Pemantik

Sugesti

Saya selalu membayangkan dalam matanya terdapat sebuah rumah mungil yang jika dilihat dari depan terpapar sebuah pintu yang diapit dua jendela, di depan pintu terjulur jalur setapak yang ditindih batu kerikil berukuran sedang berpola acak hingga terhenti di sebuah pagar kayu yang berwarna putih kusam, yang apabila dibuka dan ditutup dengan tergesa akan terdengar bunyi derit  konstan yang berulang-ulang, dan semua dikelilingi hamparan rumput yang menjauh.

Saya ingin membayangkan desau nafasnya seperti deru angin di padang rumput yang luas, saat kemarau ada ia membawa denyut yang hangat dari kejauhan, dan ketika musim hujan tiba ia membagi gigil di sela-sela anak rambut di atas tengkuk yang meremang.

Semua mengabur.

Saya tiada mendengarnya di setiap petikan gitar, gesekan violin, gemericing uang receh, tetesan hujan dalam baskom, dengung pendingin komputer jinjing, erangan anak kucing, sorak penonton bola, gemeretak jendela kamar, dan dalam malam yang hening.

Ia kini hilang. Dan saya menjadi bayangbayang.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: