Uncategorized

#2 Tentang Jin

Pada mulanya keberadaan segala hal yang ada di dunia ini tak bernama, tak terdefiniskan, murni, tak tersentuh tangan-tangan jahil manusia. Maka, saat Adam dan Hawa terjun bebas ke bumi, tercerai berai karena satu sebab dan sebab lainnya. Mungkin, dalam himpitan kesepian, mereka melihat sekelilingnya. Mereka-reka apa yang terlihat, didengar, dirasa, dan tersentuh. Dimulailah sebuah awal menanamkan makna dalam wujud kata. Sebuah bahasa yang diajarkan Tuhan di sana kala mereka masih bersama. Pohon, semak, belukar, air, hujan, awan, angin, desau, dingin, panas, rindu, sepi…

Kegiatan menamai serta memaknai hal baru masih terus berlanjut sampai kini oleh penjelajah yang menemukan pulau-pulau baru, ilmuwan-ilmuwan yang menemukan spesies-spesies baru, zat baru, teori baru, planet baru, produk baru, dan yang paling sering adalah dalam sebuah momen yang adiluhung: kelahiran anak manusia.

Tercerabut dari rahim bunda, bayi yang meraung-raung disambut gembira, sumringah wajah orang tuanya, wajah letih dukun beranak, ditimpali baskom berisi  air yang memerah darah, bau amis ari yang baru dipotong, keringat yang tercurah, dan tak lama setelah reda akan terjadi sebuah percakapan penting antara kedua orang tuanya. Yang akan memengaruhi kehidupan Si Bayi seumur hidupnya.

“Kita namai siapa?” Si Ibu masih berbaring seraya menatap hangat putra sulung disampingnya.

“Ireng?” Si Bapak menyahut dengan letih, masih begitu syok dengan pengalaman pertamanya melihat proses melahirkan, menahan-nahan diri agar tidak pingsan karena terpapar begitu banyak cairan dan darah, “Kulitnya begitu legam.”

“Jangan, terlalu berat,” memejamkan mata, Si Ibu mengingat pengalaman masa kecilnya tersesat di tengah hutan saat ikut orang tuanya mencari kayu bakar, “ Jin saja.”

Menganga dalam ketidakpercayaannya, Si Bapak mencoba mengkoreksi apa yang ia dengar, “Jin?”

Dalam kenangan masa kecilnya, Si Ibu diselimuti ketakutan yang sangat saat kehilangan arah, berteriak-teriak meminta tolong, namun yang ia dengar hanya pantulan suaranya. Tak ada sahutan. Ia menangis sesunggukan, air matanya bercucuran tak karuan. Lelah, ia bersandar pada batang pohon besar yang menjulang tinggi dengan daun yang begitu rimbun. Ia menatap langit dari celah rimbunnya pepohonan, hari hampir gelap. Ia sadar tak tahu mau hendak bagaimana lagi. Begitu pasrah, ia menadahkan telapak tangannya, berdo’a kepada Tuhan agar diberi petunjuk jalan yang benar. Jalan menuju rumah. Menepuk-tepuk pahanya, mengumpulkan tenaga, ia bangkit, dan mulai berjalan.

Ketika itulah dari atas kepalanya terpancar cahaya benderang. Petir, pikirnya. Tapi pikiran itu ia bantah sebab sedang tidak mendung hari ini. Ia mendongak. Terlihat sesosok berjubah putih turun dari langit, melayang di hadapannya kini. Malaikat! Serunya girang karena do’anya didengar. Bukan, bukan malaikat. Ujar sosok berjubah putih itu. Ia memperkenalkan dirinya sebagi Jin Muslim, sahabat anak-anak kecil yang tersesat di hutan, dan akan menunjukkan jalan pulang ke rumah. Jin Muslim menggandeng tangannya erat, siap mengantar pulang ke rumah.

Si Ibu membelai Si Bayi sambil tersenyum lalu berbisik lirih, “Ya. Jin.”

About upik

Bujang Melayu.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: