Pemantik

Segenggam batu

Saya terbangun lagi dari mimpi ini, mimpi membunuh ataupun terbunuh. Benci sekali merasakan sensasi yang didapat saat termegap-megap kalut sambil menghitung angka satu, dua, tiga, empat, lima, sampai sepuluh. Meraup kesadaran, memilinnya padu, menyaringnya jadi jernih, ini jasad ada dimana: alam baka, alam mimpi, ataukah alam fana.

Jam berdetak, seirama dengan degub jantung yang kembali normal memompa darah keseluruh tubuh. Semua kini terlihat jelas, hari sudah berganti, sekarang pukul satu lewat sekian. Saya meminum secangkir air mineral, cuci muka, lalu menghambur ke luar kamar. Cari angin, ataupun berjalan tanpa tujuan menyusurin tepian jalan raya.

***

Jalanan ini tak pernah ada sepi-sepinya, 24 jam kendaraan bermotor melintas dengan pongah, pejalan kaki harus sabar jikalau ingin menyebrang. Jika tidak, mudah-mudahan menambah daftar panjang manusia yang meregang nyawa di kerasnya aspal jalanan. Saya boleh berpendapat pejalan kaki adalah strata paling jelata dalam kelas sosial di rimba jalan raya. Boleh dilindas, diserempet, ditabrak, ataupun dimaki-maki tak punya otak.

Saya duduk termangu-mangu di pangkalan ojek, tepat di persimpangan jalan besar dengan jalan gang yang juga cukup lebar. Tak ada seorang pun di sini, sepi. Langit pun tampak sunyi. Tak ada bintang, tiada rembulan, hanya awan kusam yang bergumul-gumul entah apa maunya. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar bunyi gerombolan anjing yang mengais-mengais tempat sampah. Adalah pertanda, maka saya memutuskan untuk segera pulang.

***

Dengan tampang yang tak cocok dicurigai sebagai maling, saya berjalan pelan-pelan. Memperhatikan lekat-lekat bentuk pagar rumah warga, mencemooh sampah yang tak pernah beres dibersihkan, mengomentari dalam hati jalanan baru yang diperlicin menjelang pemilu, bersungut merasai desir angin yang menghantam tengkuk dengan semena-mena. Ini kegiatan rutin orang-orang yang hampir pesong. Sebab Rutinitas yang membuat hidup jadi waras.

Sayangnya rutinitas juga membuat orang jadi sinting.

***

Saya mendengar serak suara knalpot, saya menoleh ke belakang lantas menepi. Melintas dua remaja berpenis bertampang pribumi menunggangi motor buatan jepang yang telah butut dengan kencang. Yang membonceng pura-pura melepaskan tangan, yang dibonceng serta merta memeluk pinggang yang membonceng, nakal sekaligus mesra, ia mengumpat nanti batu yang digenggamnya jatuh. Jagoan.

Beberapa puluh meter tiba-tiba itu motor melambat, dan buk! Batu yang dipegang salah satu jagoan menghantam sebuah sasaran: anjing yang sedang mengais-ngais sampah.

Motor melaju kencang, dua jagoan terkekeh-terkeh, anjing mengaing-ngaing kesakitan, dari kejauhan terburu-buru saya berlari.

***

Lihatlah ini anjing dengan seksama. Kurus kering, mungkin tak bertuan, keluar malam-malam, mengais-ngais sampah mencari makan: Ia terus mengaing-ngaing sambil menggelinjang, dari kepalanya mengucur darah, mungkin tengkorakknya remuk atau retak. Oh, makhluk tuhan yang malang.

Durjana! Apa yang dipikirkan dua keparat ini? Mengganggap diri seolah bocah Palestina yang menimpuki tank tentara Israel dengan batu, atau menyamakan diri seperti jemaah haji yang melempari setan dengan krikil saat melempar jumroh?

Saya mengedarkan pandangan, tak jauh dari situ tergeletak sebongkah batu. Masih ada samar-samar bercak darah. Saya kutip dan saya timang-timang. Cukup berat, keras, bergerigi, dan seukuran genggaman tangan.

Saya memandang ke dalam mata si anjing, begitu jauh, begitu gelap, begitu dingin. Ada kekosongan yang pekat di dalam sana. Sayup-sayup saya mendengar sesuatu, kepala saya berputar-putar, pandangan mengabur dengan cepat. Rasa-rasanya berhenti menjadi ada.

Dan setelah itu, tak yakin betul apa yang terjadi. Yang saya ingat samar-samar: saya menghantam kepala anjing itu berkali-kali, darah menciprat ke muka, tangan yang perih, dan nafas yang terengah-engah.

***

Saya terbangun lagi dari mimpi ini, mimpi membunuh ataupun terbunuh. Benci sekali merasakan sensasi yang didapat saat termegap-megap kalut sambil menghitung angka satu, dua, tiga, empat, lima, sampai sepuluh. Meraup kesadaran, memilinnya padu, menyaringnya jadi jernih, ini jasad ada dimana: alam baka, alam mimpi, ataukah alam fana.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: