang ke tangan Nek Ropi’ah, nek Ropi’ah menolak. Ibu saya memaksa. Nek Ropi’ah juga memaksa, menolak. Dengan cepat ibu saya menyelipkan uang ke tas Nek Ropi’ah lalu buru-buru ke rumah.

Dan inilah yang saya saksikan: beberapa detik setelah uang terselip di tasnya dan sepersekian detik sebelum ibu saya balik badan, Nek Ropi’ah membuang uang itu ke tengah jalan. Ia berlalu bersamaan dengan berlalunya ibu saya ke rumah.

Di depan pintu rumah, saya lihat ibu saya wajahnya begitu sedu sedan. Mungkin ia sedih, mungkin kesal, mungkin merasa bersalah, mungkin lelah bersetegang. Yang pasti ibu saya punya harga diri untuk menolong orang tua, itu yang membuatnya merasa lengkap. Nenek Ropi’ah punya harga diri untuk mandiri, menolak bantuan orang lain yang ia rasa tidak perlu. Konsekuensinya jelas, seingat saya semenjak saat itu Nek Ropi’ah tidak pernah datang berkunjung ke rumah anaknya. Mungkin ibu saya berlebihan, mungkin Nek Ropi’ah pun berlebihan.

Dan inilah yang mengganggu hidup saya sampai sekarang:

Setelah ibu saya kembali di dapur. Diam-diam saya keluar rumah, melihat sekeliling, membungkuk, lalu memungut, berseru girang,

“Uang jajan!!!”

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: