Pendaftaran Kandidat Anggota Umum BPM FISIP UI dan Ketua serta Wakil Ketua BEM FISIP UI

25 Oktober 2009 at 9:34 PM (Uncategorized)

poster_pendaftaran_kandidat

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Hah? Hamil?

31 Juli 2009 at 6:17 PM (cengengesan)

Copy of white-snowAku berdiri di ruangan putih yang luas. Sungguh, sajauh mata memandang tak kulihat ujung dari ruangan ini. Ruangan? Oh tidak, kupikir tak tepat disebut demikian, hamparan luas bewarna putih agaknya lebih tepat.  Aku melongok kekiri-kekanan. Kusapu semua sekelilingku yang bisa dijangkau mata ini. Namun, Tak ada satupun benda hidup maupun mati tertangkap.

Aku diam ,terpaku kaku, tempat apa ini?. Dan amboi!!! Dimana aku sekarang???

Fiuh, bingung, bosan, dan stres membuatku lelah. Kukucek kedua mataku karena perih melihat sesuatu yang tak ada ujungnya.

Hingga, ketika suatu waktu menoleh kebelakang. Aku terperangah. Coba lihat pemandangan ini. Gerombolan besar serdadu saling baku tembak. Mayat bergelimpangan dan suara bom sangat memekakkan telinga.

Sekejap, sekelilingku berubah menjadi pantai yang berbau anyir. Warna air pantai ini bewarna merah. Bisalah ditebak merah karena darah mayat-mayat yang ada diselilingku. Pemandangan ini sungguh sangat mengerikan. Hamparan putih itu telah berubah menjadi pantai yang penuh mayat dan suara desingan peluru juga letakkan bom.

“Anak muda!!! Apa yang lakukan?!” Seseorang serdadu tinggi besar mendatangiku.

“Cepat hancurkan jahanam-jahanam itu!!” ujarnya berteriak di depanku seraya menunjuk sebuah bukit pertahanan yang dia sebut jahanam.

Sebentar-sebentar, Sepertinya aku mengenal orang ini. Lah?  Orang inikan Tom Hanks. Suasana ini pun persis  film saving private ryan yang dibintanginya. Ganjil! Penampilanku sekarang layaknya seorang serdadu dengan senjata laras panjang di tangan kanan. Apakah ini syuting sekuel film itu dan aku terlibat didalamnya?

savingprivateryan

Belum sempat aku berpikir, sebuah bom meledak di depanku. Serta merta berhamburan pasir disekelilingku . Dan kurasakan tubuhku melayang. Apakah ini akhir hayatku.

Hingga saat tubuh ini jatuh dan ku coba tuk berdiri. Lambat laun terdengar sorak-sorai orang ramai. Kulihat sekarang, tangan kananku memegang raket serta berpakian layaknya pemain bulu tangkis. Astaga, aku sekarang berada dalam Istora Senayan Jakarta.

“Yeahhh.., saudara-saudara pertandingan berakhir dengan smash yang tajam. Kemenangan di pihak indonesia!!!!” Rinai suara komentator terdengar sangat bersemangat  dengan nada yang sedikit berlebihan.

“Indonesia..!!!”

“Indonesia..!!!”

“Indonesia..!!!”

15052008973

Gemuruh suara penonton diselingi bunyi-bunyi terompet, galon air minum kosong yang dipukul memenuhi lapangan. Kurasakan nuansa yang membuat gemetar haru biru. Kutatap lambang di kaos sebelah dada kanan, ingin rasanya aku menyanyikan lagu indonesia raya. Sambil membayangkan bendera merah putih yang sedang digerek naik ke puncuk tertinggi tiang bendera.

Layaknya sang jagoan, dengan gagah kudatangi lawan yang menurutku sudah kukalahkan. Disertai senyum mengembang, kujabat erat tangannya.

“Senang bertanding dengan anda..”

“Lo harus menikahiku!!!”

“WAT???” apa-apaan ini.

“Gue gak mau tau, gue udah hamil dan lo harus tanggung jawab!!!”

“HAH? HAMIL??” Keringat dingin mulai mengujur deras di tubuhku. Serasa dunia bergoyang, petir menyambar-nyambar dilantuni suara tangisan bayi.

“Bagaimana bisa? Kita belum pernah … ?” kutatap wanita yang ada didepanku ini dan alamak wanita ini kukenal. Oh tidak, mengapa harus dia.

“lo kan pernah megang tangan gue, megang tangan bisa buat hamil!!!” Ia berkata lirih dengan tatapan nanar.

hamilTunggu dulu sepertinya ada yang salah. Kuingat-ingat kembali pelajaran biologi SMA. Ya, kehamilan terjadi karena adanya proses fertilisasi dimana bertemunya sperma dan sel telur. Lalu, terjadilah pembelahan mitosis dan miosis. Hingga sebilan bulan lebih seorang bayi siap dilahirkan. Jika pegangan tangan bisa menghamilkan, berarti alat kelamin itu berpindah ke tangan.

“Ahahahahahaha, jangan bercanda anak muda..”

“Lo gila ya, dimana-dimana orang berpegangan tangan itu bisa buat hamil” ujarnya sambil menunujukan sebuah video 2 orang, lelaki dan perempuan, berpegangan tangan. Ajaib!! Tiba-tiba si perempuan hamil.

“Kok, bis..biss..bisa?”

“Pokoknya gue gak mau tau. Lo harus nikahin gue. Jika lo lari, ke ujung dunia akan gue kejar!!!!” Dia berteriak histeris di depanku.

Tiba-tiba semuanya jadi gelap, kurasakan tubuhku limbung. Apakah aku pingsan??

Kubuka mata perlahan, kulihat langit-langit kamar yang berwarna putih, kutemaukan diriku sekarang berada di kasur kamar kostan.

Sungguh badanku basah karena peluh. Kucoba mengingat kembali hal yang terjadi. Ah, cuma mimpi. Mimpi buruk.

“Wkwkwkwkwkwkw, Jika memegang tangan bisa membuat hamil, sudah berapa anak dibawah umur yang ku cabuli ya??” Sebauh gumaman dalam hati yang membuatku ingin terbahak kencang.

Permalink & Komentar

Medan, Tempat Peraduan Pertama Si Binatang Jalang.

30 Juli 2009 at 10:06 AM (marwah bangsa melayu)

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau


Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang


Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang


Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri


Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi


Tentu tidak asing lagi siapa empunya puisi ini. Ya siapa lagi kalau bukan si binatang jalang : Chairil Anwar.

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922 dari pasangan Toeles dan Saleha. Umur 20 tahun pindah ke Jakarta ikut ibunya setelah bercerai dengan ayahnya.

Chairil Anwar pernah hidup di Medan, tetapi di mana letak rumahnya masih belum diketahui secara pasti. Hal inilah yang menjadi pertanyaan saya dari dulu dan mungkin saja menjadi pertanyaan saudara-saudara. Hingga, minggu sore kemarin saya terperanjat ketika membaca Kompas minggu di kolom sastra yang di tulis oleh Damiri Mahmud.

Ya, saya menemukan sebuah pencerahan, dimana tempat tinggal Chairil Anwar.

Oke saya mulai saja…

Seperti yang jamak diketahui bahwa seorang pujangga (saya lebih senang menyebutnya begini) tidak melulu menulis puisi tentang kehidupan sosial, dunia, ataupun di luar dari kehidupan pribadinya. Terlebih dari itu pujangga juga menulis puisi tentang kehidupan pribadinya. Begitupula dengan Chairil Anwar. Nah, dari puisinyalah menjadi petujuk untuk  menemukan dimana rumahnya.

***********************

Petunjuk-petunjuk

Rumahku dari unggun-timbun sajak

Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman

Aku tersesat tak dapat jalan

(Bait I dan II sajak rumahku dalam Chairil Anwar, “Aku Ini Binatang Jalang”, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003)

Larik Kulari dari gedong lebar halaman menunjukkan bahwa rumah dia memiliki halaman yang luas. Sebuah rumah gedung dengan halaman luas pada jaman itu di Medan tentu bukan sembarang rumah. Bisa dibilang hanya bangsawan dan pegawai tinggi belanda saja yang memiliki rumah yang bagus. Juga, Chairil  menyebut rumahnya dengan istilah gedong bukan rumah batu bukan pula gedung sebagaimana lazim disebut pada zaman itu. Orang Medan tau bahwa pada masa itu rumah gedong merujuk pada kompleks perumahan Pamong Praja Belanda di Jalan Gajah Mada. Mari kita cermati puisi berikutnya.

Banyak gores belum terputus saja

Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya.

Langit bersih-cerah dan purnama raya..

Sudah itu tempatku tak tentu dimana

Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran

Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran

Hambus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi..!?

(Perhitungan dalam Chairil Anwar, “Aku Ini Binatang Jalang”, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003)

Larik Satu rumah kecil putih dengan pastilah menunjukkan kebagusan rumahnya. Ditambah lagi lampu merah muda caya. Dapat dikatakan rumah chairil memakai penerangan listrik. Listrik pada zaman itu tentu suatu kemewahan dan hanya terdapat pada rumah-rumah orang tertentu saja. Hal ini berbeda jauh jika dibandingkan dengan kebanyakan rumah orang Medan pada zaman itu: rumah papan atau tepas yang beratapkan nipah atau rumbia dengan penerangan lampu teplok ataupun lampu petromaks.

******************

Copy (2) of Copy of S7307105

Sebuah Kontradiksi

Semua petunjuk mengarahkan bahwa rumah Chairil di Medan dulu adalah rumah gedong pamong praja di jalan Gajah Mada. Selesai? Oh sayang sekali tidak. Suasana eksklusif itu bertolak belakang jika kita baca pengakuan Sjamsul Ridwan, seorang sahabat masa kecil Chairil:

“Pantang dikalahkan itulah kira-kira kesimpulan yang saya dapatkan dari kehidupan masa kanak-kanak chairil semenjak kecil hingga beranjak dewasa…

“Dan yang lebih menarik hati lagi, althans bagi kami yang mengenal kehidupan rumah tangga mereka, ialah cara hidup kedua suami istri yang penuh percideraan rumah tangga. Kadang-kadang dua orang suami istri dapat demikian lamanya, bertahun-tahun dengan permusuhan terus menerus..

…Di tengah-tengah api percederaan dan pertengkaran itulah Chairil dibesarkan”

“Kalau Chairil berkelahi, maka bapaknya selalu membenarkan Chairil. Kalau perlu bapaknya juga ikut berkelahi…”

(Arief Budiman, “ Chairil anwar sebuah pertemuan”, pustaka jaya, 1976)

Berbeda sekali Suasana yang dilukiskan oleh kawan dekatnya itu dengan suasana kompleks rumah gedongan. Terlebih lagi kurang masuk akal di “kompleks orang-orang berpangkat itu”  setiap saat kedua orang tuanya perang mulut hingga teman Chairil samapai hapal. Pun yang paling muskil  adalah ketika Chairil berbuat onar, bapaknnya ikut juga berkelahi. Alamak!! Pemandangan ini tentulah lebih tepat di perkampungan rakyat biasa.

Teman Damiri Mahmud (pakcik inilah yg menulis artikel di kolom sastra kompas), Aldian Aripin, mengatakan bahwa diawal-awal tahun enam puluhan selalu diadakan peringatan tentang Chairil. Panitia acara selalu menjemput ibu Charil yang tinggal di Jalan Singamaharaja di sekitar Masjid Raya.

Jika dugaan bahwa sekembali dari Jakarta ibun Chairil kembali menempati rumah lamanya benar. Tepatlah pernyataan Aldian Aripin dengan suasana yang digambarkankan oleh kawan dekat Chairil.

Hal ini juga diperkuat dengan puisi-puisi dan sajak Chairil menunjukkan bahwa ia akrab dengan orang-orang Melayu yang campur baur di perkampungan itu. Lihat saja puisinnya yang penuh dengan suasana diksi dan idiom khas melayu. Coba tengok larik Hambus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi..!. Hambus itu kata kasar yang berarti pergi, minggat, biasanya kata ini sering diucapkan dengan nada membentak. Ya, sangat khas melayu.

******************

Konklusi?

Bah, cemana pula ini. Sebetulnya dimana rumah si binatang jalang ini?

Oke, perhatikan paragraf berikut dan inilah pencerahan dari pakcik Damiri Mahmud yang saya maksud :

“Chairil dibesarkan dan lahir di medan di sekitar masjid raya itu. Karena pasangan Toeles dan Saleha itu tak harmonis, mereka bercerai. Dan ayahnnya, Toeles, menikah lagi. Ibunya, Saleha, pindah ke Jakarta. Chairil ikut ayahnya menempati rumah pamong di “gedong lebar halaman” itu. Karena Toeles sangat mencintai Chairil, lagi pula ia adalah pegawai tinggi (di masa revolusi kemerdekaan dia menjadi bupati Indragiri), ayahnya memasukkan Chairil ke MULO di sekitar Jalan Abdullah Lubis.

Belakangan Chairil tidak cocok dengan ayahnya, lalu minggat ke Jakarta, menyusul ibunya, sebelum menamatkan MULO. Ayahnya menjemputnya, tapi Chairil menolak. Sehingga ayahnya yang temperamental itu berteriak, ‘Hambus kau aku tak perduli, ke Bandung ke Sukabumi…!!”

Permalink 1 Komentar

Preambule: Sebuah Pulau Dalam Gugus Kepulauan Seribu

9 Juli 2009 at 3:40 PM (raun-raun)

100_2884

Hampir dua tahun lebih saya meninggalkan pulau sebelah. Yah, hampir dua tahun. Rindu rumah beserta isinya serta lingkungannya mungkin akan begitu menyiksa jika tidak ditangani dengan khusus. Apa boleh buat bukannya sok jago ataupun angkuh, tapi ini karena masalah finansial serta hal-hal yang tak mungkin ditinggalkan begitu saja. Karena saya tidak pernah bercita-cita jadi penghianat hanya sekedar terobsesi jadi penjahat yang menguasai dunia. Menyebalkan.

Sebagai seorang anak yang hidup dilingkungan pesisir pantai tentu sangat fasih dengan yg bernama laut, walapun belum tentu berbanding lurus dengan kefasihan dalam berenang, tentu saja akan sangat senang jika melihat laut. Dan itu yang ingin saya katakana dari tadi bahwa melihat laut dan pantai serasa berada di kampung halaman.

Yah, cukup sedikit buah melonkolis dari saya. Karena tulisan ini bukan untuk hal sepele seperti itu. Sekali-kali tidak kawan. Tulisan ini sekedar catatan ingatan saya ketika berkunjung ke pulau pramuka, sebuah pulau dalam gugus kepulauan seribu. Jika saya tulis akan seperti ini.

*************

ombakKapal boat itu melaju kencang seolah tak begitu peduli dengan penumpang yang terhuyung-huyung karena mabuk laut. Bagi penduduk yang ingin ke pulau pramuka ataupun ingin ke muara angke dari pulau pramuka. Angkutan laut umum inilah satu-satunya alat transportasi. Tentu saja untuk masyarakat kebanyakan.

Kapal ini merupakan kapal ke dua yang berangkat dari pulau pramuka ke muara angke. Jarak antara keberangkatan pertama dan keberangkatan kedua terpaut cukup jauh. Keberangkatan pertama pukul 07.30 Wib sedangkan keberangkatan ke dua pukul 13.30 wib. Jika terlambat naik ke kapal kau harus bersabar menunggu esok tiba karena hanya ada 2 kali keberangkatan. Tak lebih tak kurang.

Kapal terus bergerak menuju tujuan seluruh penumpang kapal ini. Penumpang kapal ini sebagian adalah penduduk pulau pramuka yang bekerja di Jakarta, sebagian penduduk Jakarta yang “iseng” main ke pulau tersebut. Dan sebagian lagi, ini jarang-jarang terjadi, sekumpulan mahasiswa sebuah universitas negri di depok. Mereka baru selasai rapat kerja sebuah organisasi legislative kampus. Badan perwakilan mahasiswa namanya.

Sebagian mahasiswa ini terpecah menjadi 4 kumpulan.

Kumpulan pertama: ini kumpulan yang paling serius, setidaknya jika dilihat dari jauh. Mereka membentuk semi lingkaran diatas kapal dan sedang melanjutkan rapat koordinasi lanjutan proker-proker serta anggaran dana. Yah, dalam struktur mereka memiliki posisi penting dalam organisasi ini. Setidaknya jika kapal ini tenggelam atau dibom tamatlah organisasi ini. Mereka terdiri dari ketua, wakil ketua, bendahara, sekretaris, serta ketua komisi. Badan pengurus harian jamak digunakan untuk menyebut mereka.

Kumpulan kedua: ini kumpulan paling tenang. Mengapa tenang karena kumpulan ini sedang tidur atau padanan kata yang tepat adalah terkapar tak berdaya karena kelelahan.

Kumpulan ketiga: sama seperti kumpulan kedua, hanya saja posisi mereka bukan diatas kapal melainkan didalam kapal.

Kumpulan keempat: kumpulan ini yang terlihat sehat. Wajah mereka tak menunjukan tanda-tanda kelelahan. Mereka sedang asyik-asyiknya main kartu uno dan tepuk tujuh diburitan kapal boat ini. Ah, permainan yang kekanak-kanakan.

“Pik, ikutan main dong!!” Sebuah suara mengagetkan seorang pria gondrong dari kumpulan ini yag sedang khusuk melamun.

“lo dari tadi meratiin aja”

“Ah, kurang elegan permainan kalian ini..” Ujarnya menolak.

“Halah sombong, bilang aja lo gak bisa main uno”

Sebuah pernyataan yang menusuk.

“Wkwkwkwkwk.., gaklah” Ia mencoba-coba berkelit.

Selanjutnya ia menghindar dan duduk di tepi boat ini seraya memandang laut yg menenangkannya.

ia mengingat-ingat perjalanannya ke pulau pramuka yg kini ia tinggalkan.

Perjalan itu dimulai dari depok ke muara angke. Berlanjut naek Kapal boat kurang lebih 2 jam 30 menit untuk sampai di pulau pramuka.

Sesampainya di pulau pramuka ia dan rombongannya menempati 2 rumah yang cukup nyaman. Lelaki dan prempuan di tempat yang terpisah. Setelah beres-beres rombongan itu menuju pantai guna melihat matahari terbenam. Diselingi sesi foto-foto.

100_2743

Copy of 100_2760

Copy of 100_2849

Malam harinya setelah isoma dimulai rapat kerja yang membahas proker setahun kedepan. Kegiatan ini berlangsung sampai tengah malam.

Bagi para badan pengurus harian rapat terus berlangsung sampai jam menunjukkan pukul 02.00 wib. Sedangkan yang lainnya bergegas tidur, nonton tivi ataupun main kartu jadi kegiatan selanjutnya.

Subuhnya setelah melapor kepada penguasa dunia dan sarapan, mereka bergerak kepantai menyaksikan fenomena langka bagi mahasiswa yang malas bangun pagi: melihat matahari terbit.

Selanjutnya sampai sebelum tengah hari mereka mengadakan sedikit permainan untuk mempekuat hubuhngan lahir dan batin sesama penguruh organisasi ini.

Ketika matahari tegak lurus diatas kepala, mereka kembali ketempat peraduan. Tentu saja setelah beres-beres dan tak lupa melapor terlebih dahulu pada Bos yang menguasai alam raya ini.

*****************

“Oii..”

Lagi-lagi ia kaget.

“Ya..”

“Kak upikk.., ikut maen uno yukkk..” sebuah suara manja yang dibuat-buat dari seorang wanita disampingnya.

My goat, ia bergidik seram.

“Enggak..”

“Ayo dong kak upikkkk..”

“Hoi, kalian apakan ini bocah heh?”

“Ehhmm.., ini kak. Saya kalah main uno jadi hukumannya harus merayu kakak tuk ikutan main juga..”

“Hahahahahahahaha.., sarap!!”

Ia terbahak.

“Kurang oke rayuannya, ayo coba lebih bagus lagi biar saya lihat..”

“Tapi jangan terlalu berharap saya ikutan main yei..”

“Ahahahahahahaha”

Semua yang ada disitu tertawa terbahak melihat  wajah wanita yang memerah tomat seraya tersenyum malu-malu karena dikerjain.

Ia, yang dipanggil upik memandang pulau yang ditinggalkannya.

“Tak akan kubiarkan perjalan ini hanya berbekas diingatanku saja..”

“Jika nyawa masih dikandung badan. Pasti kan kubuat tulisan tentang pulau itu. Pasti…” ia membatin.

Permalink & Komentar

sebuah igauan…

22 Juni 2009 at 2:16 AM (marwah bangsa melayu)

where_rain_grows_by_x_horizonMasih seperti dulu…

Dalam remang memori kosong ini…

Ketika tangannya masih memegang peneduh tubuhnya…

Diselangi  seyum sendu itu…

Dan selalu sayu melihat buliran-buliran dari langit…


Masih seperti dulu…

Dalam memori yang sudah mulai usang ini…

Dia yang selalu bertanya,

Mengapa aku selalu menunggu datangnya tetesan itu..

Dan selalu bahagia jika basah olehnya..

Masih seperti dulu…

Dalam igauan tentangnya..

Yang telah ia kemasi,

Dan  ia bawa pergi

Kini hanyut oleh putaran waktu.

laut

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

ketika aktor politik turun gunung ke layar lebar (3)

21 Juni 2009 at 4:15 PM (cengengesan)

Entahlah saya pikir saya akan merasa sangat berdosa jika tulisan ini tidak saya buat…
Bagaimana tidak, jika para kadidat capres/wapres no.1 dan no.2 saya ajukan menjadi aktor film.
mengapa kandidat no.3 tidak??

Untuk itulah saya berpikir sangat keras.
semingu, dua minggu, tiga minggu, empat minggu.
akhirnya saya menemukan tokoh yg cocok untuk kadidat no.3.

Yah saya menemukan pencerahan ini dikamar mandi.
percayalah saya tidak sedang berdusta.

Saya pikir kamar mandi tempat yg paling bagus untuk mencari inspirasi.
coba tengok archimedes.
dia mendapakan pencerahan dikamar mandi sewaktu menemukan hukum archimedes.
tapi saya tidak akan menjelaskan secara detail bagaimana saya mendapatkan pencerahan itu dikamar mandi.
yodalah yei..

mari kita cek…

Jusuf-Kalla-9ia bernama Muhammad Jusuf Kalla. biasa dipangil pak ucu atau pak kalla.
pria yang lahir di Wattampone Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942 adalah seorang pengusaha dengan bendera “Kalla Group” yang meliputi bisnis berbagai jaringan di beberapa bidang.

pak Kalla adalah wakil Presiden Republik Indonesia saat ini (taulah yah siapa presidennya).

Anak dari pasangan pengusaha Haji Kalla dan Athirah ini sekarang menjadi calon presiden dari partai golkar didampingi pak wiranto untuk bertarung dengan kadidat yg lain termasuk “mantan pasangannya” di pemerintahan sekarang.
pak Kalla Menikah dengan bu Mufidah pada tahun 1967 dan kini menjadi ayah dari lima anak.

pak Kalla bersaudara 16 orang. Semasa menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin hingga menjadi sarjana, pak Kalla sempat menjabat Ketua Umum HMI dan KAMI Ujung Pandang, serta Ketua Senat Fakultas Eekonomi Universitas Hasanuddin.

NV Haji Kalla Trading Company adalah satu dari sedikit perusahaan keluarga yang mampu bertahan hingga generasi kedua. Ayah Jusuf memulai usahanya dengan membuka perusahaan tekstil di Kota Bone, Sulawesi Selatan. Pindah ke Ujung Pandang, ia mendirikan tujuh firma seiring dengan nasionalisasi perusahaan asing. Itulah awal kegiatan mereka di bidang impor ekspor.

Riwayat Karir:

- Direktur Utama NV. Hadji Kalla (1968-2001)
- Direktur Utama PT. Bumi Karsa (1969-2001)
- Komisaris Utama PT. Bukaka Teknik Utama (1988-2001)
- Direktur Utama PT. Bumi Sarana Utama (1988-2001)
- Direktur Utama PT. Kalla Inti Karsa (1993-2001)
- Komisaris Utama PT. Bukaka Singtel International (1995-2001)
- Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI (1999-2000)
- Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (2001-2004)

Organisasi :
- Ketua IKA-UNHAS (1992 s/d sekarang)
- Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan (1985-1998)
- Anggota MPR-RI (1988-2001)
- Ketua Harian Yayasan Islamic Center AI-Markaz (1994 s/d sekarang)
- Anggota Dewan Penasehat ISEI Pusat (2000 s/d sekarang)
- Ketua Umum DPP Partai Golkar (2004-2009)

kekayaan:

sampai 31 Mei 2007:
- Harta tidak bergerak, terdiri dari tanah dan bangunan sebanyak 50 bidang di Makassar dan Kendari sebesar Rp80,3 miliar.
- Harta bergerak yang terdiri dari tiga mobil, sebesar Rp300 juta.
- Peternakan, perikanan, perkebunan, pertanian, kehutanan sebesar Rp1 miliar.
- Harta bergerak lain yang terdiri dari logam mulia, batu mulia dan lain sebagainya, Rp338,7juta.
- Surat berharga sebesar Rp172,62 miliar dengan 13 investasi.
- Giro dan setara kas sebesar USD14.928.

Dengan demikian, total harta yang dimiliki JK sesuai daftar kekayaan periode 2004-2007 sebesar Rp253 miliar dan USD14.928 (ini saya jarah dari situs pemiluindonseia.com)

Data dari tempo yang saya dapat, kekayaan pak kalla sampai saat ini sebesar Rp 314,5 milyar + us$ 25.668.

akan memerankan….

Copy of jusuf kal 2sampai sekarang saya tidak tahu nama lengkapnya. (gela5x, capek saya mencari nama tokoh ini)
tapi yg jelas ia adalah papanya Suneo dan Sunetsugu
papaknya Suneo dan Sunetsugu (okeh saya akan menyebutny begini saja) adalah seorang pengusaha sukses.
Sering keluar negri untuk bisnis.
Juga punya jaringan yang luas dengan orang-orang top.

Ia sangat meyayangi anak-anaknya. Terutama suneo.

anda taukan suneo?
ya itu salah satu tokoh dalam kartun doraemon.

taulah yah, suneo adalah tokoh yg sering unjuk kekayaan didepan teman-temannya.
sedangkan Sunetsugu adalah anak bungsu yg sekolah di Amerika serikat dan percaya bahwa kknya keren.
Suneo memiliki seorang adik laki-laki bernama Sunetsugu.

Sunetsugu tinggal bersama pamannya di Amerika Serikat dan jarang pulang ke Jepang. Meskipun begitu, Suneo dan Sunetsugu sering berkomunikasi lewat surat. Dalam suratnya, Suneo selalu berbohong untuk membanggakan dirinya; misalnya dengan mengatakan bahwa ia adalah anak yang paling pintar di sekolah, paling kuat di lingkungan, dan disukai banyak perempuan

*********************

coba kita lihat dua persamaan kedua tokoh ini:

-sama-sama seorang saudagar

-sayang anak

-memilik ciri khas yg sama (coba liat kumisnya yg mantap itu)

-tokoh yg tidak terlalu terlihat.

Dalam daraemon papanya Suneo jarang terlihat di kartun doraemon walupun perannya besar yaitu memberikan mainan-manian yg diberikan kepada suneo sedangkan pak kalla tidak terlalu terlihat pergerakannya oleh masyarakat ketika bersama pak beye.
Boleh sibilang Ia tertutupi silaunya sinar popularitas pak beye.
Jadi “baiknya” kinerja pemerintah dilekatkan pada pak beye bukan pada pak kalla.
Tapi sekarang dia terlihat lebih eksis setelah pisah dengan pak Beye.

nah, bagaimana pendapat anda??

bangkit perfilman Indonesia
lebih cepat
lebih baek!!!!!!

Permalink & Komentar

ketika aktor politik turun gunung ke layar lebar (2)

21 Juni 2009 at 4:11 PM (cengengesan)

jika anda sedih karena MU dipecundangi el-Barca dalam pertandingan final liga champion tadi pagi, tenang jangan menangis. Dalam pertandingan ada menang ada kalah begituh juga dalam politik ada tangis ada tawa…
karena itu saya ingin mengajak anda tertawa atau minimal tersenyum..
okeh saya akan mulai saja klo begituh..

Demokrasi adalah praktik politik. Sedangkan politik, seperti dikatakan Datuk Lasswell adalah“siapa mendapatkan apa, kapan, dengan cara bagaimana (who gets what, when,how) .

Who diartikan sebagai aktor politik,

gets what sebagai tujuan yang ingin dicapai,

dan when adalah waktu dimana para aktor politik menjalankan peranan politiknya.

Dalam pandangan komunikasi, juga dalam asas demokrasi, salah satu cara (how) aktor politik (who) untuk memperoleh sesuatu (gets what) itu adalah dengan cara berkomunikasi.

Apa yang dimaksud dengan berkomunikasi disini tentunya berhubungan dengan bagaimana para aktor politik memandang pentingnya penggunaan media dalam aktivitas politiknya.

Aktor politik berkepentingan dengan media guna pembentukan pendapat umum (public opinion) dalam rangka mendapatkan pencapaian-pencapaian politik.

Bahkan bisa dikatakan, justru karena kemampuannya membentuk pendapat umum (public opinion) tersebut, maka peranan media massa sangat diperhitungkan dalam suatu sistem politik terutama yang menganut demokrasi.

okeh itu kajian teoritisnya..

sekarang..
saya hanya akan mengatakan bahwa salah satu media massa yaitu film layar lebar juga bisa digunakan aktor politik untuk mendapat simpati masyarakat.

Bagaimana caranya?
yah itu seperti tulisan saya sebelumnya..
aktor politik menjadi aktor layar lebar..
(walaupun bisa juga sebaliknya yaitu: aktor layar lebar menjadi aktor politik)

nah sekarang giliran siapa aktor politik yang akan saya promosikan menjadi aktor layar lebar untuk memerankan tokoh dalam kartun doraemon…

ayo..
ayo..
kita cek..

giant1Dia adalah salah satu tokoh antagonis dalam kartun doraemon. Namanya adalah Takeshi Goda ia biasa dipanggil GIANT.
Seorang pengganggu yang namanya didasarkan pada kata bahasa Inggris giant (raksasa), cepat marah dan sangat senang menyanyi walaupun suaranya kurang memadai.Ia juga sering mengadakan konser atau resital di lapangan dan mengundang semua temannya untuk datang dan mendengarkan, walaupun sebenarnya mereka tidak suka.
Cita-citanya adalah menjadi penyanyi dan bisa tampil di televisi.

Namun dibalik semua itu, Giant adalah seorang anak kuat yang dapat diandalkan ketika teman-temannya berada dalam kesulitan

Selain memasak dan menyanyi, Giant mempunyai hobi yang ia rahasiakan dari teman-temannya: bermain rumah-rumahan dengan boneka-boneka miliknya.

AKAN DIPERANKAN OLEH:

56615_calon_presiden_gerindra_prabowo_subiantoIA BERNAMA Prabowo Subianto Djojohadikusumo lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951. Pak Bowo anak dari begawan ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo ini menikah dengan Titiek Prabowo, anak Presiden Soeharto, akan tetapi (sayang sekali) bercerai. Ia harus mengalami pensiun dini dari Panglima Komando Cadangan Strategi TNI Angkatan Darat.

Hal ini terjadi karena pak bowo diduga bertanggung jawab atas pergerakan pasukan Kostrad di sekitar Rumah Presiden B.J. Habibie. oleh pak wiranto ia dicopot atas petuah dari pak bibie (ini berdasarkan buku detik-detik yang mengairahkan eh maksud saya detik-detik yg menentukan pak bibie..)

Pak bowo adalah calon presiden dalam pemilu presiden Republik Indonesia 2009 dari Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA).
Karena sejumlah kendala politik, akhirnya Pak Bowo bersedia menjadi calon wakil presiden Megawati Soekarnoputri. Pasangan Mega-Prabowo resmi diumumkan 15 Mei 2009 kemaren.

dan mari kita latar belakang pak bowo..

Pendidikan:

SMA: American School In London, U.K. (1969)

Akabri Darat Magelang (1970-1974)

Sekolah Staf Dan Komando TNI-AD

Kursus/Pelatihan:

Kursus Dasar Kecabangan Infanteri (1974).

Kursus Para Komando (1975).

Jump Master (1977).

Kursus Perwira Penyelidik (1977).

Free Fall (1981).

Counter Terorist Course Gsg-9 Germany (1981).

Special Forces Officer Course, Ft. Benning U.S.A. (1981).

Jabatan:

Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (1996-1998).

Panglima Komando Cadangan Strategi TNI Angkatan Darat (1998).

Komandan Sekolah Staf Dan Komando ABRI (1998).

Jabatan Sekarang:

Ketua Umum HKTI periode 2004-2009.

Komisaris Perusahaan Migas Karazanbasmunai di Kazakhstan

Presiden Dan Ceo PT Tidar Kerinci Agung (Perusahaan Produksi Minyak Kelapa Sawit), Jakarta, Indonesia.

Presiden Dan Ceo PT Nusantara Energy (Migas, Pertambangan, Pertanian, Kehutanan Dan Pulp) Jakarta, Indonesia.

Presiden Dan Ceo PT Jaladri Nusantara (Perusahaan Perikanan) Jakarta, Indonesia.

wow..

**************************

yayayayaya..
saya pikir karakter pak bowo dan giant mirip..
dan saya pikir (lagi) jika menjadi aktor layar lebar akan banyak masyarakat simpati terhadap pak bowo..

persamaan:
-dianggap menjadi tokoh antagonis…

-sama-sama mempunyai perawakan tinggi dan gempal..

-mukanya mirip.., (lihat gayanya memegang mic dan pipi tembem lucu itu..)

-jika giant suka tantangan yaitu menyanyi walaupun suaranya pas-pasan..
pak bowo juga suka tantangan:

-memalihara banyak kuda (denger-dengar pak bowo punya kekayaan 1,7 teriliun dan sebagian dari duit itu ia beli puluhan kuda, pertanyaannya tuk apa yah beli kuda banyak-banyak?? )
saya pikir sebuah tantangan memelihara kuda dalam jumlah banyak..

-dan ia juga sedang menantang (bareng bu mega) tokoh favorit (menurt LSI) dalam perpolitkan sekarang yaitu pak beye..

gimanah menurut anda???

mari berjuang untuk rakyat..
bangkit perfilman indonesia!!!!

Permalink 1 Komentar

ketika aktor politik turun gunung ke layar lebar(1)

21 Juni 2009 at 4:08 PM (cengengesan)

jika anda pusing dengan tingkah pola politikus kita.
Pecah kongsi, ngambek-ngambekan, putus-nyambung2 sampai hingar bingar cari jodoh..

santai saja kawan anda tidak sendirian di dunia ini..
banyak orang2 yg merasa sama dengan anda termasuk nenek saya, oia saya lupa nenek saya sudah meninggal..

karena itu untuk mengendorkan sedikit otak yang sudah tegang ini.
Marilah kita ber- hu-ha-hu-ha-ha-ha-la-la-la sedikit tentang salah satu tokoh politik bangsa ini..

ehhmmm..,
setelah saya berselancar di dunia maya, saya menemukan keganjilan..
apa itu yah ini:
ternyata jika doraemon difilmkan dalam versi manusia. Orang yang cocok untuk memainkan tokoh bapaknya nobita adalah pak esbeye.

tak percaya coba dicek..

4315_1159270262876_1261354766_401250_498596_nNama lengkapnya Nobisuke Nobi, seorang pegawai kantoran yang baik dan penyabar. Ketika muda, ia pernah bercita-cita menjadi seorang pelukis bahkan ia sempat berguru kepada seorang pelukis yang terkenal pada akhirnya. Ia pandai berolahraga terutama bermain golf (kok perasaan saya tidak enak menulis olah raga yang berbahaya ini yahh..) tetapi ia sangat bodoh dalam pelajaran sekolah. Ia seorang perokok berat dan kesulitan menghilangkan kebiasaan merokoknya. Sejak lama ia memimpikan untuk memiliki SIM mobil namun selalu gagal mendapatkannya.

Nobisuke selalu mengharapkan Nobita agar tidak menjadi seperti dirinya; seorang pekerja kantoran dan gagal dalam melakukan apapun. Ia sering membelikan Nobi setumpuk ensiklopedia yang kemudian hanya dijadikan pajangan saja. Nobisuke juga suka petualangan, ia juga sering menasihati agar Nobita keluar rumah menikmati hangatnya sinar matahari daripada hanya tidur-tiduran di rumah. Meskipun begitu, ia sangat memanjakan Nobita, ia jarang sekali memarahi Nobi.

4315_1159270662886_1261354766_401251_5779903_nIa lahir di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur pada 9 September 1949 dari anak pasangan Raden Soekotjo dan Siti Habibah. Dari ayahnya, silsilahnya dapat dilacak hingga Pangeran Buwono Keling dari Kerajaan Majapahit dengan RM. Kustilah yang merupakan keturunan Gusti Bandoro Ayu (putri Sri Sultan Hamengkubuwono III.

Seperti ayahnya; Viditaris Sasongko, ia pun berkecimpung di dunia kemiliteran. Selain tinggal di kediaman keluarga di Bogor (Jawa Barat), SBY juga tinggal di Istana Merdeka, Jakarta. Susilo Bambang Yudhoyono menikah dengan Kristiani Herawati yang adalah anak perempuan ketiga Jenderal (Purnawirawan) Sarwo Edhi Wibowo (alm). Komandan militer Jenderal Sarwo Edhi Wibowo turut membantu menumpas PKI (Partai Komunis Indonesia) pada tahun 1965. Dari pernikahan mereka lahir dua anak lelaki, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (lahir 1979) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (lahir 1982).

Agus adalah lulusan dari SMA Taruna Nusantara tahun 1997 dan Akademi Militer Indonesia tahun 2000. Seperti ayahnya, ia juga mendapatkan penghargaan Adhi Mekayasa dan seorang prajurit dengan pangkat Letnan Satu TNI Angkatan Darat yang bertugas di sebuah batalion infantri di Bandung, Jawa Barat. Agus menikahi Anissa Larasati Pohan, seorang aktris yang juga anak dari mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia. (anda tentu tau kasusnya)

Sejak pertengahan 2005, Agus menjalani pendidikan untuk gelar master-nya di Strategic Studies at Institute of Defense and Strategic Studies, Singapura. Anak yang bungsu, Edhie Baskoro lulus dengan gelar ganda dalam Financial Commerce dan Electrical Commerce tahun 2005 dari Curtin University of Technology di Perth, Australia Barat. (denger2 si bungsu ini jadi anggota dewan)

ada beberapa persamaan dari kedua tokoh ini :

@figur ayah yang baik dan bertanggung jawab..
@tipe ayah yang sayang anak
@punya istri 1 (apa ini?)
@memiliki pembawaan yang tenang..
@mempunyai gaya rambut yang sama (lihat belah pingirnya yang sip ituh..)

jadi menurut saya pak esbeye cocok untuk memerankan tokoh bapaknya nobita di film entah kapan di liris..

saya sangat yakin selain jago berdendang mungkin pak esbeye jago juga berakting??
nah bagaimana menurut anda??

MAIN FILM KITA BISA!!!!!!
LANJUTKAN!!!!!!

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

#4. Dari ingatan seorang ayah (1)

5 Mei 2009 at 3:01 AM (masa muda adalah masa yang berapi-api)

Seandainya aku bisa mencabut hatiku dan kukubur didasar sungai ini. Tentu akan kulakukan. Ya tentu akan kulakaukan agar aku tiada merasakan sakit ini lagi.”

(petisi yang diberikan Paulo coulho kepadaku ketika dahulu aku masih ‘muda’ dan terpaku dalam kejahiliyaan)

Prolog

Sebetulnya aku tidak begitu tertarik untuk menceritakan kisah ini kepada kalian kawan. Apa gunanya aku menceritakan prihal kehidupan keluarga temanku . Alih-alih memahami kehidupannya, kutakutkan aku nantinya lancang menceritakan nestapa temanku. Tapi aku tak bisa berbuat banyak, apa boleh buat. Aku harus menceritakan jua.

Hal ini terkait dengan pemintaan anakku. Dia bilang jika dia yang menceritakannya akan terasa mengada-ngada. Bagaimana bisa orang yang masih terbata-bata dalam memahami seluk-beluk tentang keluarga si botak –aih, julukan apa pula yang dia kasih kepadanya– begitu angkuh menceritakan semua kepada kalian. Mumpung aku masih mafhum terhadap kisah ini, mengapa tidak aku saja yang menceritakannya. Begitu kata anakku.

Aku angkat tangan. Menyerah tak bisa menolak. Agaknya dia begitu pintar membujuk dan mempengaruhi aku. Apakah ini ada hubungan dengan pelajaran yang didapatkan di jurusan studinya sekarang. Mungkin saja.

Akan tetapi aku mempunyai permintaan pada anakku. Aku akan menceritakan kisah ini. Dengan syarat semua nama pada keluarga temanku ini, hanya memakai julukan saja tanpa nama yang sebenarnya. Aku pikir tak perlulah aku menjelaskan alasannya, tentu kalian tahu maksudku melakukan ini.

*********************

Senin, 19 september 1988 ketika mentari mulai meredup di ufuk barat di suatu kampung Sumatra Utara.

pohon-mati1

Sesosok pria berumur 30 tahunan terlihat tergesa-gesa dan wajahnya dipenuhi peluh. Aku agak heran dengan tingkah polanya yang tidak seperti biasanya: santai.

Tanpa babibu, dia berteriak-teriak memanggilku dengan panik, “Pak guru!!!Pak guru!!!”

Seperti biasa. Menunggu datangnya waktu sholat magrib berjamaah di langgar, aku biasanya mengobrol-ngobrol di warung kopi. Obrolan yang ringan-ringan sampai yang berat-berat biasanya berputar diwarung kopi ini. Dari kisah sandal jepit yang hilang sampai masalah politik negri ini.

Kudatangi dia, tanpa ikut-ikutan berteriak panik aku menyahut, “Ada apa?”

Lagi-lagi dia berteriak panik, “Buk agama mau melahirkan, udah pecah ketuban!!!”

Sekarang gantian, aku yang berteriak panik, “apa???”

Pak guru disuruh menjemput bidan” ujarnya bergetar hebat tambah panik.

Alamak jang, bagaimana pula ini. Setahuku, rumah bidan dari kampung ini jauh tempatnya. Apalagi tak ada kendaraan bermotor yang bisa dipinjam. Jika aku naik sepeda tak mungkin. Sebetulnya ada seorang dukun beranak di tempatku ini tapi 2 bulan yang lalu sudah meninggal karena sudah tua.

Walaupun panik, aku berpikir, berpikir sangat keras. Kepada siapa pula aku harus minta tolong. Tiba-tiba saja tercetus satu nama di kepalaku: wak IPAH.

Segera kukayuh sepedaku dengan kesetanan menuju rumah wak ipah. Sesampainya di depan rumahnya. Kugedor pintu rumahnya.

Dengan tampang terkaget-keget dia berujar, “Apapula kau ini gelisah kali kutengok bak orang tua kebakaran jenggot”

Biniku mau melahirkan wak, udah pecah ketuban. Aku minta tolong wak bantu dia melahirkan”

Hah? Ayo cepat kita kesana.” Ujarnya mengambil selendang penutup kepala.

Adegan selanjutnya adalah seorang lelaki membonceng ibu-ibu umur 70 tahunan yang berteriak-teriak minta jangan terlalu kencang mengayuh sepeda. Tapi si lelaki sudah tidak peduli dengan teriakan si ibu-ibu itu. Panik sudah melandanya.

***********

Tarik nafas…”

Pelan-pelan..”

Tahan…”

Yaaa, dorong..”

Kata-kata itu yang berulang-ulang keluar dari mulut wak Ipah. Saat-saat normal mungkin aku akan tertawa jika mendengar kalimat-kalimat itu. Akan tetapi tidak untuk saat ini disaat aku harus menenangkan dan menemani istriku. Walaupun aku tahu ini antara hidup dan mati dua nyawa manusia: istri dan anak keduaku.

Kasihan sekali istriku agaknya dia merasakan kesakitan yang amat sangat. Sambil meringis-ringis kesakitan dia remas-remas tanganku. Tapi apa dayaku aku hanya bisa berdo’a dalam hati agar semua ini baik-baik saja.

Tarik nafas..”

Pelan-pelan..”

Tahan..”

Yaaa, dorong..”

Istriku berteriak sejadi-jadinya. Dan sejurus kemudian terdengar suara tangisan bayi. Inilah momen yang ditunggu oleh orang tua. Saat anaknya lahir dengan selamat. Buru-buru wak ipah memberikan si bayi dalam dekapan ibunya.

Amboi, montok nian anak keduaku ini dan ia berjenis kelamin lelaki. Ya sekarang aku memiliki dua orang anak lelaki yang memiliki jarak umur 1 tahun. Dan juga nama perempuan yang sudah disiapkan oleh istriku selayaknya tidak bisa dilekatkan padanya.

Kulihat isriku, terlihat sangat lelah dan letih namun wajahnya sumringah, bahagia melihat anaknya selamat. Kubisikkan sesuatu ditelinganya, “Agaknya nama Sri Rizki harus kita ganti..”. Mendengar kelakarku yang tidak lucu, dia hanya tersenyum.

Allahuakbar…”

Alahuakbar…”

Sayup-sayup terdengar suara adzan magrib seperti layaknya pengiring kelahiran anakku. Itulah salah satu alasan nama belakang anakku Akbar. Mengambil dari kalimat pertama kata kedua adzan. Karena ketika dia lahir suara adzan menggema di penjuru bumi.

masa-kecil-a

Permalink & Komentar

#3.5 Simfoni sisipan: untuk mereka yang ada disana

31 Maret 2009 at 4:06 PM (masa muda adalah masa yang berapi-api)

polonia

Seorang lelaki paruh baya mendekati dan menyentuh pundakku kuat,

“Kau sudah besar nak, ada tanggung jawab yang kau pikul di pundakmu. Kau takkan bisa lari dari tanggung jawab itu. Lihatlah berapa banyak orang yang berharap saat kau kembali nanti. Mereka berharap kau bisa merubah tanah ini. Tanah yang memberimu makan, tanah yang memberikanmu minum dan tanah yang memberikan segala yang kau inginkan agar terlihat menjadi lebih baik. Setidaknya untuk generasi-generasi yang akan datang.” Nafasnya tertahan seolah dadanya diimpit batu besar dengan tersengal-sengal ia melanjutkan.

“Jangan pernah kau berpikir untuk membalas hutang budi padaku. Jika kau ingin membalasnya jangan kau berikan padaku tapi berilah pada anakmu kelak.” Ia menghembuskan nafas panjang yang berat. Selanjutnya memelukku erat seolah tak ingin dia lepas. Setelah beberapa saat ia lepas pelan. Sambil tersenyum dia memandangku teduh.

Disebelahnya seorang wanita mendekati paruh baya menghampiriku juga,

“Dek, walaupun kau pergi ke kota yang modern jangan pernah kau tinggalkan agama. Sehebat apapun manusia, sepintar apapun manusia tanpa agama tak ada gunanya. Jangan kau pakai narkoba, jangan kau main wanita. Sholat jangan kau tinggalkan. Al-qur’an setidaknya kau baca 1 lembar sehari minimal 1 ayat sehari.” Dengan linangan air mata, ia cium kedua pipiku. Kurasakan aku menjadi anak-anak kembali, saat dulu dia menciumku setelah selesai memandikan dan membedaki seluruh tubuhku.

Jam keberangkatan hampir tiba, aku mulai melangkahkan kaki menuju pintu masuk bandara di ruang tunggu. Ahh.. mengapa keberangkatanku ini menjadi seperti mengebumikan mayat. Sedih. Keceriaan menjadi sesuatu yang pantang.

Ya, takkan kubiarkan sepenggal kisah ini menjadi haru-biru bak kisah telenovela. Jika mereka memberikan petuah-petuah terakhir. Apa salahnya aku membecandainya sebelum aku meninggalkan tempat ini . Ketika akan masuk ke pintu ruang tunggu. Kubalikkan badan dan berteriak aku sejadi-jadinya.

“Mak, pa. Selamat jadi pengantin baru lagi yaaaa!!!!!”

(Bandar Udara Polonia, 6 Agustus 2007. Sebelum aku meninggalkan tanah itu dan sampai sekarang aku belum pernah kembali ke tanah itu)

Permalink 1 Komentar

Next page »