Pemantik

Bertutur

Seorang teman dengan mata yang hampir menggelinding dari tempatnya, bercerita tentang buku yang baru selesai dibacanya: Orang-Orang Proyek. Lalu merembet ke buku-buku yang lain, Kubah, Bekisar Merah, Ronggeng Dukuh Paruk, dkk. Apa menariknya buku itu, saya bertanya. Ia menjawab, cara bertutur penulisnya sederhana dan ia seorang Jawa. Ia lalu mengait-ngaitkan ada hubungan yang serius antara identitas penulis yang seorang Jawa dengan cara bertutur beliau dalam buku-bukunya. Asumsi ini menarik dan perlu dikaji lebih dalam tapi sayangnya tidak bisa diceritkan panjang lebar disini. Tentu saja bukan ini tempatnya. Dan itu di luar area yang saya fahami.

Ia mengakui menyukai cara bertutur penulis yang sering menulis sesuatu hal yang berlatar pedesaan itu. “Ada kedekatan emosional, mungkin budaya lebih tepat. Gue Jawa dan penulis itu Jawa, jadi nyambung. Jadi bisa dibilang dia itu penulis favorit gue.” Ia mencoba berargumen dan saya merasa ini belum selesai.

Saya tidak salah, ia mulai menerka-nerka, lebih tepatnya menunjuk tanpa keraguan berdasarkan premis yang ia buat, kalau saya pasti menyukai penulis yang secara emosional dekat dengan budaya saya: Melayu. Ia yakin sekali penulis jagoan saya pasti pria berwajah dangdut yang punya obsesi berlebih kepada Rhoma Irama. Saya mengangguk saja.

Hal ini membuat saya berpikir-pikir juga, siapa penulis jagoan saya. Terus terang ini sulit juga untuk orang-orang yang jarang membaca seperti saya ini. Tapi menyenangkan orang lain itu bukan tindakan yang tercela maka sekarang untuk menyenangkan kawan saya itu, inilah penulis (masih hidup) yang cara bertuturnya mendapat tempat di hati saya untuk saat ini. Semoga ia membaca.

*****

Andrea Hirata

Oke. Teman saya itu kiranya benar. Cara bertutur penulis ini memang membuat saya tak berwujud bak terangkatnya setiap sel dari tubuh saya menjadi kata-kata yang berterbarang ke udara, pecah berderai tak karu-karuan. Cerita yang ia tulis terlalu personal, terlalu emosional, terlalu representatif: pria melayu, pendek, punya problem serius dengan perempuan, dan menyimpan pengalaman indah dengan pesona Rhoma Irama.

Terlebas dari itu semua satu hal yang membuat ia menjadi jagoan tak lain dan tak bukan adalah beliau ini entah bagaimana caranya mampu meracik kebahagiaan dan derita menjadi padu. Satu kesatuan. Dua kutub emosi yang dahulu saling bermusuhan kini menjadi sesuatu yang tak berjarak lagi, setidaknya bagi saya. Ganjil ya. Benar-benar absurd. Ya, hidup kadang-kadang mengerikan.

Goenawan Mohamad

Penulis yang satu ini memang hebat. Salah satu pendiri Majalah Tempo, jurnalis, esais, dan seorang kakek yang tiap Senin rajin memberi petuah pada cucu-cucunya dalam Catatan Pinggir.

Saya merasa tulisannya teratur sekaligus acak di satu kesatuan, jernih sekaligus bercabang, mudah dimengerti sekaligus sulit dicerna. Entahlah, membaca tulisan beliau di Catatan Pinggir yang rutin saya baca tiap minggu, saya sepertinya sedang membaca puisi panjang tentang hidup yang membuat bermenung-menung. Mungkin ia betul saat menulis, “Dengan puisi, dengan pasemon, kesusastraan menaruh kita kembali kepada kesaktian dan keterbatasan, menjadi menusia, dan kita pun memilih kata kita sendiri, kediamdirian kita sendiri, kearifan kita sendiri.” (GM dalam Di Sekitar Sajak halaman 43)

Ayu Utami

Seharusnya pertama-tama itu saya membaca Saman, tapi entah mengapa persekongkolan takdir dan bahan bacaan saya yang tengkurap membuat saya membaca Bilangan Fu terlebih dahulu. Novel yang ganjil pikir saya. Dan penulisnya ganjil pula. Mungkin saya salah, biasanya penulis perempuan yang mengaku feminis akan membuat novel yang tokoh utamanya seorang perempuan yang mendobrak tradisi patriarki (atau seorang perempuan yang menjadi korban kejahatan sistem patriarki?) sebagai manisfestasi sikap politik hidupnya. Penulis ini “malah” mengeksplorasi tema-tema seks, religiusitas, sejarah dan hal-hal yang berbau mistis dan tokoh utamanya seorang pria (kecuali Parasit Lajang dan Eks Parasit Lajang). Hemmm.

Baiklah, cara penulis ini bertutur bisa dibilang ajaib dan cocok di hati saya. Sesuatu yang belum saya temui dan terdengar eksotis. Saya faham sekarang mengapa begitu, setelah membaca rubrik yang berisi wawancara beliau di salah satu majalah, penulis ini mengatakan disadari atau tidak cara ia menulis dipengaruhi gaya bertutur Goenawan Mohamad dan Al-Kitab.

Leila S. Chudori

Setelah membaca 2 buku kumpulan cerpen dan satu novelnya, saya berani bertaruh penulis ini pasti menuang obat bius dalam kata-kata yang ia torehkan di bukunya. Bikin mabuk kepayang abangnya boi. Edan. Cara bertuturnya lincah betul dalam membangun cerita-ceritanya yang getir tapi diam-diam tercium aroma harapan.

Selain itu, yang tak kalah serunya adalah tulisan-tulisan beliau di Majalah Tempo di rubrik catatan tentang film. Caranya mengkritik film yang dinilai buruk itu loh, kocak dengan nada sarkasme yang tidak berlebihan, pas. Yang sedang diolok-olok saya pikir akan ikut tertawa membaca tulisan beliau, karena memang ia menembak tepat sasaran tanpa menghina akal sehat yang membaca.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: