Pemantik

Teruntuk Penulis

Seharusnya hal ini saya sampaikan kepada penulis jagoan saya, di pertemuan pertama ketika saya menjadi salah satu peserta di kelas menulisnya. Memandang wajah-wajah yang tak saya kenal, suasana asing dan baru membuat saya gugup tuk berucap, hasilnya saya melantur sedemikan rupa. Hingga seorang peserta kelas di sebelah saya cekikikan melihat kaki saya yang agak gemetaran, keringat bercucuran, dan cara saya memegang mic yang ganjil, seperti siamang memegang pisang. Oh, Tuhan.

Pertemuan pertama itu sebetulnya, seperti pertemuan pertama di konteks yang lain: urusan eksistensi. Saya siapa, sedang sibuk apa, ada kepentingan apa berada di sini. Terus terang saya sudah menyiapkan bahan pembicaraan ketika menunggu giliran. Kebetulan saya memilih barisan paling belakang jadi punya waktu yang panjang untuk menyusun kalimat di dalam kepala. Jika waktu bisa berjalan mundur, mengulang kembali saat saya diberi kesempatan untuk membicarakan urusan eksistensi diri, saya akan seperti ini:

Baik. Sebetulnya saya agak terganggu dengan mic yang sedang saya pegang. Terus terang saya merasa terancam dengan bentuk dan ukurannya. Jikalau diijinkan, bolehlah benda ini saya singkirkan. Nama saya sama seperti name tag yang melekat di dada saya ini. Mungkin suatu saat teman-teman semua menyapa ketika berpapasan di cafe, pusat perbelanjaan, toko buku, ataupun di jalan dan saya terbengong-bengong lalu kabur. Maafkan saya. Saya sedang paranoid dengan perampok yang menghipnotis korbannya dengan pura-pura kenal lalu menepuk pundak yang membuat korbannya linglung. Dan juga saya takut diculik.

Saya tidak sedang sibuk apa-apa. Jika sedikit lebih pintar, mungkin saya akan menjadi filsuf yang memikirkan dunia dan masalah-masalah yang ada di dalamnya. Sedang saya hanya melamun saja seharian, melamunkan mengapa bentuk terong begitu lonjongnya, mengapa tangan saya bisa jadi panjang sebelah, mengapa jempol kaki saya lebih besar sebelah kanan dibandingkan sebelah kiri. Lelah melamun, saya tidur.

Ini yang menjadi penting, mengapa saya ada di sini. Pertama, karena saya tidak ada kegiatan. Kedua, pengajar kelas ini penulis jagoan saya, tentu saja. Ketiga, saya ingin jadi penulis fiksi walau saya yakin akan terkubur seperti keinginan-keinginan yang lain tapi setidaknya saya belajar mencoba.

Menjadi penulis fiksi saya pikir punya daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang begitu lelah dengan hidupnya sendiri, bengkok tak menentu, terombang-ambing oleh nasib yang tidak bisa ia dikendalikan. Dengan menulis fiksi, ia menciptakan tokoh rekaannya, menimbang-nimbang jalan hidupnya, mereka-reka sebab kematiannya. Penulis fiksi begitu digdaya mengendalikan hidup tokoh-tokoh rekaannya. Membuat tokoh-tokohnya lahir, tumbuh, kasmaran, meradang, menderita, lalu dibunuh dengan keji.

Ya,  penulis fiksi merupakan bentuk otentik berpura-pura menjadi tuhan.

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: