Uncategorized

Tentang Jin

Memasuki tahun ketiga SMA, saya pindah kos-kosan. Kosan yang lama tidak kondusif lagi untuk ditinggali. Hal pertama dan paling utama disebabkan putusnya aliran listrik rumah ini karena terlalu lama menunggak tagihan. Dalam riuhnya persiapan ujian kenaikan kelas, belasan hari wajah saya penuh jelaga karena belajar dengan lampu templok. Banyak cerita, drama keluarga ibu kosan yang sungguh terlalu panjang untuk diurai di sini.

Waktu saya mengangkut barang terakhir, ibu kosan berkata dengan mimik yang sedih, “Sering-sering main ke sini.”

“Iya,” saya berbohong dengan mantap.

Sampailah ke rumah ibu kosan yang baru yang hanya beberapa puluh langkah dari kosan lama. Ibu kosan lama masih terlihat melambai-lambaikan tangannya di belakang sana, sementara itu di depan saya ibu kosan baru tampak membuka lengannya lebar-lebar. Menyambut kedatangan. Aduhai. Di momen ini saya merasa spesial.

Beres membongkar muatan dan menaruh di tempat yang seharusnya. Saya menghirup udara kamar kosan baru ini. Meresapi suasana pindah. Yang saya rasakan hanya suasana hati mendatar, seperti papan yang terbujur di lantai. Tiada sentimentil.

Secara umum kamar kosan baru ini terlalu sempit untuk ditinggali tiga orang. Di isi satu lemari memanjang, menyusup dengan gamang jendela yang kelihatan asal- asalan. Dengan dua ranjang bertingkat yang saling bersinggungan membentuk sudut sembilan puluh derajat. Sungguh disayangkan dua ranjang bawah sudah ada yang menempati. Maka saya memilih dua pilihan yag sama sekali tidak ideal.

Ranjang atas pertama bersebelahan dengan lampu kamar yang ditanam dalam di langit kamar. Ranjang yang atas kedua bersebelahn dengan ventilasi udara. Saya memilih tidur menatap pijarnya lampu dibandingkan di suatu saat terbangun demi melihat wajah hantu buruk rupa menyisip dari ventilasi udara. Tidak, terima kasih.

Penghuni kamar ini yang lain saya sudah kenal belumnya di sekolah dan di acara Maulid-an musholah dekat kosan, jadi masalah adaptasi sesama penghuni kosan bukan persoalan agaknya.

Saya keliru. Drama yang lain sedang menunggu ternyata.

Di suatu sore yang damai ditingkahi desau angin yang menyusup di celah rimbunnya pohon mangga di depan kosan, suara ibu-ibu latihan lagu qasidah, tawa anak-anak yang bermain kejar-kejaran, bunyi denting mangkok pejaja bakso keliling serta kucing yang sedang jongkok buang air besar, datanglah penghuni kamar keempat dengan tampang malu-malunya. Mengetuk pintu…

Dan laiknya seorang remaja yang mengikuti norma susila yang berlaku, saya pun berkenalan dengannya.

Di tengah kesibukannya membereskan peralatan, pakaian, buku-bukunya saya dengan senyum lebar berbasa-basi menyapa, ”Mau dibantu?”

“Ah, tidak usah, hampir selesai. Oh iya Jin,” ia menyeringai dengan ganjil seraya menjulurkan tangan.

“Hah, Jin?” Saya menjabat tangannya dengan kebingungan yang sangat. Ada yang tidak beres dengan kuping ini atau mungkin dengan sosok di depan saya yang sedang memamerkan geliginya?

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: