Pemantik

Tempat yang sunyi untuk mati

Saya sedang membayangkan melompat dari jembatan. Sebelum melompat saya membentangkan kedua tangan, membiarkan angin menyelinap dari sela jemari, menggerak-gerakkannya, mencoba menikmati dingin yang menyapu permukaan kulit. Kemudian saya melangkah lebih dekat dengan pinggiran besi pegangan, menatap pemandangan di bawahnya,-sederet kerumunan kendaraan yang tak henti-hentinya berlalu-lalang, pejalan kaki yang berjalan tergesa-gesa berebut dengan sepeda motor di trotoar, pedagang asongan yang duduk mengusap keringat- menutup mata, dan terjun.

Saya dapat merasakan tubuh menjadi begitu ringan, tersedot ke dalam sebuah lubang, seolah-olah ada tangan yang sedang menarik dan membanting tubuh saya ke bawah. Sepersekian detik, samar-samar saya merasakan darah membasahi wajah, mengalir mengikuti permukaan yang lebih rendah, pemandangan kaki-kaki yang mengerubuni tubuh saya, suara-suara gumamam yang menjadi desingan, cahaya kerlap-kerlip benderang yang memudar, lalu saya mati. Seperti itu kira-kira.

Namun, akhir seperti ini tidak cocok, terlalu mencolok bagi karakter yang mencari tempat sunyi untuk mati. Maka, saya memikirkan hal lain.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: