Cengengesan Banalisme

Tetek bengek dalam kesoktahuan

Beberapa hari yang lalu saya membaca teenlit (ya memang seginilah kualitas bacaan saya), ada satu frase (atau istilah) yang begitu mengguncang batin: tetek bengek.

Secara teknis, tetek bengek diartikan prihal remeh-temeh yang tak perlu dipusingkan. Dalam kalimat biasanya seperti, “Kami pikir saudara sebagai ketua tidak perlu mengurus tetek bengek ini. Biarkan bawahan anda yang mengerjakannya.”

Saya termasuk golongan yang percaya bahwa makna dari sebuah kata atau frase tidak jatuh tiba-tiba dari langit bak tahi burung yang tiba-tiba terjun begitu bebas dan berkelasnya di atas kepala saya beberapa waktu silam.

Saya merasa tetek bengek mengandung isu yang sensitif lagi problematis. Izinkan saya membongkar ini dengan pertanggungjawaban akademis yang tingkat kesotoyannya absolut.

Tetek bengek jika diurai menjadi dua kata tentu saja yaitu tetek dan bengek.

Tetek menurut Kamus Bahasa Indonesia Dalam Jaringan adalah payudara. Kata ini punya kecenderungan untuk melekat pada kaum hawa karena sifatnya yang fungsional yaitu menyusui bayi.

Bengek, masih Kamus Bahasa Indonesia Dalam Jaringan adalah sesak (nafas), penuh.

Secara serampangan jika dua kata ini dikawin paksa maka maknanya adalah payudara (wanita) yang (bikin) sesak (nafas) = payudara (wanita) yang penuh. Saya boleh bilang tetek bengek bersinonim dengan payudara yang besar.

Ada jarak yang sangat jauh antara makna penggabungan tetek bengek diatas dengan makna tetek bengek yang kita fahami sekarang.

Payudara Besar – – – – -> Prihal Remeh Temeh

Saya punya kemungkinan yang lagi-lagi tidak bisa dipertanggungjawabkan secara moral.

1. Ketika tetek bengek belum dicetuskan, saat itu kondisi masyarakat sedang heboh mengagungkan ukuran payudara seseorang. Semakin besar payudara seseorang, semakin terpandanglah ia. Sebabnya mungkin dengan payudara besar produktifitas ASI semakin melimpah sehingga tidak hanya konsumsi untuk bayi si ibu yang berpayudara besar saja yang tercukupi tetapi juga bayi-bayi tetangganya. Berbagi itu mulia kawan.

2. Lalu ibu-ibu yang berpayudara kecil merasa cemburu, lalu ramai-ramai ke tabib meminta ramuan untuk memperbesar payudaranya.

3. Karena efek obat, produktifitas ASI si ibu menurun, berbanding terbalik dengan ukurannya.

4. Nilai payudara besar yang begitu mulia sudah begitu melekat, termasuk di kepala-kepala kaum adam. Mungkin romantisme masa kecil saat disususi oleh ibu mungkin pula ketenangan yang dijanjikannya. Ketika sudah dewasa romantisme ini menjelma menjadi fantasi. Terjadi pergeseran nilai yang signifikan. Kaum adam secara sadar tidak sadar punya keinginan untuk menikahi wanita berpayudara besar untuk memuaskan fantasinya.

5. Dan patriarki adalah fakta. Perkawinan adalah cara untuk mempertahankan spesies manusia. Ada penawaran ada permintaan.

6. Nilai payudara besar yang bersifat fungsional bergeser menjadi fantasi.

7. Kaum tetua merasa cemas dengan hal ini. Ketika kaum adam memimpikan menikahi kaum hawa yang berpayudara besar, di lain pihak kaum hawa berlomba-lomba memperbesar payudaranya agar tidak terbuang dari persaingan. Maka ini menjadi semacam makian bagi para tetua bahwa payudara besar bersinomin dengan hal yang remeh temeh, sesuatu yang tidak perlu. Saat itulah istilah tetek bengek lahir.

8. Terbelahnya tiga kutub.

Kutub pertama percaya bahwa payudara besar adalah mulia karena ia punya kesempatan berbagi yang lebih dari payudara kecil.

Kutub kedua yakin bahwa payudara besar adalah fantasi yang indah.

Kutub ketiga teguh bahwa payudara besar yang meraka sebut tetek bengek adalah sebuah hal remeh temeh yang tidak perlu.

Kutub pertama punah. Kutub kedua dan ketiga eksis. Berseteru.

9. Dan sampai sekarang istilah tetek bengek berarti hal remeh temeh yang tidak perlu bertahan pada bahasa. Namun sebaliknya nilai pada payudara besar tetap hidup sebagai fantasi yang indah.

10. Begitu problematisnya istilah tetek bengek ini, dicerca pada level istilah namun ia tetap hidup turun-temurun sampai sekarang: di dalam tiap kepala, tiap fantasi, di alam bawah sadar.

11. Siapa yang harus ditunjuk hidungnya karena sengkarut ini? Dengan perspektif bahwa dunia ini patriarkis tentu saja ini semua salah lelaki. Demikian.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: