Masa Muda Adalah Masa Yang Berapi-api

Residu lalu

Saya membolak-balik foto-foto kelulusan. Tersebutlah pria kecil dengan hati mungilnya di sana. Tak ada senyum yang mengembang. Tiada keriangan. Yang ada hanya murung. Muram yang mendurja. Ini tak tepat jika disebut amarah hanya boleh dikatakan duka.

Duka. Mengapa pria kecil itu harus berduka? Saya sudah lupa detail ceritanya. Yang saya ingat pria kecil itu merana karena merasa dibuang sang kekasih hati. Terjungkallah dunianya. Cinta mungkin sempurna tapi asmara sering merana. Sitok tentulah benar adanya.

Nona E

Nona E. Kita sebut dengan begitu saja. Anak pertama dari tiga bersaudara. Pintar ilmu alam. Sedikit pendiam. Perawakan sedang. Enggan disebut ramping, kurus lebih tepat katanya. Memiliki mata yang mencolok nan berbahaya, matanya mampu mengganggu ketenangan saat tidur: matanya itu, ada sendu di situ!

Ia bersepeda ke sekolah bersama teman-temannya dari rumah. Tiga puluh menit ia mengayuh sepeda. Sepeda bewarna biru, biru tua. Sepeda bersejarah, ia bilang. Entah sejarah apa. Entah sejarah siapa. Yang pasti sepeda biru tua itu tak terawat dengan baik. Nona E memang pemalas untuk prihal seperti itu. Ia kesal dengan sejarah sepeda itu. Entah sejarah apa. Entah sejarah siapa. Kita tak perlu tahu.

Dan akhirnya waktu mempertemukan ia dengan si pria kecil. Pria yang banyak tingkah, banyak cakap, dan ia menyukainya. Itu saja.

Banyak hal yang terjadi. Sedikit hal yang mampu diingat. Efek duka yang ditanam diam-diam. Yang bisa diingat saat kelulusan, pria kecil hanya mampu menatap iba hati kecilnya. Berderai begitu rupa. Selesai.

Pria kecil dan nona E sesekali berselisih jalan: berpaling lalu berlalu dengan suasana hati masing-masing.

Dan cerita ini jadi hambar dan begitu kabur.

Pria kecil

Pria kecil baru pulang ke rumah setelah 4 tahun lebih menjalang di negeri orang. Banyak hal yang harus ia lakukan. Bersepakat dengan orang tua tentang keputusan-keputusan penting dalam hidupnya. Belajar berenang. Belajar naik sepeda motor. Belajar memasak. Mendatangi sanak kerabat. Meminta maaf kepada nona E.

Ia mulai menghayal mengetuk pintu rumah nona E. Sepi. Lama sekali ia menunggu. Akhirnya pintu terbuka.

Ia membayangkan nona E bertambah gemuk, tidak kurus seperti dahulu. Sehat lahir batin. Namun mata sendunya bertambah-tambah setelah ibu dan adiknya meninggal dan itu mengganggunya kembali.

Melihat pria kecil di depan pintu rumahnya, nona E bingung bisa jadi ia bertanya dalam hatinya apa yang dilakukan pria kecil durjana ini di sini. Tapi ia perempuan yang santun dan tahu adat. Pria kecil dipersilahkan masuk.

Masih membayangkan, ia berjalan kikuk ke ruang tamu mengunggu dipersilahkan duduk, lalu nona E ke dapur kembali membawa teh manis hangat dengan camilan. Mungkin kacang goreng, kripik pisang, atau kue bawang. Kita tak perlu peduli.

Mereka bercakap dalam Melayu dengan cara paling kikuk dan canggung yang pernah dicatat dalam sejarah komunikasi umat manusia.

“Sunyi ya?”

“Iya sunyi.”

“Jakarta sunyi juga?”

“Iya, Jakarta sunyi juga.”

“…”

“Apa kabar?”

“Baik, kau?”

“Baik juga.”

Pria kecil terkikik membayangkan percakapan seperti ini terjadi seterusnya. Dalam bayangannya ia menyudahi lalu pamit pulang. Sebelum pulang ia menyampaikan sesuatu yang perlu ia katakan,

“Aku minta maaf atas perlakuanku yang tidak selayaknya kau dapatkan. Aku hanya berduka dan saat itu kau tahu, aku masih ingusan, tidak terlalu faham prihal ganjilnya merasai asmara. Ampunilah.”

Pria kecil menyudahi lamunananya. Sampai saat tulisan ini ditulis, lamunannya ini tak pernah jadi kenyataan. Nona E sudah menikah 2 bulan sebelum pria kecil pulang ke rumah. Pria kecil kembali menjalang di negeri orang.

Pada akhirnya nona E adalah ratu tega sedangkan pria kecil adalah lelaki pendendam di ingatan lingkungan pertemanannya. Sejatinya, nona E adalah perempuan yang cepat dewasa yang disalahpahami sedangkan pria kecil hanya segelintir lelaki yang berduka karena asmara.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

4 thoughts on “Residu lalu

  1. Semangat kak Upikid😀

    Tulislah sebuah buku. Aku akan pesan untuk membelinya sebelum buku itu siap di print

    Posted by Krisna Puji Rahmayanti | 1 Mei 2013, 12:03 AM
  2. bang setidakny lw pernah jtuh cinta. bersyukurlah ~:D

    Posted by ChoirunnisakFauziati (@ninisfauziati) | 5 Mei 2013, 9:32 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: